MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Rabu, Juni 10, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home Cerita

“Tungang” Si Penjaga Ornamen Khas Makam Raja

Masa Kini by Masa Kini
29 Mei 2023
in Cerita, Headline
0

Iskandar pria yang terobsesi dengan ornamen pada nisan kerajaan.(Rino Abonita/masakini.co)

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Iskandar sibuk memilah-milah tumpukan kertas yang berserakan di atas lantai. Ia terlihat bersemangat dan tidak sabaran hendak menunjukan sketsa ornamen.

Sketsa-sketsa bermotif floral yang digambar dengan kuas itu, hasil pekerjaan yang selama ini dicicilnya. Rata-rata dibuat dengan tinta Cina.

RelatedPosts

Harga Pertamax Melonjak, Pengguna di Aceh Besar Mulai Beralih ke Pertalite

Tujuh Dapur MBG di Banda Aceh Tutup Sementara Akibat Dana Operasional Belum Cair

Karhutla di Nagan Raya Meluas 95 Hektar, Pemadaman Terkendala Angin Kencang

“Tidak lama, paling dalam dua hari semua sketsa-sketsa ini bisa langsung saya selesaikan,” kata pria yang akrab disapa Tungang itu sesumbar di markas Mapesa, Banda Aceh, Minggu petang (28/5/2023).

Pria yang punya lekukan kumis seperti ujung sepatu Aladin ini, belakangan memang sering berurusan dengan batu nisan. Terutama milik makam-makam kuno dari era kerajaan Islam di Aceh: dari abad 14 sampai 19.

Hal ini digelutinya sejak awal 2022. Namun, apa yang dilakukannya tidak berfokus pada pemugaran situs-situs bersejarah.

Iskandar menunjukan sketsa ornamen yang diambil dari ukiran nisan era kerajaan Islam.(Rino Abonita/masakini.co)

Pelbagai petilasan yang dilakukan Tungang merupakan upaya untuk memindahkan corak ornamen yang tertera pada nisan-nisan kuno tersebut ke medium lain.

“Pertama saya bikin sketsa terlebih dahulu di atas kertas. Banyak di antara sketsa ini berdasarkan pada foto-foto batu nisan yang kami kunjungi. Selanjutnya, ornamen itu dipindahkan ke pelbagai material seperti batang kayu,” terang Tungang.

Salah satu wujud salinan ornamen yang ia maksud dapat dilihat di Kamp Kulu, tempat Tungang dan teman-temannya mengerjakan kriya kayu. Kamp ini berada di tengah permukiman penduduk Gampong Beurawe, Banda Aceh.

Di sana, terdapat sejumlah balok kayu yang tampak telah dipahat ke dalam corak tertentu. Kayu-kayu tersebut dibiarkan menumpuk di halaman.

“Yang paling atas itu pola pahatannya diambil dari makam zaman Kerajaaan Aceh Darussalam. Yang di bawahnya, dari Kerajaan Samudera Pasai,” terang Tungang sembari menunjuk-nunjuk ke arah balok-balok tersebut.

Menurut Tungang, setiap era punya kekhasannya masing-masing. Ornamen khas Aceh Darussalam, dari segi pengaplikasian tampak lebih meriah, tetapi lebih minim secara simbolik.

“Namun, kalau dari Kerajaan Pasai, secara pengaplikasian memang lebih sedikit, tetapi secara simbolik lebih dominan atau menonjol,” tukasnya.

Kompleksitas dekorasi nisan Kerajaan Aceh Darussalam ini, menurut Tungang, diakibatkan kerajaan tersebut datang setelah Lamuri dan Pasai. Artinya, patron-patron tersebut merupakan hasil dari mengeksplorasi corak dari era kerajaan sebelumnya.

Tungang tercatat sebagai tenaga pengajar di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh. Namun, ketika melihat latar belakang akademiknya, maka apa yang dilakoninya saat ini terdengar tidak linier.

