MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Rabu, November 4, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home News

Enam Persoalan Pertanahan Aceh Dibawa Dek Fadh ke Komisi II DPR RI

Riska Zulfira by Riska Zulfira
16 September 2026
in News
0

Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah (Dek Fadh) bersama Tito Karnavian dalam Rapat Kerja (Raker) dan Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi II DPR RI, Selasa (15/9/2026). | Foto: Adpim Aceh

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Pemerintah Aceh membawa enam persoalan strategis pertanahan ke Komisi II DPR RI untuk mendapat perhatian dan dukungan pemerintah pusat. Persoalan tersebut mulai dari status Tanah Blang Padang hingga lahan untuk masyarakat yang bermukim di kawasan hutan dan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL).

Hal itu disampaikan Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah (Dek Fadh) dalam Rapat Kerja (Raker) dan Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi II DPR RI, Selasa (15/9/2026).

RelatedPosts

Produksi Beras Aceh 2026 Diperkirakan Turun 60,7 Ribu Ton

Massa Aksi Desak Bencana Ekologis Aceh-Sumatra dan Karhutla Ditetapkan Bencana Nasional

HUT ke-15, NasDem Aceh Sasar Kebutuhan Masyarakat Lewat Aksi Sosial

Salah satu persoalan yang dibahas adalah status dan pemanfaatan Tanah Blang Padang. Pemerintah Aceh meminta kepastian hukum terhadap aset yang dinilai memiliki nilai historis dan strategis bagi Aceh.

“Kami mengharapkan kepastian status dan pemanfaatan Tanah Blang Padang sebagai aset yang memiliki nilai historis dan strategis bagi Aceh, melalui penyelesaian yang transparan, terkoordinasi, dan memberikan kepastian hukum,” ujar Dek Fadh.

Selain Blang Padang, Pemerintah Aceh meminta dukungan pusat dalam penyediaan lahan untuk mempercepat pembangunan hunian tetap (huntap), terutama bagi masyarakat di Aceh Tamiang. Salah satu skema yang didorong ialah pelepasan Hak Guna Usaha (HGU).

“Penyediaan lahan menjadi salah satu kunci percepatan pembangunan huntap, khususnya di Aceh Tamiang melalui skema pelepasan HGU. Kami berharap dukungan Pemerintah Pusat dapat mempercepat proses legalitas dan penyediaan lahannya,” katanya.

Persoalan aset daerah juga menjadi bagian pembahasan. Dek Fadh menyebut masih terdapat aset yang status dan pemanfaatannya belum sepenuhnya sinkron, termasuk Anjong Mon Mata.

“Kami juga menghadapi persoalan aset yang status dan pemanfaatannya belum sepenuhnya sinkron, termasuk Anjong Mon Mata. Kami berharap dapat dilakukan verifikasi dan penegasan status secara bersama agar aset dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan masyarakat,” ujarnya.

Pemerintah Aceh juga menyampaikan perlunya harmonisasi kebijakan pertanahan yang berkaitan dengan kekhususan Aceh. Menurut Dek Fadh, sejumlah kebijakan yang ditetapkan berdasarkan kekhususan Aceh belum sepenuhnya memiliki kesesuaian dalam implementasinya di tingkat pusat.

“Beberapa kebijakan pertanahan yang ditetapkan berdasarkan kekhususan Aceh dalam implementasinya belum sepenuhnya mendapatkan kesesuaian di tingkat Pemerintah Pusat. Hal ini membutuhkan harmonisasi regulasi dan kejelasan kewenangan agar tidak terjadi perbedaan tafsir,” jelasnya.

Isu berikutnya menyangkut penyediaan lahan reintegrasi bagi mantan kombatan, Tapol/Amnesti dan korban konflik. Pemerintah Aceh mendorong percepatan penyediaan lahan tersebut sebagai bagian dari pemenuhan amanat perdamaian Aceh dalam MoU Helsinki.

“Pemerintah Aceh terus mendorong penyediaan lahan reintegrasi bagi mantan kombatan, Tapol/Amnesti dan korban konflik. Kami berharap agenda ini dapat dipercepat sebagai bagian dari pemenuhan amanat MoU Helsinki Butir 3.2.5,” kata Dek Fadh.

Dalam pembahasan itu, Pemerintah Aceh turut mengusulkan areal eks PT Acehnusa Indrapuri sebagai calon lahan reintegrasi.

Persoalan terakhir berkaitan dengan masyarakat yang bermukim di kawasan hutan dan TNGL di Gayo Lues serta Aceh Tenggara. Pemerintah Aceh mencatat masih terdapat tujuh desa yang berada dalam kawasan tersebut, sementara masyarakat telah lama bermukim dan menjalankan aktivitas kehidupan di sana.

Dek Fadh meminta persoalan itu diverifikasi bersama dari aspek historis dan spasial untuk mendapatkan penyelesaian yang memberikan kepastian hukum bagi masyarakat tanpa mengabaikan fungsi konservasi.

“Di Gayo Lues dan Aceh Tenggara masih terdapat persoalan tujuh desa yang berada dalam kawasan hutan/TNGL, sementara masyarakat telah bermukim dan menjalankan aktivitas kehidupan di wilayah tersebut,” ungkapnya.

Menurutnya, penyelesaian berbagai persoalan pertanahan tersebut membutuhkan koordinasi antara Pemerintah Aceh dan pemerintah pusat, terutama dalam hal harmonisasi regulasi, kejelasan kewenangan, kepastian hukum, serta verifikasi bersama.

Tags: Aceh TamiangBlang PadangFadhlullahKomisi II DPR RILahan ReintegrasiPemerintah AcehPertanahan Aceh
Previous Post

Bapelkes Aceh di Jantho Direncanakan Jadi Pusat Rehabilitasi Narkoba

Next Post

UU PPRT Berlaku, Hak Pekerja Rumah Tangga Kini Diatur Lebih Jelas

Related Posts

Mualem Temui Kapolri, Bahas Perdamaian Aceh dan Pemberantasan Narkoba

by Redaksi
4 November 2026
0

MASAKINI.CO – Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem membahas keberlanjutan perdamaian Aceh dan pemberantasan narkoba saat bertemu Kapolri Jenderal Polisi...

Aceh Prioritaskan Pemulihan Pascabencana dalam Pembangunan 2027

by Alya Ulfa
27 Oktober 2026
0

MASAKINI.CO – Pemerintah Aceh memprioritaskan percepatan pemulihan pascabencana dalam arah pembangunan 2027. Upaya tersebut akan dipadukan dengan penguatan ekonomi, penurunan...

Pemerintah Aceh Ajukan Rancangan APBA 2027 Sebesar Rp10,37 Triliun

by Alya Ulfa
26 Oktober 2026
0

MASAKINI.CO - Pemerintah Aceh menyampaikan Nota Keuangan dan Rancangan Qanun (Raqan) Aceh tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) Tahun...

Next Post

UU PPRT Berlaku, Hak Pekerja Rumah Tangga Kini Diatur Lebih Jelas

Delegasi Oita Bawa Lukisan Pegunungan, Simbol Persahabatan dengan Banda Aceh

Discussion about this post

CERITA

Di Sudut Punti, Rindu yang Panjang Menemukan Tempat untuk Pulang

2 November 2026

Menyusuri Kisah di Balik Nama Pulau Rubiah

28 Oktober 2026

Dari Lumpur Banjir, Kebun Edukasi MIN 42 Bireuen Tumbuhkan Semangat Baru

27 Oktober 2026

Gampong Nusa, Merawat Tradisi Aceh Lewat Wisata Budaya dan Permainan Masa Kecil

26 Oktober 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co