MASAKINI.CO – Ekonomi Aceh pada Triwulan I 2026 tetap menunjukkan pertumbuhan positif di tengah perlambatan laju. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Aceh mencapai 4,09 persen secara tahunan (year-on-year), meski lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 4,59 persen.
Kepala BPS Aceh, Agus Andria, menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi daerah diukur melalui Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang mencerminkan aktivitas produksi dan konsumsi masyarakat.
“Dari sisi produksi terlihat aktivitas ekonomi, sementara dari sisi pengeluaran menggambarkan daya beli dan belanja masyarakat,” ujarnya, Rabu (6/5/2026).
Meski tumbuh secara tahunan, ekonomi Aceh mengalami kontraksi sebesar 0,61 persen secara triwulanan (quarter-to-quarter) dibandingkan Triwulan IV 2025.
Sejumlah sektor menjadi penopang utama pertumbuhan pada awal tahun ini. Dari sisi produksi, sektor peternakan mencatat peningkatan, terutama pada komoditas daging ayam, sapi, dan kerbau yang permintaannya naik menjelang Ramadan dan Idulfitri.
Di saat yang sama, sektor konstruksi justru melonjak signifikan. Penjualan semen tercatat naik hingga sekitar 30 persen, didorong oleh aktivitas rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, termasuk pembangunan rumah, jalan, dan jembatan.
“Kegiatan rekonstruksi menjadi salah satu motor penggerak ekonomi saat ini,” kata Agus.
Sektor akomodasi juga mulai pulih setelah sempat terdampak banjir, seiring meningkatnya mobilitas masyarakat.
Dari sisi konsumsi, daya beli masyarakat ikut menguat. Hal ini dipicu oleh peningkatan jumlah aparatur sipil negara (ASN) sebesar 11,32 persen, serta pencairan gaji dan tunjangan hari raya (THR) yang mendorong belanja rumah tangga.
Selain itu, aktivitas lembaga non profit yang melayani rumah tangga (LNPRT) turut meningkat, terutama karena tingginya donasi untuk korban banjir dan meningkatnya kegiatan sosial serta keagamaan selama Ramadan.
Program Makan Bergizi Gratis juga mulai memberi dampak ekonomi, dengan lebih dari 650 satuan pelayanan aktif yang ikut menggerakkan sektor makanan dan perdagangan.
Secara regional, kontribusi ekonomi Aceh terhadap Pulau Sumatera mencapai 4,88 persen. Namun, angka tersebut masih berada di bawah Kepulauan Riau yang mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 7,04 persen.
Meski mengalami perlambatan, BPS menilai kinerja ekonomi Aceh tetap berada pada jalur positif dengan ditopang konsumsi masyarakat dan belanja pembangunan yang terus berjalan.









Discussion about this post