MASAKINI.CO – Perkembangan layanan keuangan digital yang semakin cepat membuat pemahaman masyarakat terhadap keamanan transaksi menjadi kebutuhan penting. Melalui kegiatan Literasi Ujong Nanggroe, Bank Indonesia (BI) Aceh menyasar pelajar untuk memperkuat pemahaman tentang sistem pembayaran digital, perlindungan konsumen, serta peran bank sentral dalam menjaga stabilitas ekonomi.
Beberapa waktu lalu Bank Indonesia Aceh telah mengedukasi 150 siswa dari 17 SMA/sederajat di Aceh Selatan yang berlangsung di Rumoh Agam, Tapaktuan, Sabtu (18/7/2026).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Agus Chusaini, mengatakan edukasi literasi keuangan menjadi semakin penting di tengah meningkatnya penggunaan layanan digital, terutama di kalangan generasi muda.
Menurutnya, selain memahami fungsi Bank Indonesia sebagai bank sentral, masyarakat juga perlu memiliki kesadaran terhadap keamanan transaksi dan perlindungan data pribadi agar tidak mudah menjadi korban kejahatan digital.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan materi mengenai tugas dan fungsi Bank Indonesia, kebijakan menjaga stabilitas nilai Rupiah, sistem pembayaran, hingga edukasi perlindungan konsumen melalui prinsip Peduli, Kenali, Adukan (PeKA).
BI menilai salah satu tantangan terbesar saat ini adalah masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap keamanan digital. Berbagai modus penipuan seperti phishing, social engineering, hingga penyalahgunaan aplikasi terus berkembang seiring meningkatnya aktivitas transaksi digital.
Melalui perilaku PeKA, masyarakat diharapkan lebih berhati-hati dalam menggunakan layanan keuangan. Peduli berarti memahami produk dan layanan keuangan beserta hak dan kewajiban sebagai konsumen. Kenali berarti memahami risiko serta ancaman penipuan digital. Sementara Adukan berarti segera melapor melalui kanal resmi apabila mengalami kendala atau menjadi korban.
“Kalau ragu, stop dulu,” menjadi pesan utama yang disampaikan BI kepada peserta agar tidak terburu-buru melakukan transaksi ketika menemukan aktivitas mencurigakan.
BI Aceh juga menekankan pentingnya peran generasi muda sebagai bagian dari ekosistem ekonomi digital. Pelajar tidak hanya diharapkan menjadi pengguna layanan keuangan digital, tetapi juga mampu menjadi penyampai informasi kepada lingkungan sekitar.
Kepala Tim Implementasi Kebijakan Sistem Pembayaran BI Aceh, Dien Mochammad Irvan Idris, yang membuka kegiatan tersebut, menyebut literasi digital dan keuangan perlu terus diperluas hingga ke berbagai wilayah Aceh.
Kegiatan Literasi Ujong Nanggroe ke depan direncanakan menyasar daerah terdepan, terluar, dan terpencil (3T) untuk memperluas akses edukasi mengenai kebanksentralan dan transaksi digital yang aman.
Kolaborasi BI Aceh dengan sektor pendidikan diharapkan dapat memperkuat kualitas sumber daya manusia Aceh agar lebih siap menghadapi perubahan ekonomi digital, sekaligus mampu mengambil keputusan keuangan secara bijak.










Discussion about this post