MASAKINI.CO – Isu kesehatan mental, bullying, hingga rendahnya literasi akibat distraksi digital kini mulai disuarakan pelajar melalui karya film. Sejumlah siswa SMK Negeri 1 Banda Aceh berhasil memproduksi dua film dokumenter yang mengangkat realitas kehidupan remaja masa kini lewat program pelatihan perfilman yang didukung Dana Indonesiana.
Dua film berjudul Biru dan Aksara Partner diputar perdana dalam kegiatan “Pelatihan Film, Literasi Media, dan Ekspresi Budaya Bagi Pelajar” di SMKN 1 Banda Aceh, Rabu (20/5/2026).
Program tersebut diinisiasi penerima manfaat Dana Indonesiana, Rizqa Wahyu Ramadhan, bersama komunitas Kolaborasi Kita Kreatif (K3). Rangkaian kegiatan dimulai sejak 23 April 2026 melalui pelatihan penulisan cerita, sinematografi, editing, hingga pendampingan produksi film secara langsung oleh para mentor hingga pemutaran film yang berlangsung hari ini.
Rizqa mengatakan program itu lahir dari keresahan terhadap pola konsumsi media generasi muda yang dinilai semakin tidak sehat. Menurutnya, banyak remaja saat ini hanya menjadi penonton media sosial tanpa memiliki kemampuan menyaring informasi secara kritis.
“Anak-anak sekarang sebenarnya punya potensi besar menjadi kreator. Tapi mereka lebih banyak mengonsumsi konten yang kurang edukatif. Dari situ kami ingin membangun literasi media agar mereka bisa memanfaatkan media sosial secara lebih positif,” ujar Rizqa.
Ia menjelaskan, pelatihan tersebut bukan sekadar mengajarkan cara membuat film, tetapi juga menjadi ruang bagi pelajar untuk menyampaikan keresahan mereka sendiri melalui karya visual.
Film Biru menjadi salah satu karya yang paling menyita perhatian penonton. Film dokumenter itu diangkat dari pengalaman pribadi sang sutradara yang pernah mengalami bullying dan kesulitan mendapatkan dukungan terhadap hobinya saat SMP.
Dalam film tersebut, sang sutradara menceritakan bagaimana dirinya sempat merasa terpuruk akibat perundungan dan tekanan lingkungan. Namun, kondisi itu perlahan berubah setelah ia menemukan lingkungan yang lebih menerima dirinya di bangku SMK.
“Film ini lahir dari kisah nyata. Dia pernah mengalami bullying dan merasa hobinya tidak didukung. Tapi ketika masuk SMK, dia menemukan circle yang menerima dirinya sehingga bisa berkembang,” kata Rizqa.
Sementara film Aksara Partner mengangkat persoalan menurunnya minat literasi di kalangan pelajar akibat pengaruh media digital, game, hingga kebiasaan scrolling media sosial yang berlebihan.
Sutradara film tersebut, Talita Zahira, mengatakan ide cerita muncul setelah tim melakukan observasi terhadap kebiasaan siswa di sekolah.
“Kami melihat literasi mulai terganggu karena distraksi digital. Banyak siswa terlalu bergantung pada gadget, scrolling, game, bahkan AI tanpa diimbangi budaya membaca dan berpikir kritis,” ujarnya.
Menurut Talita, film itu juga memperlihatkan bagaimana komunitas literasi di perpustakaan sekolah berupaya mengajak siswa kembali membangun kebiasaan membaca dan berdiskusi.
Meski diproduksi oleh pelajar, proses pembuatan kedua film tersebut dilakukan cukup serius. Para siswa dibimbing mulai dari tahap pencarian ide, penulisan naskah, pengambilan gambar, tata suara, editing, hingga proses penyutradaraan.
Mentor program sekaligus anggota komunitas K3, Andri Saputra, mengatakan SMKN 1 Banda Aceh dipilih karena memiliki jurusan yang berkaitan dengan industri kreatif seperti animasi dan desain komunikasi visual.
“Film itu punya banyak ruang kreatif. Ada animasi, fotografi, editing, sinematografi, sampai desain promosi. Jadi sangat relevan dengan jurusan yang ada di SMK ini,” ujarnya.
Andri menilai Aceh hingga kini masih minim komunitas film pelajar yang aktif dan produktif. Karena itu, ia berharap program tersebut dapat menjadi awal lahirnya ruang kreatif baru bagi siswa di Banda Aceh.
“Kami berharap sekolah nantinya bisa melanjutkan ini menjadi komunitas film pelajar. Karena di Aceh hampir tidak ada komunitas film pelajar yang aktif menghasilkan karya secara konsisten,” katanya.
Pemutaran film itu turut mendapat respons positif dari para siswa. Salah seorang siswi jurusan animasi, Keyzi, mengaku bangga melihat teman-temannya mampu menghasilkan karya yang dinilai dekat dengan kehidupan remaja saat ini.
“Filmnya sangat relate dengan kehidupan sehari-hari. Kita jadi belajar tentang pentingnya menjaga kesehatan mental dan meningkatkan literasi,” ujarnya.
Sementara Zahira Ulfa menilai film tersebut memberi pesan penting tentang pentingnya mencari lingkungan pertemanan yang sehat dan mendukung.
“Kadang masalah mental itu muncul karena lingkungan yang tidak nyaman. Film ini mengingatkan kita untuk lebih menghargai orang lain,” katanya.
Hal senada disampaikan Asyi Syifa yang mengaku kagum melihat teman-temannya mampu menghasilkan karya film meski sebelumnya belum memiliki pengalaman produksi.
“Walaupun masih pelajar dan belum berpengalaman, hasil filmnya luar biasa. Pesan yang disampaikan juga kuat,” ujarnya.
Ke depan, para penyelenggara berharap kedua film tersebut tidak hanya berhenti diputar di lingkungan sekolah, tetapi juga dapat ditayangkan di ruang publik dan festival pelajar sebagai media edukasi bagi generasi muda lainnya.










Discussion about this post