MASAKINI.CO – Saber mencabut rumput di bawah pohon Arabica. Lalu setengah meter dari batang, ia sirami dengan semangkuk cairan. Sesekali ia terlihat menyeka keringat dengan jaket lusuhnya.
Warga Kampung Rejeguru, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah itu terlihat sibuk memberi pupuk organik untuk pohon kopinya. Sejak pagi, hanya 15 batang yang selesai disirami.
Hampir saban hari Seber ke kebun kopi seluas seperempat hektar miliknya. Seluruh pohon diberi pupuk buatan sendiri. Ia lakoni sejak tahun 2019 silam.
Penerapan sistem pertanian organik berawal dari rasa penasaran. Sekitar empat tahun lalu, sebuah konten video pertanian organik tidak sengaja melintas di beranda facebooknya. Sejak saat itu Seber intens belajar ilmu pertanian organik lewat konten-konten serupa di gawainya.
Di kebunnya, Seber membuat pupuk organik beragam jenis. Mulai dari kompos sampai Pupuk Organik Cair (POC), diantaranya Jamur Keburuntungan Abadi (Jakaba), Photosynthetic Bacteria (PSB) dan pupuk yang berorientasi Jadam.
Sebuah drum dan tiga guci plastik ia taruh di gubuk. Di dalamnya pupuk sedang proses fermentasi. Ada juga yang sudah matang.
“Karena organik dikenal ramah alam, jadi dalam prosesnya tidak terpisahkan dengan alam. Dalam pembuatan pupuk kita gunakan apa saja bahan non kimia yang ada di alam sekitar,” kata Seber.

Ia sempat mempraktikan cara pembuatan salah satu POC yang paling sederhana. Seber menyiapkan wadah yaitu toples plastik yang diisi air. Kentang rebus dan humus dari hutan dibalut kain, lalu direndam dalam topless. Kemudian toples ditutup, lalu disimpan selama 2 x 24 jam.
Humus hutan ungkap Seber, mengandung banyak mikro organisme baik yang berperan melawan mikro organisme jahat, dan berfungsi sebagai pengurai zat organik yang baik untuk tanah dan tanaman.
“Bila air sudah berbusa tandanya mikro organisme yang dikandung humus hutan telah berkembang, artinya pupuk telah matang dan siap digunakan. Untuk takaran 1 banding 20 atau 1 liter POC dicampurkan dengan 20 liter air. Boleh disemprot boleh juga dikocor,” tuturnya.
Untuk pembuatan kompos, lebih simpel lagi kata Seber, bahan-bahan organik seperti gulma dan sisa dapur tinggal dimasukkan ke dalam wadah. Campurkan sedikit tanah lalu tunggu matang.
Atau yang lebih sederhana lagi, dengan membiarkan saja gulma bekas babatan mesin membusuk sendirinya atau membuang sampah-sampah organik di sekitar tanaman kopi sampai terurai.
Bagi Saber, banyak kotoran cacing di sekitar pohon kopi pertanda bahwa kualitas tanah baik-baik saja. Selain mikro organisme, keberadaan cacing sebagai pengurai bahan organik dipercaya ampuh meningkatkan kualitas tanah.
Sebagai bukti, Seber menunjukan beberapa pohon kopi yang dulu daunnya berguguran hampir mati, semenjak dipupuk organik daun menghijau kembali, batang jadi lebih sehat serta berbuah cukup lebat.

Menurutnya, efek pengaplikasian pupuk organik terhadap perkembangan tanaman tidak secepat pupuk sintetis, namun memiliki keunggulan jangka panjang. Lama kelamaan tanah menjadi lebih subur dan umur tanaman jadi lebih panjang.Berbanding terbalik dengan penggunaan pupuk kimia.
Selain itu, faktor ekonomi dan kesehatan jadi pertimbangan Seber untuk beralih ke pertanian organik. Pembuatan pupuk organik tidak membutuhkan modal banyak. Cukup dengan belajar serta bijak memanfaatkan bahan organik di lingkungan sekitar.
Sistem pertanian organik menjadi solusi hidup sehat. Tanaman akan terbebas dari bahan kimia berbahaya bagi tubuh.
“Mengkonsumsi makanan organik adalah solusi hidup sehat. Dahulu Datu dan kakek kita punya tubuh sehat, kekar dan kuat. Angka harapan hidupnya juga tinggi,” kata Seber.
“Penggunaan bahan kimia yang terkandung dalam makanan menimbulkan berbagai penyakit berbahaya. Itu salah satu faktor,” pungkasnya.










Discussion about this post