MASAKINI.CO – Sejumlah warga Aceh Tamiang masih syok mengingat derasnya banjir besar yang menghantam pemukiman mereka pada akhir pekan lalu. Ishak alias Kureng, warga Desa Menang Gini, menjadi salah satu korban yang selamat setelah empat hari terjebak bersama puluhan warga lain. Ia menceritakan air mulai naik pada Rabu malam dan terus meninggi hingga mencapai lebih dari tiga meter.
“Hari Jumat baru mulai surut sedikit. Sabtu kami bisa keluar cari makan. Kami terjebak empat hari empat malam,” ujarnya. Menurutnya, arus banjir begitu kencang hingga menghancurkan rumah-rumah di sepanjang desa.
Selain Kureng, Wahyu Putra Pratama, warga Kampung Dalam, Karang Baru, menyampaikan kondisi serupa. Ia menyebut air naik hanya dalam waktu satu setengah jam hingga setinggi kabel listrik. “Rumah sudah hancur semua. Kami selamat karena cepat mengungsi ke kantor KPA,” katanya.
Selama terjebak hampir enam hari, warga bertahan hidup dengan memakan apa pun yang bisa ditemukan. Wahyu memperkirakan hanya 20 persen bangunan yang masih berdiri, sementara ratusan rumah lainnya rata dengan tanah. “Korban jiwa sekitar 250 orang, termasuk yang belum ditemukan. Ini seperti tsunami, cuma airnya dari sungai,” ucapnya.
Di tengah situasi darurat ini, Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem, turun langsung ke Aceh Tamiang pada Rabu (3/12/2025) malam. Ia menembus gelapnya malam dan kondisi listrik yang padam untuk menyalurkan bantuan.
Rombongan berangkat dari Lhokseumawe dan tiba menjelang tengah malam. Jalanan yang masih dipenuhi lumpur, kendaraan rusak, serta perumahan yang porak-poranda menjadi pemandangan pertama yang ia saksikan saat memasuki kawasan tersebut.
Mualem kemudian melanjutkan perjalanan ke Kampung Dalam, salah satu wilayah yang mengalami kerusakan terparah. Di lokasi itu, ia meninjau bangunan warga yang rata dengan tanah dan menyerahkan bantuan logistik. Total 30 ton sembako disalurkan, terdiri dari air minum, beras, mi instan, biskuit, telur, dan obat-obatan. “Kita sedih dan pilu melihat kondisi ini. Kita harap rakyat Aceh tabah menghadapi cobaan,” ujarnya di sela penyaluran bantuan.
Ia menambahkan bahwa kebutuhan mendesak warga saat ini adalah air bersih dan tabung elpiji, selain bahan pokok. “Dalam beberapa hari ke depan, bantuan tambahan akan kita kirimkan dan kita perbaiki lokasi-lokasi terdampak,” kata Mualem. Setelah dari Kampung Dalam, rombongan kembali menuju arah Langsa dan kembali menyalurkan bantuan ke posko-posko pengungsian di sepanjang jalur Banda Aceh–Medan.
Sementara itu, Rudi, warga Medan yang menginisiasi bantuan 30 ton sembako untuk korban banjir, mengatakan pihaknya akan mengirim tambahan logistik. “Besok ada truk berikutnya. Kami juga buka posko bagi warga Medan yang ingin menyumbang,” ujarnya. Bantuan tersebut diharapkan dapat menjangkau korban yang masih kesulitan mendapatkan kebutuhan pangan dan medis.
Hingga kini, sebagian warga masih bertahan di posko pengungsian dengan kondisi terbatas. Banyak anak-anak mulai jatuh sakit akibat kurangnya air bersih dan tingginya kelembapan pascabencana.
Para korban berharap pemerintah dapat segera membangun kembali akses transportasi serta mempercepat pendistribusian bantuan agar kebutuhan dasar warga terdampak bisa segera terpenuhi.










Discussion about this post