MASAKINI.CO – BKKBN Aceh memperkuat peran bidan sebagai ujung tombak pencegahan stunting dalam upaya memutus mata rantai lahirnya kasus stunting baru di Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen.
Komitmen tersebut ditegaskan Kepala Perwakilan BKKBN Aceh, Safrina Salim, saat bertemu 21 bidan dan 10 Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) dalam kegiatan penguatan dan evaluasi Tim Pendamping Keluarga (TPK) di Balai Jeumpa, Selasa (23/6/2026).
Safrina menilai bidan memiliki posisi strategis karena berhadapan langsung dengan ibu hamil, ibu bersalin, bayi, dan keluarga yang menjadi kelompok sasaran utama pencegahan stunting.
“Setiap kita bisa bekerja sesuai tugas dan kompetensi masing-masing, mari bersama kita memutus mata rantai stunting. Jangan sampai lahir stunting baru,” kata Safrina.
Dalam arahannya, ia meminta seluruh bidan memastikan layanan kesehatan ibu dan anak berjalan optimal, termasuk mendorong penggunaan kontrasepsi pasca persalinan atau KB Pasca Persalinan (KBPP). Langkah tersebut dinilai penting untuk mengatur jarak kelahiran dan mengurangi risiko yang dapat memengaruhi tumbuh kembang anak.
Menurut Safrina, upaya pencegahan stunting tidak cukup dilakukan saat anak lahir, tetapi harus dimulai sejak masa kehamilan hingga pasca persalinan. Karena itu, peran bidan menjadi kunci dalam memastikan setiap keluarga mendapatkan pendampingan yang tepat.
Selain pelayanan kesehatan, ia juga menekankan pentingnya pencatatan data secara akurat melalui Sistem Informasi Keluarga (SIGA) dan aplikasi Elektronik Siap Nikah dan Hamil (Elsimil). Data yang valid dinilai menjadi dasar dalam menentukan intervensi yang tepat bagi keluarga berisiko stunting.
“Harapannya setiap ibu bersalin dapat langsung menggunakan alat kontrasepsi pasca salin. Setiap kegiatan yang dilakukan di lapangan harus tercatat di SIGA dan Elsimil,” ujarnya.
Safrina juga mengingatkan pentingnya sinergi antara bidan, Penyuluh KB, dan unsur Tim Pendamping Keluarga lainnya agar seluruh program berjalan efektif dan tepat sasaran.
Menurutnya, keberhasilan menekan angka stunting tidak hanya bergantung pada sektor kesehatan, tetapi juga kolaborasi lintas profesi yang bekerja langsung mendampingi keluarga di tingkat gampong.
Dalam kesempatan itu, Safrina turut menekankan pentingnya disiplin dan profesionalisme petugas lapangan. Ia meminta seluruh PKB dan anggota TPK menjalankan tugas sesuai fungsi masing-masing serta menjaga kualitas kinerja pelayanan kepada masyarakat.










Discussion about this post