MASAKINI.CO – Pemulihan lahan pertanian terdampak bencana di Aceh terus dipacu menjelang akhir 2026. Hingga 26 Oktober, serapan anggaran pemulihan 40.852 hektare sawah rusak ringan hingga sedang baru mencapai 62,1 persen.
Percepatan pemulihan menjadi perhatian Staf Khusus Gubernur Aceh, Junaidi , saat bertemu Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Azanuddin Kurnia, Senin (26/10/2026). Dalam pertemuan tersebut, Junaidi menyampaikan masukan petani, termasuk dari kelompok tani asal Subulussalam, mengenai kondisi sawah dan kebun yang belum pulih sepenuhnya.
Ia menilai pekerjaan di lapangan perlu dipercepat sebelum intensitas hujan meningkat dan waktu pelaksanaan semakin terbatas menjelang akhir tahun. Perhatian terutama diperlukan pada sawah yang mengalami kerusakan berat, jaringan irigasi, serta perkebunan yang terdampak bencana.
“Masih ada sawah yang belum tertangani maksimal, terutama yang rusak berat. Jaringan irigasi dan infrastruktur pendukung juga perlu perhatian. Dari sisi perkebunan, komoditas kelapa sawit, kakao, kopi, pinang, dan lainnya masih memerlukan dukungan,” kata Junaidi.
Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, luas perkebunan terdampak bencana mencapai 60.438 hektare. Dari jumlah tersebut, 40.968 hektare masuk dalam program fasilitasi Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian.
Pelaksanaan program masih berlangsung, mulai dari pendataan calon petani dan calon lokasi (CPCL), pembibitan, hingga penyaluran bantuan. Komoditas kopi mencakup area terdampak seluas 30.189 hektare di lima kabupaten, kakao 9.054 hektare di 10 kabupaten, kelapa 1.230 hektare di tujuh kabupaten, serta karet 495 hektare di dua kabupaten.
Sementara itu, pemulihan 40.852 hektare sawah rusak ringan hingga sedang dibagi dalam dua tahap. Tahap pertama mencakup 28.211 hektare dan tahap kedua 12.641 hektare.
Selain penanganan lahan, pemerintah juga menjalankan pembangunan infrastruktur pendukung pertanian. Program tersebut meliputi 641 unit irigasi perpompaan, 149 unit irigasi perpipaan, 45 unit bangunan konservasi, 300 unit jaringan irigasi tersier, serta 106 unit jalan usaha tani. Capaian pelaksanaan masing-masing kegiatan berbeda.
Plt Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Azanuddin Kurnia, mengatakan pihaknya akan terus mempercepat pekerjaan sesuai kemampuan dan kewenangan yang tersedia.
“Kami berupaya memenuhi harapan masyarakat dengan sisa waktu sekitar dua bulan ini,” ujarnya.
Untuk sawah yang mengalami kerusakan berat, dinas akan mengupayakan dukungan fasilitasi dari Kementerian Pertanian pada 2027. Adapun lahan yang telah masuk sasaran program tahun ini terus dipacu pemulihannya.
Azanuddin juga mengimbau dinas pertanian kabupaten/kota agar terus mendampingi kelompok tani dan berkoordinasi dengan TNI untuk memaksimalkan pelaksanaan pekerjaan di lapangan.









Discussion about this post