MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Kamis, Agustus 20, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home Headline

Urban Farming di Jantung Kutaraja

Redaksi by Redaksi
26 Oktober 2021
in Headline
0
Urban Farming di Jantung Kutaraja

Kebun di tengah kota Banda Aceh, Urban Farming KamiKITA. (foto: masakini.co/Missanur Refasesa)

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Seorang perempuan berkacamata, umur dua puluhan tahun sedang memasukkan pupuk kompos ke dalam polybag saat saya berjalan mendekat. Ia menghentikan aktivitasnya, bertanya “ada yang bisa dibantu, kak?” ujarnya tersenyum.

Di atas kepalanya bergelantungan buah gambas. Di sisi kanannya, pipa-pipa paralon bolong berisi air berderet, beberapa benih kangkung tampak mulai tumbuh.

RelatedPosts

Pejabat Inspektorat Banda Aceh Diberhentikan Usai Jadi Tersangka

Pejabat Inspektorat dan Mahasiswa Kampus Swasta Ditahan Kasus Sesama Jenis, Kasur Lipat Jadi Barang Bukti

Upacara HUT ke-81 RI Berlangsung Khidmat, Fadhlullah Jadi Inspektur

Tiga meter dari tempatnya berdiri, berbagai jenis sayuran dan buah-buahan tumbuh. Pisang, pepaya, terong, basil, selada, bunga telang, bunga matahari, juga kelor.

Berbagai hasil tanaman di urban farming KamiKITA. (foto: masakini.co/Missanur Refasesa)
Berbagai hasil tanaman sayur di urban farming KamiKITA. (foto: masakini.co/Missanur Refasesa)

Lokasi perkebunan kali ini berbeda. Letaknya di tengah kota, tepat dari lorong samping sekolah Methodist Banda Aceh, lurus menuju ujung jalan sebelah kiri. Tiba di kanan jalan, berdiri tembok putih setinggi 5 meter. Menutupi habis seluruh area perkebunan.

“Ini bukan lahan pertanian, kalau dikeruk 30-40 sentimeter itu masih semen. Dulu, ini pabrik genteng,” ujar Henny Cahyanti, perempuan Jawa berdarah Cina, pengelola tempat ini.

Bulan Ramadan tahun lalu, Henny masih ingat betul, stok makanan dan sayur-mayur di pasar menipis. Ia sadar selama ini pasar-pasar di Banda Aceh bergantung pada pasokan dari Berastagi, Sumatera Utara.

Tanaman bunga di urban farming KamiKITA. (foto: masakini.co/Missanur Refasesa)
Tanaman bunga di urban farming KamiKITA. (foto: masakini.co/Missanur Refasesa)

Awalnya, pertanian di daerah perkotaan atau yang lebih dikenal dengan sebutan urban farming ini hanya ia lakukan bersama beberapa temannya yang punya lahan di rumah. Lalu, bersama rekan-rekan dari Yayasan  Sumber Utama (yayasan yang bergerak di bidang sosial kemanusiaan), Henny menyewa tanah milik tuha peut (pengawas kinerja pejabat kampung di Aceh) setempat untuk ditanami.

Lahan tersebut kemudian mereka namai KamiKITA. Kata henny, filosofinya sederhana, kami tanam kita makan. Henny bertekad tidak ada lagi masyarakat yang menganggap sayur mahal.

Di kamiKITA, sayuran dapat ditukar dengan berbagai jenis sampah mulai dari botol plastik, baju bekas, spanduk, pintu, jendela, kayu, daun, dahan, ranting, hingga ampas kopi.

Yayasan Sumber Utama yang menyewa lahan di BAnda Aceh untuk urban farming KamiKITA. (foto: masakini.co/Missanur Refasesa)
Yayasan Sumber Utama yang menyewa lahan di BAnda Aceh untuk urban farming KamiKITA. (foto: masakini.co/Missanur Refasesa)

“Yang sekarang sedang kita galakkan ampas kopi. Yang bisa menyembuhkan tanah itu nitrogen, dapatnya dari kotoran hewan dan ampas kopi,” ujarnya sembari mengkalkulasi ratusan warung kopi di Banda Aceh, yang bisa menghasilkan ampas kopi.

Henny mengajak saya berkeliling. Tiba di sisi kanan kebun, empat sarang lebah dari kayu berdiri berjarak. Tidak jauh dari sana, bunga ‘air mata pengantin’ bergelantungan di bambu-bambu penyangga. “Ini kesukaan lebah-lebah. Kita budidaya lebah juga untuk penyerbukan,” ucap Henny.

Kicauan burung menghentikan langkahnya, ia menunjuk ke langit “aku seneng banget dengar suaranya, enggak ada loh kayak gini di tengah kota,” selorohnya.

