MASAKINI.CO – Kegiatan seni, budaya, dan ekonomi kreatif di Taman Putroe Phang, Banda Aceh, menjadi ruang pertemuan budaya antara masyarakat Aceh dengan wisatawan asal Malaysia. Kehadiran sejumlah tamu dari Johor tersebut turut memperluas peluang kolaborasi budaya sekaligus memperkenalkan potensi seni dan kreativitas lokal.
Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal, mengatakan, kegiatan yang berlangsung hingga Agustus 2026 itu tidak hanya menjadi ruang hiburan masyarakat, tetapi juga wadah mempertemukan pelaku seni, komunitas, dan wisatawan dari berbagai daerah hingga mancanegara.
“Hari ini lebih ramai kedatangan tamu daripada warga Kota Banda Aceh sendiri. Insyaallah bisa kita kolaborasi dengan Johor,” ujar Illiza, Sabtu (18/7/2026).
Menurut Illiza, keterlibatan wisatawan Malaysia dalam kegiatan tersebut menunjukkan adanya hubungan budaya yang masih kuat antara Aceh dan kawasan Melayu. Ia menilai pertemuan melalui seni dan budaya dapat menjadi jalur untuk memperkenalkan identitas Aceh kepada masyarakat luar.
Dalam kesempatan itu, Illiza juga memperkenalkan sejarah Taman Putroe Phang kepada para tamu dari Malaysia. Ia menjelaskan kawasan tersebut memiliki kaitan erat dengan kisah Putroe Phang, permaisuri Sultan Iskandar Muda yang berasal dari Pahang.
“Ini adalah taman cinta Sultan Iskandar Muda kepada Putroe Phang. Gunongan dan taman ini menjadi bukti kasih sayang beliau kepada permaisurinya,” kata Illiza.
Ia menyebut kisah tersebut menjadi salah satu simbol hubungan sejarah antara Aceh dan Pahang yang telah terjalin sejak masa Kesultanan Aceh.
Salah seorang wisatawan asal Johor, Malaysia, Kamariah, mengaku antusias mengikuti kegiatan seni budaya yang digelar di Taman Putroe Phang. Ia menilai pertunjukan yang ditampilkan memberikan pengalaman baru tentang budaya Aceh.
“Kami sangat teruja dan terhibur melihat seni budaya yang ditampilkan. Acara ini bagus sekali, kami akan mempromosikannya saat pulang ke Johor,” ujarnya.
Selain pertunjukan seni, kegiatan Banda Aceh Art and Cultural Market Putroe Phang juga melibatkan pelaku ekonomi kreatif dan komunitas lokal. Agenda tersebut menjadi ruang bagi pelaku usaha kreatif untuk memperkenalkan produk sekaligus membangun interaksi dengan masyarakat dan wisatawan.
Melalui kegiatan tersebut, Pemerintah Kota Banda Aceh berharap kawasan bersejarah seperti Taman Putroe Phang tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga ruang pengembangan budaya dan ekonomi kreatif.










Discussion about this post