MASAKINI.CO – Daya tarik cadangan gas Blok Andaman mulai memicu minat sejumlah korporasi untuk masuk ke sektor hilirisasi migas di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe, Aceh. Sejumlah perusahaan nasional hingga asing kini menjajaki peluang pengembangan industri berbasis gas, meski proyek produksi gas tersebut masih dalam tahap persiapan.
Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) menyatakan pemerintah membuka peluang bagi investor yang ingin berkontribusi dalam pengembangan hilirisasi migas di Aceh.
“Semoga membawa kebaikan dan kemakmuran bagi Aceh,” kata Mualem melalui Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi, Selasa (14/7/2026).
Nurlis mengatakan hilirisasi migas dari Blok Andaman menjadi salah satu agenda utama Pemerintah Aceh. Karena itu, seluruh pihak terkait diminta mempersiapkan langkah strategis agar potensi gas tersebut dapat memberikan nilai tambah bagi daerah.
“Gubernur meminta seluruh pihak mempersiapkan diri, terutama pemerintah Aceh, untuk menyambut peluang hilirisasi ini,” ujar Nurlis.
Salah satu perusahaan yang mulai menjajaki peluang tersebut adalah PT Indoasia Oiltank Terminal. Perusahaan yang bergerak di bidang infrastruktur energi dan petrokimia itu bertemu dengan Pemerintah Aceh di Kantor Gubernur Aceh, Senin (13/7/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Indoasia Oiltank Terminal datang bersama mitra dari Teknik Kimia Universitas Syiah Kuala (USK) yang melibatkan tiga profesor bidang teknik kimia.
Sekretaris Daerah Aceh, M Nasir Syamaun, menyambut positif minat investasi tersebut. Menurutnya, keterlibatan perguruan tinggi dalam rencana hilirisasi menjadi sinyal penting bahwa pengembangan industri migas tidak hanya berorientasi bisnis, tetapi juga membuka ruang penguatan sumber daya manusia lokal.
“Kami menyambut baik setiap calon investor yang ingin berkontribusi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan membuka lapangan kerja di Aceh,” kata Nasir.
Selain Indoasia, sejumlah perusahaan lain juga telah menyampaikan minat mengembangkan industri berbasis gas di KEK Arun. PT Pupuk Indonesia (Persero) sebelumnya menyatakan rencana pembangunan pabrik metanol di Aceh yang berlokasi di KEK Arun Lhokseumawe.
Minat serupa juga datang dari perusahaan energi berbasis Dubai, Uni Emirat Arab, yang menyampaikan ketertarikan membangun pabrik metanol berbasis gas alam di Aceh. Sementara perusahaan asal Jiangsu, China, bersama mitra nasional juga berminat mengembangkan proyek likuefaksi LNG Aceh.
Peluang investasi tersebut berkaitan dengan rencana pengembangan Lapangan Gas Tangkulo di Wilayah Kerja South Andaman yang dikelola Mubadala Energy. Lapangan tersebut menjadi bagian awal pengembangan Blok Andaman yang memiliki sejumlah wilayah kerja migas di perairan Aceh.
Nurlis menjelaskan, Lapangan Gas Tangkulo diproyeksikan menghasilkan sekitar 300 juta standar kaki kubik gas per hari (MMSCFD). Dari jumlah tersebut, sekitar 160 MMSCFD telah memiliki komitmen penjualan melalui Gas Sale Agreement (GSA) kepada PLN.
“Selebihnya masih membuka peluang besar untuk mendukung tumbuhnya berbagai industri hilir di Aceh,” katanya.
Menurutnya, gas tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah, seperti metanol dan hidrogen. Selain gas, lapangan South Andaman juga diperkirakan menghasilkan sekitar 7.500 barel kondensat per hari yang dapat diolah menjadi produk petrokimia seperti nafta, kerosin, hingga bahan baku industri.
Pemerintah Aceh menargetkan KEK Arun menjadi pusat hilirisasi migas tersebut. Pengembangan itu juga disebut sejalan dengan Proyek Strategis Nasional dalam RPJMN 2025–2029 serta arah pembangunan Aceh dalam RPJMA 2025–2029.







Discussion about this post