MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Rabu, Juni 3, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home Cerita

Pernah Mati Meski Tak Abadi

Riska Zulfira by Riska Zulfira
27 Juni 2023
in Cerita, Headline
0

Kebun nilam milik Pokdarwis Desa Geunteut, Lhoong, Aceh Besar.(Aulia/Pokdarwis Geunteut)

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Medio 1998 di Desa Geunteut semerbak wangi nilam telah menyeruak seisi kampung. Desa di kaki Gunung Kulu itu punya tanah yang subur. Mayoritas warga yang semula bertani padi dan tanaman lain di kebun, alih profesi jadi petani nilam.

Saat itu petani menaruh harapan tanaman nilam punya nilai jual yang bagus. Namun, eskalasi konflik bersenjata antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan pemerintah Indonesia pecah di seantero Aceh. Harga jual nilam bikin petani gigit jari. Belum lagi risiko keamanan yang terancam jika menanam nilam di kebun yang berada dalam hutan.

RelatedPosts

Jemaah Haji Aceh Mulai Pulang ke Tanah Air Mulai 15 Juni

Di Antara Barak dan Doa

Urai Kemacetan di Titik Tersibuk Banda Aceh, PUPR Lanjutkan Pelebaran Jalan T Hasan Dek

Dari pada nyawa melayang terkena peluru nyasar, satu per satu petani mundur. Nilam ditinggalkan, meski tak benar-benar mati abadi. “Baru tiga tahun belakangan kembali ada yang menanam nilam,” kata Mahmuddin kepada masakini.co pertengahan Juni 2023.

Mahmuddin warga Desa Geunteut, Kecamatan Lhoong, Aceh Besar. Pria 40 tahun itu salah satu petani yang mencoba kembali menanam nilam di Geunteut. Saban hari ia mengunjungi kebun. Jadwalnya telah diatur pagi dan sore. Memastikan tanaman itu terawat baik dan menghasilkan pundi rupiah.

Dia menceritakan banyak warga Geunteut kini telah kembali menanam nilam. Mereka yakin tanaman itu mampu mendongkrak kesejahteraan. Tak hanya di Geunteut, warga desa tetangga Umong Seribe pun juga ikutan menanam nilam.

Mahmuddin bilang petani di Kecamatan Lhoong punya luas lahan nilam bervariasi. Mulai dari 500 meter hingga 1,5 hektar. Tanaman penghasil minyak atsiri itu biasanya dipanen tujuh bulan sekali.

“Penghasilan yang didapat tentu sesuai dengan luas lahan,” katanya. Beberapa waktu lalu Mahmuddin mengaku baru saja panen. 150 kilogram nilam mampu dihasilkan kebunnya. “Tetapi itu masih berupa daun.”

Jika ingin punya nilai lebih, Mahmuddin harus menyuling hingga menghasilkan minyak nilam. Proses penyulingannya cukup sederhana. Daun nilam terlebih dahulu dikeringkan. Lalu daun kering ini dimasukan ke dalam tungku. Bagian dalam ketel disekat dengan lempeng berlubang, seperti saringan pada alat kukus. Biasanya 30 kilogram daun bisa menghasilkan 1 kilogram minyak nilam.

Kini petani di Kecamatan Lhoong pun tak perlu pusing menjual minyak nilam. Selain menjamurnya agen pengepul, juga ada satu lembaga yang menampung hasil minyak dari petani. Namanya Atsiri Research Center (ARC) bentukan Universitas Syiah Kuala (USK).

Mahmuddin lebih memilih menjual hasil nilamnya ke ARC. Lewat lembaga itu, minyak nilam lalu diambil oleh PT Ugreen Aromatic dan Koperasi Innovac.

“Petani nilam di Lhoong menjualnya ke ARC Unsyiah dengan harga Rp500 ribu per kilogram,” ujarnya. Namun ada juga pengepul yang bahkan mau menawari per kilo minyak nilam seharga Rp530 ribu. “Tapi tergantung juga dengan kualitas minyak nilamnya,” tambah Mahmuddin.

Lalu mengapa warga lebih memilih menjual ke ARC? Lembaga ini sejak beberapa tahun belakangan telah ambil peran mendampingi petani nilam di Lhoong. Para petani dibina dan dibantu produksinya.

Tak sampai di situ, ARC juga mencari perusahaan yang bisa mengarahkan dana corporate social responsibility (CSR) untuk petani nilam di sana. Salah satunya Bank Syariah Indonesia atau BSI yang tertarik membantu petani nilam Lhoong berdaya secara ekonomi.

Namun Mahmuddin menuturkan harapan minyak nilam Lhoong yang mulai bangkit itu, terus mendapat perhatian dari pemerintah. Baik dari sisi permodalan dan pengembangan terhadap petani. Sebab dia mengaku petani nilam di sana masih terkendala perawatan lahan dan alat bantu teknologi untuk memudahkan kerja petani.

“Kami di sini masih menggunakan alat tradisional dan bercocok tanam juga secara manual,” ungkapnya.

Hasil Nilam Aceh

 Berdasarkan data statistik Perkebunan Indonesia tahun 2018-2020 yang diterbitkan Direktorat Jenderal Perkebunan di Jakarta, Provinsi Aceh menjadi wilayah yang paling besar kontribusinya menghasilkan minyak nilam.

Aceh berada di puncak dengan 10 provinsi lainnya penghasil produksi minyak nilam terbanyak di Indonesia. Tanah Serambi Mekkah ini per tahun mampu menghasilkan minyak nilam ratusan ton.

Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh mencatat rata-rata produksi minyak nilam di Aceh mencapai 182 kilogram per hektar, dengan daerah produksi paling banyak di Kabupaten Aceh Utara.

“Total keseluruhan per tahunnya tiap wilayah di Aceh mampu menghasilkan produksi minyak nilam mencapai 159 ton,” kata Kepala Bidang Perbenihan, Produksi dan Perlindungan Perkebunan Distanbun Aceh, Fakhrurrazi.

Dia menuturkan, berdasarkan data statistik Perkebunan Aceh, luas lahan nilam di Aceh mencapai 1.212 hektar dan 871 hektar di antaranya merupakan luas areal nilam yang sudah menghasilkan atau panen.

Daerah yang mengembangkan komoditi nilam di Aceh tersebar di sejumlah wilayah meliputi; Aceh Singkil, Aceh Selatan, Aceh Tenggara, Aceh Barat, Aceh Besar, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Barat Daya, Gayo Lues, Aceh Tamiang, Nagan Raya, Aceh Jaya, Bener Meriah, Pidie Jaya, dan Sabang.

Dari sejumlah wilayah itu per tahunnya saja Aceh mampu menghasilkan nilam kering, yang belum diolah menjadi minyak, mencapai 950 ton. Banyaknya wilayah yang membudidayakan tanaman penghasil minyak atsiri ini, mampu menyerap tenaga kerja 3.179 petani.

Melihat pesatnya perkembangan produksi nilam itu, membuat Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh berpikir jauh agar tanaman yang punya peran penting dalam industri kosmetik, parfum, dan farmasi ini mampu mendongkrak kesejahteraan petani.

Lewat Anggaran Pendapatan Belanja Aceh (APBA) Tahun 2023, Distanbun Aceh melakukan pengembangan komoditi. Aceh Jaya dipilih sebagai lokasi.

Sebanyak 190.000 stek atau benih baru ditebar pada 18 hektar lahan di Aceh Jaya. Pemerintah juga memberi serta Pupuk Organik Cair (POC) sebanyak 126 liter.

Selain itu, untuk menjamin dapur petani tetap berasap sebelum masa panen tiba, Distanbun Aceh memberi upah lewat skema Hari Orang Kerja (HOK). Mereka yang terlibat dalam kelompok yang menjalankan program tersebut diberi upah langsung lewat rekening kelompok.

“Kerja mereka yaitu pembersihan lahan, penanaman dan perawatan di lahan tersebut,” jelas Fakhrurrazi.

Selain anggaran dari Pemerintah Aceh, dana untuk pengembangan nilam di Aceh Jaya juga mengalir dari Pemerintah Pusat. Dana itu dipakai untuk mengembangkan 10 hektar lahan di sana. Sebanyak 100 ribu bibit nilam diberikan.

“Kemudian juga ada 70 liter pupuk cair,” kata Fakhrurrazi.

Letusan senjata di masa konflik yang dulu ditakuti masyarakat Aceh dan membuat denyut pertanian minyak atsiri mati suri, kini tak lagi terjadi. Tanah subur di ujung barat Indonesia ini siap menebar aroma nilam ke seluruh negeri.

Tags: acehAceh Besaraceh jayaAtsiri Research Center (ARC)Desa GeunteutDistanbun AcehMinyak NilamPetani NilamSerambi Mekkah
Previous Post

Stok Kurang, Harga Ayam Potong di Aceh Besar Tembus Rp65 Ribu

Next Post

Pemko Lhokseumawe Larang Perempuan Ikut Takbir Keliling

Related Posts

Hari Ketiga Pencarian, Pemuda Pulau Nasi yang Terseret Arus Saat Memancing Belum Ditemukan

by Riska Zulfira
1 Juni 2026
0

MASAKINI.CO – Tim SAR gabungan masih belum menemukan Ahmad Thalha Reza (21), warga Pulau Nasi, Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh...

Remaja 13 Tahun Hilang Terseret Arus di Pantai Pulau Kapuk Lhoknga

by Redaksi
31 Mei 2026
0

MASAKINI.CO – Seorang remaja berusia 13 tahun dilaporkan terseret arus saat berwisata bersama keluarganya di Pantai Pulau Kapuk, Kecamatan Lhoknga,...

Pria Bersenjata Tombak Babi Tusuk Warga di Aceh Besar, Pelaku Diamankan Polisi

by Redaksi
29 Mei 2026
0

MASAKINI.CO - Seorang pria berinisial YS (53) diamankan Satreskrim Polres Aceh Besar setelah diduga melakukan penganiayaan menggunakan tombak babi terhadap...

Next Post
Pemko Lhokseumawe Larang Perempuan Ikut Takbir Keliling

Pemko Lhokseumawe Larang Perempuan Ikut Takbir Keliling

Jokowi Sebut Pemerintah Punya Niat Tulus Selesaikan Pelanggaran HAM Berat

Jokowi Sebut Pemerintah Punya Niat Tulus Selesaikan Pelanggaran HAM Berat

Discussion about this post

CERITA

Dari Lahan Penggembalaan ke Destinasi Favorit, Savana Indrapuri Sedot Ribuan Pengunjung

24 Mei 2026

Dari Dapur Rumahan ke Tanah Suci, Keumamah Aceh Diburu Jemaah Haji

19 Mei 2026

Menabung dari Lumpur Sawah, Halimah Berangkat Haji di Usia 85 Tahun

12 Mei 2026

Ranup yang Perlahan Asing di Tanahnya Sendiri

7 Mei 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co