MASAKINI.CO – Pemerintah Kota Banda Aceh terus membuka ruang kerja sama internasional untuk memperkuat daya saing daerah di tingkat global. Upaya itu ditunjukkan Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal melalui agenda kolaborasi bersama United Cities and Local Governments Asia-Pacific di Balai Kota DKI Jakarta.
Dalam forum internasional tersebut, Illiza menegaskan Banda Aceh tidak hanya fokus membangun pelayanan publik dan infrastruktur kota, tetapi juga memperluas jejaring global untuk mempercepat pembangunan daerah dan membuka peluang investasi serta kerja sama internasional.
“Banda Aceh memiliki visi sebagai Kota Kolaborasi. Kami ingin membangun kota yang nyaman bagi seluruh masyarakat dengan pemerintahan yang adaptif, inovatif, dan responsif,” ujar Illiza dalam keterangan resminya, Jumat (15/5/2026).
Ia mengatakan, keterlibatan Banda Aceh dalam forum internasional menjadi langkah strategis untuk memperkenalkan potensi daerah sekaligus memperkuat posisi Banda Aceh sebagai kota yang terbuka terhadap kolaborasi global.
Menurut Illiza, status kekhususan Aceh menjadi kekuatan tersendiri dalam membangun identitas daerah yang tetap menjunjung nilai toleransi dan budaya lokal di tengah masyarakat multikultural.
Dalam pertemuan itu, Illiza juga memaparkan capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Banda Aceh tahun 2025 yang mencapai 89,55 atau menjadi salah satu yang tertinggi di Indonesia.
Capaian tersebut disebut sebagai hasil pembangunan yang fokus pada sektor pendidikan, kesehatan, dan penguatan infrastruktur publik.
“Angka tersebut menjadi bukti bahwa pembangunan yang terarah dan berkelanjutan mampu memberi dampak nyata bagi masyarakat,” katanya.
Selain memperkuat diplomasi kota, Pemerintah Kota Banda Aceh juga mulai mendorong sejumlah program strategis berbasis potensi lokal agar mampu bersaing di tingkat internasional.
Salah satunya pengembangan industri parfum berbahan nilam Aceh yang ditargetkan dapat menembus pasar global.
Tak hanya itu, Banda Aceh juga terus memperkuat posisinya sebagai kota tangguh bencana dunia melalui kolaborasi dengan sejumlah kota di Jepang dalam bidang mitigasi dan ketahanan bencana.
Illiza menilai forum UCLG ASPAC menjadi ruang penting untuk bertukar pengalaman antar kota terkait kebijakan publik, smart city, inovasi digital, hingga pembangunan berkelanjutan.
“Kami ingin Banda Aceh dikenal dunia bukan hanya sebagai kota sejarah dan wisata religi, tetapi juga sebagai kota inovatif yang mampu membangun kolaborasi internasional demi kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.







Discussion about this post