MASAKINI.CO – Di hamparan dataran Padang Lawas Utara, di antara sawah yang tenang dan langit yang luas, berdiri jejak masa lalu yang nyaris abadi yakni Candi Bahal.

Terbuat dari bata merah yang telah menua oleh waktu, struktur candi ini menyimpan jejak peradaban yang pernah hidup di tanah ini, jauh sebelum kita mengenalnya sebagai Padang Lawas.

Di bawah cahaya pagi, tekstur dinding bata memantulkan warna-warna hangat yang berubah bersama perjalanan matahari.

Relief dan bentuk arsitekturnya menceritakan tentang keyakinan, ketekunan dan tangan-tangan manusia yang membangun bukan sekadar tempat ibadah, melainkan ruang bagi peradaban untuk meninggalkan jejak.

Candi Bahal, bersama situs-situs lain seperti Candi Bahal II, Bahal III, Tandihat, dan Sipamutung, menjadi saksi atas perjalanan panjang manusia dalam menafsirkan makna suci dan keseimbangan alam.

Cagar budaya seperti Candi Bahal tidak hanya berbicara tentang sejarah, tetapi juga tentang identitas kolektif.

Pelestarian bukan sekadar melindungi batu dan struktur fisik, melainkan juga merawat ingatan — ingatan tentang siapa kita, dari mana kita berasal dan bagaimana kebudayaan ini membentuk cara kita memandang dunia.
Fotografer: Hendra Syamhari










Discussion about this post