MASAKINI.CO – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh mencatat perekonomian Aceh pada triwulan II tahun 2026 tumbuh sebesar 4,86 persen secara tahunan. Capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi pada periode yang sama tahun 2025 yang sebesar 4,82 persen.
Kepala BPS Provinsi Aceh, Agus Andria, mengatakan pertumbuhan ekonomi tersebut tercermin dari meningkatnya nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku (ADHB) menjadi Rp69,69 triliun dan atas dasar harga konstan (ADHK) menjadi Rp41,46 triliun pada triwulan II 2026. Pada triwulan I 2026, PDRB Aceh tercatat sebesar Rp66,39 triliun (ADHB) dan Rp39,95 triliun (ADHK).
“Ekonomi Aceh pada triwulan II tahun 2026 tumbuh 4,86 persen dibandingkan triwulan II tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan triwulan II tahun 2025 yang mencapai 4,82 persen,” ujar Agus Andria dalam pemaparan Berita Resmi Statistik Provinsi Aceh, Rabu (5/8/2026).
Secara triwulanan, ekonomi Aceh juga mengalami pertumbuhan sebesar 3,77 persen dibandingkan triwulan I 2026. Peningkatan tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi di Aceh kembali menguat pada periode April hingga Juni 2026.
Menurut Agus, pertumbuhan ekonomi Aceh pada triwulan II 2026 didorong oleh meningkatnya aktivitas produksi, mobilitas masyarakat, konsumsi rumah tangga, hingga perdagangan luar negeri.
Produksi daging sapi dan kerbau meningkat seiring momentum Iduladha, penjualan semen untuk konstruksi tumbuh 12,37 persen secara tahunan, produksi batu bara dan industri pengilangan migas di PAG juga mengalami peningkatan.
“Selain aktivitas produksi, meningkatnya mobilitas masyarakat pada periode libur panjang, libur sekolah, Iduladha, dan cuti bersama turut mendorong aktivitas transportasi, perdagangan, serta akomodasi di Aceh,” kata Agus.
Dari sisi perdagangan luar negeri, ekspor Aceh didorong oleh meningkatnya ekspor komoditas batu bara, sementara impor meningkat terutama akibat masuknya migas LNG ke Arun.
Di sisi lain, konsumsi masyarakat juga tumbuh seiring perayaan hari besar keagamaan, penyaluran tunjangan hari raya (THR), gaji ke-13 aparatur sipil negara, serta meningkatnya pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan tahun ajaran baru seperti proses penerimaan peserta didik baru (PPDB), daftar ulang, dan perlengkapan sekolah.
Selain itu, pertumbuhan ekonomi juga ditopang oleh berlanjutnya rehabilitasi dan rekonstruksi pascabanjir, peningkatan belanja modal pemerintah untuk pembangunan gedung, jalan, dan jembatan, serta pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mendorong konsumsi pemerintah dan rumah tangga.










Discussion about this post