MASAKINI.CO – Produksi beras Indonesia meningkat menjadi 34,69 juta ton pada 2025, naik 13,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 30,62 juta ton. Kenaikan ini menjadi modal pemerintah memperkuat swasembada pangan setelah Indonesia mengimpor lebih dari 7 juta ton beras sepanjang 2023–2024.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor beras Indonesia mencapai 3,06 juta ton pada 2023 dan melonjak menjadi 4,52 juta ton pada 2024. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah dalam menjaga pasokan beras nasional di tengah tekanan perubahan iklim terhadap produksi pertanian.
Di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, target swasembada pangan yang semula direncanakan dalam empat tahun dipercepat menjadi satu tahun. Presiden Prabowo kemudian mendeklarasikan swasembada pangan pada 7 Januari 2026 di Karawang, Jawa Barat.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan peningkatan produksi didukung kebijakan dari hulu hingga hilir, mulai dari pembenahan pupuk bersubsidi, rehabilitasi irigasi, penggunaan teknologi pertanian, hingga penyerapan hasil panen petani.
“Capaian pangan tidak lahir dari satu kebijakan atau satu institusi. Ini adalah hasil kerja bersama, mulai dari petani, penyuluh, pemerintah daerah, kementerian dan lembaga, TNI, Polri, BULOG, hingga aparat penegak hukum,” kata Amran.
Untuk memperkuat produksi, pemerintah menetapkan alokasi pupuk bersubsidi sebanyak 9,55 juta ton pada 2026 dengan sasaran lebih dari 16 juta petani. Sebelumnya, harga pupuk bersubsidi diturunkan 20 persen mulai 22 Oktober 2025.
Harga pupuk urea turun dari Rp2.250 menjadi Rp1.800 per kilogram, sedangkan pupuk NPK turun dari Rp2.300 menjadi Rp1.840 per kilogram. Pemerintah juga menyederhanakan 145 regulasi yang dinilai menghambat distribusi pupuk.
Selain pupuk, pemerintah melaporkan rehabilitasi irigasi seluas 280.880 hektare dengan realisasi 99,93 persen pada tahap pertama. Untuk 2026, Kementerian Pertanian menyiapkan pompanisasi pada lahan seluas 2,2 juta hektare dan rehabilitasi irigasi sekitar 1 juta hektare guna mendukung produksi di tengah risiko iklim.
Pemerintah juga memperkuat penyerapan hasil panen melalui Perum BULOG. Hingga 8 Oktober 2026, pengadaan gabah dan beras dalam negeri mencapai 4.115.014 ton setara beras, melampaui target penugasan pemerintah sebesar 4 juta ton.
Pengadaan tersebut membantu memperkuat Cadangan Beras Pemerintah sekaligus mendukung penyerapan hasil panen petani. Namun, angka pengadaan BULOG tidak sama dengan produksi nasional karena hanya mencakup gabah dan beras yang diserap perusahaan.
Kenaikan produksi juga terjadi pada komoditas jagung. Pada 2025, produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen mencapai 16,16 juta ton, meningkat 6,74 persen dibandingkan 2024 yang sebesar 15,14 juta ton.
Meski demikian, pemerintah masih menghadapi pekerjaan lanjutan untuk mengurangi ketergantungan impor pada sejumlah komoditas, terutama kedelai, bawang putih, dan daging sapi.
Amran menegaskan peningkatan produksi harus diikuti upaya menjaga keberlanjutan swasembada, memperbaiki kesejahteraan petani, dan memastikan masyarakat memperoleh pangan dengan harga terjangkau.
“Target kita bukan hanya swasembada sesaat, tetapi kemandirian pangan yang berkelanjutan,” ujarnya.









Discussion about this post