MASAKINI.CO – Korban meninggal dalam kerusuhan yang terjadi di Iran telah mencapai minimal 538 orang, demikian dikemukakan kelompok hak asasi manusia. Pemerintah Teheran mengancam akan menyerang pangkalan militer AS jika Presiden Donald Trump campur tangan mendukung peserta demonstrasi.
Kerusuhan yang menjadi protes terbesar sejak tahun 2022 ini membuat Trump berulang kali mengancam akan melakukan intervensi jika pihak berwenang menggunakan kekerasan terhadap peserta demonstrasi. Kelompok HAM berbasis AS, HRANA, mencatat korban meninggal terdiri dari 490 peserta demonstrasi dan 48 personel keamanan.
Lebih dari 10.600 orang telah ditangkap dalam dua minggu kerusuhan. Pemerintah Iran belum mengumumkan data resmi, dan tidak ada pihak yang dapat memverifikasi angka secara independen. Trump akan mendapatkan laporan dari petinggi terkait opsi penanganan Iran pada hari Selasa.
Opsi yang akan dibahas termasuk serangan militer, penggunaan senjata siber rahasia, perluasan sanksi, serta bantuan daring bagi sumber anti-pemerintah, seperti yang dilaporkan oleh Wall Street Journal.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf menyatakan bahwa Amerika Serikat harus menghindari kesalahan perhitungan. “Jika diserang, wilayah yang diduduki (Israel) serta semua pangkalan dan kapal AS akan menjadi target sah kami,” katanya, mengutip laporan dailysabah, Senin (12/1/2026).
Demonstrasi dimulai pada tanggal 28 Desember sebagai tanggapan atas kenaikan harga yang melambung tinggi. Pihak berwenang menuduh AS dan Israel menyuburkan kerusuhan. Kapten Kepolisian Iran, Ahmad Reza Radan mengatakan bahwa pasukan keamanan telah meningkatkan upaya untuk menghadapi para demonstran.
Aliran informasi dari Iran terhambat akibat pemadaman internet sejak hari Kamis. Rekaman yang beredar menunjukkan massa besar berbaris di jalanan, dengan beberapa lokasi terlihat asap dan puing-puing menyebar.







Discussion about this post