MASAKINI. CO – Presiden Joko Widodo memaparkan fakta mencengangkan dari kejadian kebakaran hutan dan lahan di Indonesia pada tahun 2015. Total luas cakupan kebakaran mencapai 2,6 juta hektar. “Saya ingat kerugian saat itu mencapai Rp221 triliun,” kata Jokowi. Ia berharap kejadian tersebut tidak terulang.
Untuk mengantisipasi dan pengendalian kebakaran hutan, Jokowi mengumpulkan seluruh menteri di Istana Negara, pada Selasa 6/8, dua hari lalu. Ia meminta agar semua pihak termasuk TNI – Polri untuk memprioritaskan pencegahan dan dengan meningkatkan kegiatan patroli terpadu untuk melihat potensi munculnya titik panas di sejumlah wilayah dalam area pemantauan.
“Prioritaskan pencegahan melalui patroli terpadu, deteksi dini, sehingga kondisi harian di lapangan selalu termonitor, selalu terpantau,” kata Presiden seperti dilansir dari BPMI Sekretariat Presiden.
Jokowi menekankan, khususnya Badan Restorasi Gambut, untuk melakukan penataan pengelolaan ekosistem gambut secara berkelanjutan. Tujuan dari penataan ekosistem gambut tersebut, kata dia selain untuk menata lingkungan juga untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
“Kalau musim panas dicek benar dan harus dilakukan secara konsisten. Tinggi permukaan air tanah agar gambut tetap basah dijaga terus terutama di musim kering,” kata presiden.
Seluruh jajaran, kata presiden untuk selalu tanggap apabila menemukan titik api kecil sebelum nantinya meluas dan membesar. Kepada jajaran terkait, ia mengingatkan agar tidak meremehkan adanya titik panas yang muncul di sejumlah wilayah.
“Jangan biarkan api itu membesar. Langkah-langkah water bombing yang kalau sudah terlanjur gede itu juga tidak mudah. Tapi memang harus tetap dilakukan kalau api sudah besar,” kata Jokowi.
Jokowi juga meminta agar pelaku pembakaran hutan dan lahan untuk ditindak tanpa kompromi.
Sementara Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Wiranto, mengatakan terjadi penurunan titik panas pada tahun 2019 dibandingkan dengan tahun 2015 silam dalam periode yang sama. Besaran penurunan tersebut mencapai 81,65 persen atau 4.337 titik panas. Meski demikian, bila dibandingkan tahun 2018 dalam periode yang sama, terdapat kenaikan titik panas hingga mencapai 69 persen atau 467 titik panas yang terpantau. []










Discussion about this post