MASAKINI.CO – Ribuan warga di Kabupaten Aceh Timur, khususnya di wilayah pedalaman, kini menghadapi krisis air bersih setelah banjir dan tanah longsor melanda wilayah tersebut. Para korban yang bertahan di tenda-tenda pengungsian mengaku sangat kesulitan memperoleh air layak konsumsi maupun untuk kebutuhan harian.
Di sejumlah titik pengungsian, warga terpaksa memanfaatkan air seadanya bahkan sebagian korban harus merebus air sungai yang telah bercampur lumpur banjir karena tidak ada pilihan lain untuk bertahan hidup. Situasi diperburuk oleh endapan lumpur tebal yang menutup sumber air rumah tangga serta fasilitas umum yang sebelumnya menjadi tumpuan warga.
Krisis air bersih ini menyebabkan anak-anak di pengungsian mengalami berbagai keluhan seperti gatal-gatal, diare, hingga dehidrasi.
“Air bersih sangat kurang. Untuk masak kami harus berusaha mencari apa saja yang bisa dipakai, sementara air minum juga mulai menipis,” kata Seorang warga Gampong Beusa Meurano, Kecamatan Peureulak Barat, Ainun, Sabtu (6/12/2025).
Menurutnya, air minum bantuan pemerintah menjadi satu-satunya sumber yang masih aman digunakan. Namun untuk mandi dan mencuci, warga terpaksa menggunakan air sungai yang tetap keruh meski telah beberapa kali surut.
“Tidak ada pilihan lain, air bersih sangat terbatas,” katanya.
Kondisi darurat ini dikhawatirkan dapat menimbulkan dampak berlapis, mulai dari risiko penyakit menular, tekanan psikologis, hingga masalah sosial di lingkungan pengungsian yang semakin padat.
Warga pun berharap pasokan air bersih dapat segera dipercepat, disertai bantuan perbaikan rumah yang rusak berat akibat terjangan banjir.










Discussion about this post