Lorong menuju kebun urban farming KamiKITA. (foto: masakini.co/Missanur Refasesa)
Lorong menuju kebun urban farming KamiKITA. (foto: masakini.co/Missanur Refasesa)

Lahan pertanian, warung kopi bebas rokok, bengkel daur ulang, dan lapangan basket ada di atas lahan seluas 50 x 30 meter ini. Di sudut belakang, terdapat lahan pembuatan pupuk kompos. Tumpukan kayu dan dedaunan pemberian warga sekitar dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Aceh kemudian diproses untuk dijadikan pupuk organik.

“Semua di sini berbasis organik, kita buat pupuk sendiri, pestisida juga sendiri,” kata Henny.

Di tengah obrolan, seorang laki-laki paruh baya bergabung. Namanya Edi Suranta Ginting. Kata Henny, Edi adalah otak dibalik urban farming KamiKITA, sementara dia adalah supporter.

Pengelola urban farming KamiKITA sedang mengolah pupuk untuk tanaman. (foto: masakini.co/Missanur Refasesa)
Pengelola urban farming KamiKITA sedang mengolah pupuk untuk tanaman. (foto: masakini.co/Missanur Refasesa)

Berasal dari keluarga petani, Edi ingin mengembalikan hasil pertanian organik dan tidak mengandung zat-zat kimia untuk bisa dikonsumsi oleh banyak orang. “Kita berusaha untuk tidak bergantung ke bibit pabrikan. Sejak Orde Baru bibit itu direkayasa genetik sehingga tidak bisa menghasilkan bibit baru. Jadi sekarang kita usaha balikin, pakai bibit sendiri,” ucap Edi.

Terbukti, sejak awal lahan dibuka untuk ditanami, mereka menerima bibit pemberian warga sekitar lalu kemudian dibudidayakan. Salah satunya biji bunga matahari. Puluhan bunga matahari yang saat ini tumbuh awalnya berasal dari lima biji bunga matahari yang diberikan warga.

Kini, biji-biji tersebut juga mereka tanami menjadi microgreen sunflower, tumbuhan kecil dengan nutrisi berlipat dan menjanjikan secara ekonomi.

Pengunjung yang datang dan membeli sesuatu dari kebun KamiKITA tidak akan diberikan plastik untuk wadah belanjaan. Sayuran dibungkus menggunakan koran atau pengunjung membawa kantong belanjaannya sendiri. “Sederhana, kita cuma mau semua kembali ke alam,” tutur Henny mengakhiri obrolan kami sore itu di pertengahan Oktober 2021.

Tags: acehBanda AcehKutarajaUrban FarmingUrban Farming KamiKITA
Previous Post

Kadisdik Lantik Pengurus Korwas Aceh Periode 2021-2024

Next Post

Kunjungi TK Al-Kawanad, Illiza Serahkan Alat Peraga PAUD

Related Posts

Warga Rasakan Manfaat SALEUM, Laporan Warga Direspon Cepat

by Redaksi
19 Agustus 2026
0

MASAKINI.CO — Kanal pengaduan Pemerintah Kota Banda Aceh, SALEUM (Sarana Aduan Layanan Elektronik untuk Masyarakat), mulai dimanfaatkan warga untuk menyampaikan...

Pemko Banda Aceh Tertibkan Kios dan Bangunan Liar di Jalan Kopelma Darussalam

by Aininadhirah
23 Juli 2026
0

MASAKINI.CO – Pemerintah Kota Banda Aceh mulai melakukan penertiban dan pembongkaran kios serta bangunan yang berdiri di kawasan Jalan Kopelma...

Hari Anak Nasional, Hutan Kota Banda Aceh Disulap Jadi Ruang Belajar Alam

by Riska Zulfira
19 Juli 2026
0

MASAKINI.CO – Hutan Kota Tibang disulap menjadi ruang belajar alam bagi ratusan anak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dari berbagai...

Next Post
Kunjungi TK Al-Kawanad, Illiza Serahkan Alat Peraga PAUD

Kunjungi TK Al-Kawanad, Illiza Serahkan Alat Peraga PAUD

Sembilan Desa di Aceh Tenggara Terendam Banjir

Sembilan Desa di Aceh Tenggara Terendam Banjir

Discussion about this post

CERITA

Dari Banda Aceh ke Pelosok Papua, Reza Mencari Potensi yang Tersembunyi di Teluk Wondama

12 Agustus 2026

Sepuluh Tahun Menjaga Tradisi Merah Putih, Kisah Safura Merawat Rezeki dari Lapak Bendera

4 Agustus 2026

Liberika Tangse, Kopi Langka Beraroma Nangka

20 Juli 2026

Dari Lhoknga, Anyaman Bambu Menganyam Jalan ke Pasar Dunia

19 Juli 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co

 

Memuat Komentar...