MASAKINI.CO – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengakhiri peringatan dini tsunami setelah gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo (M) 7,7 mengguncang wilayah sekitar Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) pagi.
Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama mengatakan, gempa terjadi pukul 04.58.23 WIB dengan pusat gempa berada sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo, pada kedalaman 15 kilometer.
BMKG langsung menerbitkan Peringatan Dini Tsunami (PDT) pertama pada pukul 05.00.39 WIB, atau sekitar dua menit setelah gempa terjadi. Saat itu, parameter awal gempa tercatat berkekuatan M7,0. Setelah dilakukan pemutakhiran data, kekuatan gempa diperbarui menjadi M7,7 pada pukul 05.09.56 WIB.
Setelah melakukan pemantauan terhadap kondisi muka laut selama lebih dari dua jam, BMKG akhirnya mengakhiri peringatan dini tsunami pada pukul 07.30.00 WIB.
“Keputusan pengakhiran peringatan dini tsunami dilakukan setelah hasil observasi muka laut di wilayah terdampak menunjukkan tidak adanya kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan,” kata Nelly, mengutip infopublik.id, Minggu (16/8/2026).
Selama periode peringatan, BMKG mencatat adanya perubahan tinggi muka laut di sejumlah wilayah. Ketinggian gelombang terpantau antara lain di Sikka sebesar 0,20 meter, Pelabuhan Kewapante-Sikka 0,38 meter, Flores Timur 0,25 meter, Labuan Bajo 0,36 meter, hingga Maurole-Ende mencapai 0,94 meter.
Selain memantau potensi tsunami, BMKG juga memperbarui peta tingkat guncangan akibat gempa. Guncangan terkuat dengan intensitas VII MMI dirasakan di Aesesa, Riung, dan Mbay. Pada tingkat tersebut, guncangan dapat membuat warga keluar rumah dan berpotensi menyebabkan kerusakan ringan pada bangunan dengan konstruksi baik.
Sementara itu, intensitas VI MMI dirasakan di Wolowae dan Kota Bajawa, sedangkan guncangan V MMI dirasakan di Kota Ende, Borong, dan Ruteng.
BMKG juga mencatat aktivitas gempa susulan masih terjadi setelah gempa utama. Hingga pukul 07.07 WIB, tercatat sebanyak 37 gempa susulan dengan magnitudo antara M3,6 hingga M6,2. Satu di antaranya dilaporkan dirasakan oleh masyarakat.
Meski peringatan tsunami telah berakhir, BMKG tetap melakukan pemantauan terhadap aktivitas gempa susulan dan kondisi muka laut. Masyarakat diminta tetap tenang, tidak mempercayai informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, serta menghindari bangunan yang mengalami kerusakan akibat gempa.
BMKG juga mengimbau warga tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan yang masih berlangsung.










Discussion about this post