MASAKINI.CO – Sebanyak 18 sekolah di Aceh terpaksa melaksanakan kegiatan belajar mengajar di tenda darurat setelah fasilitas pendidikan mereka rusak akibat bencana banjir dan longsor. Kondisi ini terjadi meski sebagian besar sekolah terdampak sudah kembali beroperasi hari ini, Senin (5/1/2026).
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI Abdul Mu’ti mengatakan, penggunaan tenda dilakukan sebagai solusi sementara agar proses belajar siswa tidak terhenti.
“Hingga hari ini sudah 18 tenda yang sudah terpasang, ami akan terus berupaya menghadirkan sekolah darurat bagi siswa yang saat ini masih belajar di tenda,” ujar Abdul Mu’ti saat meninjau sekolah terdampak di Kabupaten Aceh Tamiang.
Ia menjelaskan, secara keseluruhan sekitar 90 persen atau 2.468 sekolah di Aceh telah kembali beroperasi pascabencana. Sementara itu, 288 sekolah lainnya masih dalam tahap pembersihan akibat kerusakan yang ditimbulkan banjir dan longsor.
Menurut Abdul Mu’ti, pemerintah telah menyiapkan skema penanganan berdasarkan tingkat kerusakan sekolah. Untuk sekolah yang diperkirakan dapat pulih dalam waktu hingga tiga bulan, pembelajaran dilakukan menggunakan tenda.
Sedangkan sekolah yang membutuhkan waktu lebih dari enam bulan akan dibangun ruang kelas darurat.
“Kami sudah menyiapkan 46 ruang kelas darurat, 32 unit di antaranya sudah disalurkan dan sedang dalam proses pembangunan. Kami harapkan dalam satu hingga dua bulan ke depan bisa digunakan,” katanya.
Selain sarana belajar, pemerintah juga memberikan bantuan perlengkapan sekolah bagi siswa terdampak. Di Aceh Tamiang, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyalurkan secara simbolis 2.000 paket bantuan agar siswa tetap dapat mengikuti pembelajaran dengan baik.
Abdul Mu’ti juga menyebutkan, sebagian siswa belum mengenakan seragam sekolah karena perlengkapan mereka rusak atau hanyut saat bencana. Namun, hal tersebut tidak menjadi penghalang bagi siswa untuk tetap datang ke sekolah.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Aceh Murthalamuddin menyatakan, sekolah diberikan fleksibilitas dalam pelaksanaan pembelajaran. Jam belajar dapat disesuaikan dengan kondisi, mengingat tidak semua ruang kelas dan fasilitas telah siap digunakan.
“Yang terpenting anak-anak tetap sekolah. Seragam tidak menjadi keharusan saat ini,” ujarnya.
Pemerintah Aceh bersama kementerian terkait juga terus mempercepat pembersihan lumpur dan perbaikan fasilitas pendidikan dengan mengerahkan alat berat dan melibatkan berbagai pihak, termasuk lembaga swadaya masyarakat, guna mempercepat pemulihan sekolah-sekolah terdampak bencana.
“Kira-kira dua Minggu ini semua kursi dan meja akan diganti dengan yang baru,” terangnya.










Discussion about this post