MASAKINI.CO – Kota Banda Aceh menghasilkan sekitar 250–270 ton sampah setiap hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 70 persen merupakan sampah organik yang perlu dipilah sejak dari rumah untuk mengurangi volume sampah yang diangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA).
Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, mengatakan masyarakat perlu membiasakan pemilahan sampah berdasarkan jenisnya, terutama sampah organik dan anorganik. Jika belum dapat mengolahnya secara mandiri, masyarakat setidaknya diminta tidak mencampurkan kedua jenis sampah tersebut.
“Jadi kalau memang tidak bisa didaur ulang di rumah atau di gampong, paling tidak sampah plastik sudah diikat dengan sampah plastik. Sampah yang organik dengan yang organik,” kata Illiza dalam kegiatan penyerahan kendaraan operasional Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Keindahan Kota (DLHK3) Banda Aceh, Selasa (27/10/2026).
Menurut Illiza, pengelolaan sampah membutuhkan keterlibatan masyarakat, tidak hanya mengandalkan petugas kebersihan. Pemilahan sejak dari rumah menjadi salah satu langkah untuk memudahkan penanganan sampah sekaligus mengurangi beban pengangkutan ke TPA.
Pemko Banda Aceh juga mendorong pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui sejumlah program, seperti Waste Collecting Point (WCP), tempat pengolahan sampah reduce, reuse, recycle (TPS 3R), bank sampah, dan pengelolaan sampah di tingkat gampong.
Selain mengurangi volume sampah yang dibuang, pemilahan juga berpotensi memberikan nilai ekonomi. Sampah anorganik yang dikumpulkan secara terpisah dapat disalurkan untuk didaur ulang.
Illiza berharap masyarakat mulai membiasakan pemilahan sampah dari rumah dan ikut bertanggung jawab menjaga kebersihan lingkungan. Dengan demikian, penanganan sampah di Banda Aceh tidak hanya bergantung pada pengangkutan, tetapi juga pada upaya mengurangi dan mengelola sampah sejak dari sumbernya.








Discussion about this post