“Saya adalah lulusan Pengkajian Seni Rupa dan Desain. Saya prodi Desain Komunikasi Visual,” terang Tungang.

Balok kayu berisi pahatan berupa ornamen yang diambil dari ukiran nisan kuno era kerajaan Islam.(Rino Abonita/masakini.co)

Tungang sendiri kurang berkenan jika ia disebut melenceng dari peta akademiknya sendiri. Baginya, kriya kayu berjalin kelindan dengan Desain Komunikasi Visual yang digelutinya di kampus.

“Semuanya saling berkaitan,” katanya.

Alasan mengapa dirinya tertarik dengan ukiran ornamen yang ada pada nisan-nisan kuno terdengar klise. Ada getaran spiritual yang merayap ke sekujur tubuhnya sewaktu menatap nisan-nisan tersebut.

Bermula dari rasa kagum, hati Tungang tergerak untuk menjaga eksistensi nisan-nisan tersebut dengan menyelamatkan ornamennya. Dan, di sanalah Tungang berada saat ini.

Rasa cintanya tidak diragukan lagi. Lelaki itu bahkan menginisiasi Festival Ornamen Aceh yang rencananya akan digelar di Museum Tsunami Aceh Juni ini.

“Dalam festival itu nanti semua kita hadirkan. Termasuk ornamen-ornamen dari masa lampau,” ujar Tungang.

Penulis: Rino Abonita

Tags: Aceh DarussalamIskandarMakam RajaOrnamen Makam RajaSamudera PasaiTungang
Previous Post

PSSI Rekrut Direktur Teknis Asal Jerman

Next Post

Cerita Muhammad Taher, Jemaah Haji Tertua Usia 100 Tahun dari Aceh

Related Posts

Afdhal Tinjau Pasar Murah Daging Meugang Jelang Ramadan

Jelang Meugang Iduladha, Pemko Banda Aceh Buka Enam Titik Penjualan Daging Murah

by Redaksi
22 Mei 2026
0

MASAKINI.CO – Pemerintah Kota Banda Aceh memperluas akses masyarakat terhadap daging meugang dengan membuka enam titik Pasar Murah Daging Meugang...

JPU Bakal Ajukan Kasasi Vonis Bebas Lima Terdakwa Monumen Samudera Pasai

by Riska Zulfira
16 November 2023
0

MASAKINI.CO - Kejaksaan Negeri Aceh Utara akan mengajukan Kasasi terhadap vonis bebas lima terdakwa kasus korupsi Monumen Samudera Pasai, Aceh...

Kadispar Kota Banda Aceh Tekankan Penerapan Prokes Berbasis CHSE di Era New Normal

Kadispar Kota Banda Aceh Tekankan Penerapan Prokes Berbasis CHSE di Era New Normal

by Redaksi
20 Oktober 2020
0

MASAKINI.CO - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) menggelar Bimbingan Teknis Sinkronisasi New Normal Promosi Pariwisata...

Next Post
Cerita Muhammad Taher, Jemaah Haji Tertua Usia 100 Tahun dari Aceh

Cerita Muhammad Taher, Jemaah Haji Tertua Usia 100 Tahun dari Aceh

Jumlah AgenBRILink Lampaui Target, Ekosistem Ekonomi Mikro Semakin Nyata

Jumlah AgenBRILink Lampaui Target, Ekosistem Ekonomi Mikro Semakin Nyata

Discussion about this post

CERITA

Dari Lahan Penggembalaan ke Destinasi Favorit, Savana Indrapuri Sedot Ribuan Pengunjung

24 Mei 2026

Dari Dapur Rumahan ke Tanah Suci, Keumamah Aceh Diburu Jemaah Haji

19 Mei 2026

Menabung dari Lumpur Sawah, Halimah Berangkat Haji di Usia 85 Tahun

12 Mei 2026

Ranup yang Perlahan Asing di Tanahnya Sendiri

7 Mei 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co

 

Memuat Komentar...