MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Minggu, Maret 1, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home News

Mualaf Roger Garaudy Menulis Buku yang Membuat Zionis ‘Kebakaran Jenggot’

Redaksi by Redaksi
17 November 2020
in News
0
Mualaf Roger Garaudy Menulis Buku yang Membuat Zionis ‘Kebakaran Jenggot’

Roger Garaudy

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Roger Garaudy merupakan seorang pakar dari Prancis yang mendedikasikan hidupnya untuk Islam setelah mengikrarkan syahadat pada 1982.

Karya-karnya menginspirasi, bahkan terdapat buku yang membuat Zionis berang, yaitu The Founding Myths of Israel Policy (edisi Inggris 1997) bahwa banyak wilayah-wilayah Israel yang steril dari bangsa Arab, yaitu wilayah seperti kota-kota Carmiel, Nazareth, Illith, Hatzor, Arad, Mitzpehn-Ramen, dan lain-lainnya.

RelatedPosts

BlindVision Hadir di SLB Negeri Banda Aceh, Tongkat Pintar Bantu Mobilitas Siswa Tunanetra

Akses Terputus, Warga Gayo Setie Bangkit di Tengah Keterbatasan Pascabencana

Sampel MBG Simpang Mamplam Diuji BBPOM Aceh, Hasil Keluar 4–5 Hari

Hal ini bukan karena bangsa Arab takut untuk berdomisili di sana, melainkan karena memang undang-undang tidak membolehkan mereka (hlm. 95).

Dengan diskriminasi telanjang Israel seperti ini, wajar bila Koran Davar (8/10/1991) mengatakan bahwa 46 persen keluarga Arab di Israel hidup di bawah garis kemiskinan dan dengan perbandingan hanya delapan persen keluarga Yahudi mengalami hal serupa.

Hal ini, menurut harian Yahudi itu, bukan terjadi secara alami, melainkan karena ulah politik dan kebijaksanaan Zionis dalam menghancurkan fondasi material dan ekonomi Arab di Palestina. Bahkan, ini merupakan bagian dari upaya melenyapkan eksistensi mereka secara keseluruhan.

Dasar rasisme Zionis Mencermati fenomena rasisme di tubuh entitas Israel tidaklah terlalu aneh bila hal itu kita rujukan pada hal-hal yang mendasarinya. Apalagi, negara ini memang berdiri di atas fondasi mitos bahwa “Suatu negeri tanah tanpa warga untuk warga tanpa negeri.”

Mitos ini tidak berada di dunia periferal, tapi berdasarkan pada postulasi yang ditulis di dalam kitab Genesis mereka (15:18-21) yang mengatakan, “Tuhan telah bersekutu dengan Abraham dalam kalimatnya.

Hal ini teruntuk keturunanmu bahwa Aku berikan negeri ini, dari sungai Mesir (Nil) hingga ke sungai besar, sungai Eufrat.” (R Garaudy hlm. 91). Hal ini berarti bahwa satu juta lebih bangsa Palestina, Kristen, dan Yahudi yang sama-sama hidup bersama sebelum terjadi eksodus kaum Zionis ke bumi Palestina dianggap tidak ada.

Menurut hemat Omer bin Abdullah, ini berarti bahwa Zionis hanya mengakui bangsa Yahudi yang dikualifikasi sebagai human, sementara non-Yahudi tidak.

Kalau tidak demikian, mengapa Palestina disebut dengan a land without people? Hal ini dipertegas lagi oleh Perdana Menteri Zionis pertama Israel, Mrs Golda Meir, dalam pernyataannya di The Sunday Times (June 15, 1969) bawha “Tidak ada bangsa yang disebut warga Palestina… Ini bukan berarti kedatangan kami yang telah mengusir mereka. Tapi memang mereka tidak ada.”

(Roger Garaudy, p. 91) Pasal 4 b undang-undang dasar negara Israel mendefinisikan bahwa “Seseorang dianggap sebagai Yahudi bila ia lahir dari seorang ibu Yahudi atau telah murtad.”

Yang paling ditakuti dan dimusuhi oleh para pimpinan Zionis adalah asimilasi. (R Garaudy, hlm. 25 dan 36). Hal ini dianggap sebagai kesuksesan Theodore Herzl, sang god-father Zionis, yang telah berhasil mengubah definisi Yahudi dari status agama menjadi suatu trademark ras unggulan.

Dengan demikian, kendati perjalanan PBB dan yang paling mutakhir dengan konferensinya di Durban gagal untuk mengutuk rasisme Israel, tapi kita layak untuk bertanya, salahkah bila kita berkesimpulan bahwa Zionism is a form of racism and racial discrimination? Hanya Tuhan yang lebih tahu.[]

REPUBLIKA

Tags: ilmuwanIsraelMualafPalestinapenelitiRoger Garaudyzionis
Previous Post

Kasus Konfirmasi Baru Covid Aceh Bertambah 21

Next Post

Jumlah Sekolah yang Akan Belajar Tatap Muka Meningkat

Related Posts

Di Balik Gencatan Senjata, Asa dan Air Mata Anak-Anak Gaza

by Ahmad Mufti
28 Oktober 2025
0

MASAKINI.CO – Meskipun gencatan senjata telah disepakati, kondisi kesehatan di Gaza tetap memprihatinkan, terutama bagi anak-anak. Banyak nyawa terancam akibat...

Juru bicara militer baru Brigade Al-Quds, Abu Hamza.

Juru bicara militer baru Brigade Al-Quds, Abu Hamza.

by Ahmad Mufti
23 Oktober 2025
0

MASAKINI.CO – Abu Hamza, juru bicara Al-Quds Brigades, menyampaikan pidato duka cita yang penuh semangat, menegaskan kembali tekad kelompok tersebut...

Israel Kembalikan 135 Jenazah Warga Palestina dalam Kondisi Mutilasi

by Ahmad Mufti
22 Oktober 2025
0

MASAKINI.CO – Sebuah laporan dari Al-Mayadeen TV English mengindikasikan bahwa Israel telah mengembalikan 135 jenazah warga Palestina dalam keadaan termutilasi....

Next Post
Jumlah Sekolah yang Akan Belajar Tatap Muka Meningkat

Jumlah Sekolah yang Akan Belajar Tatap Muka Meningkat

Tarawih dan Doa Dalam Cemas Corona

Sultan Perak, Akhirnya Setujui Shalat Jumat di Masjid

Discussion about this post

CERITA

Singkirkan 4.000 Peserta, Reza Wakili Indonesia ke Rusia

27 Februari 2026
Ismatul Rahmi pemeran Hasanah dalam dokudrama NOEH | Foto: dok pribadi

Air Mata Hasanah, Luka yang Tak Terlihat dalam Film Noeh

17 Februari 2026

Menembus Batas Negeri, Perjalanan Naufal Maulana Menggapai Beasiswa Pemerintah Rusia

14 Februari 2026

Meugang, Tradisi Turun-Temurun Aceh Menyambut Ramadan

4 Februari 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co