MASAKINI.CO – Pendangkalan muara sungai dan pelabuhan perikanan di Aceh mulai berdampak serius terhadap aktivitas nelayan. Menindaklanjuti kondisi tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan langsung turun tangan melakukan survei lapangan.
Direktur Pemanfaatan Ruang Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil KKP, Permana Yudiarso, mengatakan langkah ini merupakan respons atas permintaan Pemerintah Aceh terkait muara yang mengalami pendangkalan.
“Kami datang untuk menindaklanjuti permintaan gubernur terkait perbaikan sedimentasi muara sungai dan muara perikanan,” ujarnya saat bertemu Gubernur Aceh di Meuligoe Gubernur, Selasa (5/5/2026).
KKP menurunkan tim selama tiga hari untuk menyurvei 13 pelabuhan perikanan yang menjadi prioritas penanganan. Lokasi tersebut tersebar di berbagai wilayah, mulai dari Lampulo di Banda Aceh hingga Aceh Barat Daya dan Aceh Singkil.
Pendangkalan muara dinilai menjadi masalah krusial karena langsung menghambat mobilitas nelayan saat melaut.
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, menegaskan kondisi ini tidak bisa dibiarkan berlarut. Ia menyebut sebagian besar masyarakat pesisir sangat bergantung pada sektor kelautan.
“Kita punya lebih dari 50 muara, dan sekitar 25 persen masyarakat bekerja di laut. Nelayan sekarang harus menunggu air pasang untuk bisa keluar,” ujarnya.
Selain menghambat aktivitas melaut, pendangkalan muara juga meningkatkan risiko banjir di kawasan permukiman. Air sungai yang tidak mengalir lancar berpotensi meluap ke daratan saat debit meningkat.
“Kalau muara dangkal, air bisa meluap ke permukiman. Ini jadi masalah ganda bagi masyarakat,” kata Mualem.
Pemerintah Aceh juga meminta penanganan dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya pada sedimentasi, tetapi juga mencakup persoalan abrasi yang terus menggerus wilayah pesisir.









Discussion about this post