MASAKINI.CO – Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT) Indrapuri terus memperkuat upaya pelestarian sapi Aceh sebagai salah satu ras asli daerah melalui sistem pembibitan dan seleksi bibit unggul yang ketat.
Kepala BPTU-HPT Indrapuri, Dayat, mengatakan balai yang memiliki areal seluas 430 hektare itu menjadi pusat pembenihan dan pengembangan sapi unggul di Aceh di bawah Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Fokus utamanya adalah menjaga kemurnian genetik sapi Aceh agar tetap lestari dan tidak tercampur dengan ras lain.
“Sapi Aceh ini termasuk plasma nutfah yang ditetapkan dan hanya ada di Aceh. Karena itu yang paling utama kami jaga adalah kemurnian dan keberlangsungannya,” kata Dayat, Senin (18/5/2026).
Saat ini, populasi ternak di BPTU-HPT Indrapuri mencapai 1.682 ekor yang didominasi sapi Aceh. Dalam pengembangannya, balai tersebut menerapkan dua model budidaya, yakni sistem kandang intensif dan sistem penggembalaan.
Menurut Dayat, dua model itu sengaja diterapkan agar dapat menjadi contoh langsung bagi peternak di Aceh sesuai dengan pola pemeliharaan yang ingin diterapkan masyarakat.
“Kalau peternak ingin model kandang, kami punya contohnya. Begitu juga yang model penggembalaan. Jadi masyarakat bisa melihat langsung bagaimana pemeliharaan yang baik,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kualitas ternak dijaga melalui pola perawatan yang ketat, mulai dari pemberian hijauan pakan berkualitas, konsentrat, vitamin, hingga pengawasan kesehatan secara rutin. Selain itu, sapi-sapi yang dipelihara juga harus memenuhi standar performa sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI).
Tak hanya dari sisi fisik dan bobot tubuh, seleksi juga dilakukan terhadap kualitas pejantan. BPTU-HPT Indrapuri memiliki kandang khusus bernama Bull Treatment Unit (BTU) untuk melatih dan menguji performa sapi jantan unggul.
Di kandang tersebut, sapi jantan dipantau mulai dari perilaku kawin hingga kualitas spermanya. Sperma yang ditampung kemudian diuji di laboratorium untuk memastikan kualitas reproduksinya.
“Kita lihat apakah spermanya terlalu encer atau terlalu pekat, lalu diuji di laboratorium. Dari situ bisa diketahui kualitasnya, termasuk tingkat sperma yang hidup,” jelas Dayat.
Menurutnya, pengujian kualitas sperma menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan kualitas pejantan unggul yang nantinya akan dikembangkan kepada masyarakat.
Meski demikian, Dayat menegaskan BPTU-HPT Indrapuri tidak memproduksi semen beku untuk inseminasi buatan. Balai tersebut lebih fokus menyediakan bibit pejantan unggul, sementara pengolahan dan distribusi semen dilakukan di balai inseminasi seperti di Lembang dan Singosari.
“Kami menyediakan pejantan unggulnya. Kalau semennya ditampung dan disebarkan kepada masyarakat itu dilakukan di balai inseminasi,” katanya.
Ia juga mengimbau masyarakat yang ingin mengembangkan peternakan sapi Aceh agar memilih pejantan yang telah melalui proses seleksi. Dengan begitu, kualitas keturunan sapi dapat tetap terjaga.
“Kalau ingin budidaya yang baik, pilih pejantan yang sudah diseleksi. Karena kualitas anak dan keturunannya sangat ditentukan dari pejantan unggul,” ujar Dayat.









Discussion about this post