MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Rabu, Mei 20, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home News

Mulai Terlupakan, Komunitas Mados Kenalkan Kembali Tari Seudati kepada Generasi Muda

Riska Zulfira by Riska Zulfira
20 November 2025
in News
0

Workshop tari seudati untuk pengenalan tradisi untuk generasi muda di Museum Aceh, Kamis (20/11/2025). | Foto: Riska Zulfira/masakini.co

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Upaya menghidupkan kembali Tari Seudati, salah satu warisan budaya Aceh yang kian jarang dipentaskan, Sanggar Meusyeuhu Aceh Dengoen Seni (Mados) menggelar kegiatan pengenalan Seudati kepada pelajar dan komunitas muda, sebuah langkah yang bertujuan menyelamatkan seni ini dari ketertinggalan zaman dan salah persepsi yang melekat di masyarakat.

Ketua Sanggar Mados, Iskandar, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan, Museum Aceh, dan BPK Wilayah I. Fokus utamanya adalah mengangkat kembali asal-usul dan makna dalam Tari Seudati agar generasi muda bisa mengenal seni ini tidak hanya dari video, tetapi melalui pembelajaran langsung.

RelatedPosts

Mualem Minta BPJS Buka Blokir JKA, Kepesertaan Warga Aceh Diminta Diaktifkan Kembali

Satpol PP-WH Banda Aceh Minta Teguran terhadap Pelanggar Syariat Dilakukan Secara Wajar

Dari Bullying hingga Krisis Literasi, Pelajar SMKN 1 Banda Aceh Suarakan Keresahan Lewat Film Dokumenter

“Seudati sekarang sudah sangat jarang. Banyak anak muda cuma tahu dari internet. Kita ingin mereka mengenal, bahkan bisa memperagakan elemennya,” kata Iskandar, Kamis (20/11/2025).

Menurutnya, pelajar adalah pihak yang paling tepat menjadi penerus agar Seudati tidak semakin menghilang dari ruang-ruang budaya Aceh.

Seniman Aceh, Chairul Anwar, yang turut hadir sebagai narasumber, menjelaskan bahwa salah satu bentuk tradisi tarian Seudati, yaitu Seudati Tunang, kini jarang dipentaskan karena masalah di masa lalu. Menurutnya, kesalahpahaman dan masuknya unsur-unsur yang tidak relevan memicu konflik antarkelompok.

“Kini banyak narasi-narasi negatif yang memicu hal-hal tidak penting. Akibatnya banyak peristiwa yang tidak diinginkan. Karena itu beberapa wilayah, termasuk Aceh Besar, melarang pertunjukan tunang,” katanya.

Chairul menyebutkan tunang sebenarnya adalah adu ritme dan keluwesan antara dua kelompok penari. Kelompok yang tidak mampu mengikuti irama dianggap kalah. Namun dalam praktiknya, informasi-informasi pribadi seringkali dibawa ke atas pentas, membuat suasana menjadi tidak sehat.

Meski begitu, ia menegaskan bahwa Seudati tidak punah. “Ia tetap lestari, hanya saja seperti anak kehilangan ibu. Penarinya sedikit, dan terdapat aneuk cahe dan syeh hanya bisa lahir dari bakat alami. Kalau diajar secara hafalan justru hilang rohnya,” jelasnya.

Selain itu, sejarawan Aceh, Imam Juwaini, memberikan penjelasan mengenai perjalanan sejarah Seudati. Ia menyebutkan bahwa seni ini berkembang sejak abad ke-17 dan berakar dari kata Syahadat yang berarti bersaksi atau dalam islam berarti pengakuan terhadap Tuhan dan Nabi.

“Seudati berkembang dari tradisi keagamaan menjadi permainan rakyat dan akhirnya seni pertunjukan. Semua unsur di dalamnya kuat dengan nilai-nilai Islam,” ujarnya.

Seudati dimainkan oleh delapan orang penari, lengkap dengan peran seperti syekh, aneuk cahe, dan apeet bak. Struktur kepemimpinan dalam pertunjukan ini melambangkan filosofi sosial masyarakat Aceh, yakni adanya pemimpin dan kelompok pendukung.

Melalui kegiatan ini, para penggerak seni berharap generasi muda dapat kembali memahami kekayaan budaya Aceh, terutama Seudati yang memiliki nilai estetika, sejarah, dan spiritual yang kuat.

“Kalau tidak dikenalkan sekarang, lama-lama hilang. Padahal Seudati adalah identitas Aceh,” pungkas Iskandar.

Tags: Anak mudaKomunitas MadosMuseum AcehSeni AcehTari Seudati
Previous Post

Polres Bener Meriah Gagas Program Mengemudi Gratis

Next Post

Banda Aceh Raih Predikat Sangat Baik dalam Evaluasi Kinerja Pengelolaan Pengaduan Pemda

Related Posts

Ribuan Manuskrip Aceh Belum Tergarap, Mahasiswa UIN Ar-Raniry Turun Langsung ke Museum

by Ahmad Mufti
6 Mei 2026
0

MASAKINI.CO - Ribuan manuskrip kuno Aceh yang tersimpan di Museum Aceh masih belum terdokumentasi secara menyeluruh. Kondisi ini mendorong mahasiswa...

UNDP dan Uni Eropa Dukung Peran Kaum Muda dan Media di Indonesia untuk Bisnis

UNDP dan Uni Eropa Dukung Peran Kaum Muda dan Media di Indonesia untuk Bisnis

by Alfath Asmunda
18 Januari 2025
0

MASAKINI.CO - United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia dan Uni Eropa (UE) mengadakan dialog kolaboratif mengenai “Voices of the Future:...

Pameran Keliling Museum Aceh di UIN Ar-Raniry, Yuk Lihat Koleksinya

Pameran Keliling Museum Aceh di UIN Ar-Raniry, Yuk Lihat Koleksinya

by Alfath Asmunda
3 Desember 2024
0

MASAKINI.CO - Museum Aceh menggelar pameran keliling koleksi museum di UIN Ar-Raniry. Pameran bertema “Kenali Sejarah Agar Tak Salah Melangkah”...

Next Post

Banda Aceh Raih Predikat Sangat Baik dalam Evaluasi Kinerja Pengelolaan Pengaduan Pemda

5 Pejabat BPKD Aceh Barat Jadi Tersangka Korupsi Insentif Pajak

Discussion about this post

CERITA

Dari Dapur Rumahan ke Tanah Suci, Keumamah Aceh Diburu Jemaah Haji

19 Mei 2026

Menabung dari Lumpur Sawah, Halimah Berangkat Haji di Usia 85 Tahun

12 Mei 2026

Ranup yang Perlahan Asing di Tanahnya Sendiri

7 Mei 2026

Dari Kuli Panggul ke Pencerita Visual, Perjalanan Sunyi Yulzi di Balik Lensa

1 Mei 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co