MASAKINI.CO – Jalur utama Medan–Aceh masih lumpuh total akibat banjir besar, tanggul jebol, dan longsor yang melanda Sumatera Utara hingga Aceh sejak beberapa hari terakhir.
Kondisi ini membuat banyak warga Aceh tidak bisa pulang, termasuk Cut Farah, warga Lhokseumawe yang sudah empat hari tertahan di Medan.
Farah berangkat dari Medan menuju Lhokseumawe pada Rabu (26/11/2025), namun harus menghentikan perjalanan setelah banjir di Besitang, Pangkalan Brandan, dan Langkat mencapai ketinggian atap rumah.
“Karena hujan deras dan takut air makin naik serta terjadi longsor, saya langsung putar balik. Antrean mobil ke Aceh sudah sangat panjang waktu itu,” ujarnya, Sabtu (29/11/2025).
Hari selanjutnya, air di Besitang sempat surut, tetapi kondisi di Brandan justru memburuk akibat tanggul sungai yang jebol, membuat banjir naik hingga menenggelamkan rumah warga. Di saat yang sama, longsor di Bukit Semadam, Aceh Tamiang, menutup total akses lintas Medan–Aceh.
“Kamis malam malah Medan ikut banjir. Hujan deras dan angin kencang membuat situasi makin kacau,” kata Farah.
Ketika banjir di Besitang dan Brandan mulai surut pada Jumat, harapan warga kembali pupus karena Tol Tanjung Pura justru terendam. Pintu masuk dan keluar tol ditutup penuh hingga hari ini.
“Air di pintu tol sekitar satu meter. Mobil kecil dan besar tidak bisa lewat. Sampai sekarang belum ada kabar kapan dibuka,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa banyak kendaraan yang tetap melanjutkan perjalanan pada Rabu kini terjebak selama empat hingga lima hari di jalur Medan–Aceh.
“Saya hanya bisa berharap mereka baik-baik saja. Kondisi di lapangan pasti sulit,” katanya.
Cut Farah mendesak pemerintah daerah, khususnya Aceh Tamiang, untuk mempercepat penanganan longsor dan kerusakan jalan yang memutus akses transportasi.
“Tolong segera selesaikan longsor di jalur lintas Medan–Aceh. Masyarakat di Aceh butuh pasokan makanan. Logistik hanya bisa masuk dari Medan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pembukaan jalur darat sangat penting agar barang kebutuhan pokok bisa kembali disalurkan ke Kuala Simpang, Langsa, Aceh Timur, Aceh Utara, hingga Lhokseumawe.
Hingga kini, jalur darat Medan–Aceh masih belum dapat dilalui. Petugas masih bekerja di sejumlah titik kritis, namun kondisi banjir dan cuaca ekstrem membuat perbaikan berjalan lambat.










Discussion about this post