MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Senin, Agustus 24, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home Foto

Menggapai Desa yang Terputus

Ahmad Mufti by Ahmad Mufti
11 Desember 2025
in Foto
0

Dua warga saling menggenggam tangan saat proses evakuasi berlangsung. | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Banjir dan longsor yang melanda bagian utara Pulau Sumatra akhir November 2025, dipicu oleh Cyclone Senyar tercatat sebagai salah satu bencana alam paling dahsyat di masa modern. Di Kabupaten Bireuen, Aceh termasuk Desa Kubu dampaknya terasa sangat parah, rumah terendam lumpur, akses jalan terputus dan banyak desa terisolasi.

Sisa-sisa jembatan penghubung di Kecamatan Peusangan tampak ambruk terseret banjir, Selasa (2/12/2025). | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Saat tim bantuan dan relawan bergerak menuju Desa Kubu dan kawasan terdampak lain di Peusangan, tantangan besar muncul, kendaraan tak bisa lewat. Beberapa jembatan penghubung yang biasa dilewati warga hancur atau ambruk diterjang arus deras, memutus jalur transportasi darat.

RelatedPosts

Pantai Drini, Ruang Wisata di Pesisir Gunungkidul

Di Antara Barak dan Doa

The Land from Above

Tim relawan menyeberangi sungai menggunakan perahu karet saat mengantar bantuan, Selasa (2/12/2025). | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Dalam kondisi darurat ini, penyeberangan menggunakan perahu karet milik Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) serta speedboat Ditpolairud Polda Aceh menjadi satu-satunya cara untuk menjangkau desa seperti Desa Kubu yang terisolasi.

Warga duduk di pinggir sungai sambil menunggu bantuan logistik, selasa (2/12/2025). | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Di tepi sungai, warga berkumpul menunggu bantuan, banyak dari mereka tampak lelah, khawatir sambil memandangi jembatan yang kini terbelah dua. Pemandangan menyayat, sebuah jalur vital kini hanyalah seutas kenangan, sementara warga menanti tangan bantuan melalui perahu di sungai.

Lapangan bola yang kini tertutup lumpur akibat banjir di Desa Kubu, Peusangan Siblah Krueng, Bireuen, Selasa (2/12/2025). | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Sesampainya di desa, pasca penyeberangan, terlihat bagaimana banjir mengubah lanskap hidup. Lapangan bola yang dulu ruang bermain dan interaksi warga, kini berubah menjadi dataran tak berwujud, dipenuhi tumpukan pasir dan lumpur. Area luas yang biasanya hidup dengan aktivitas warga kini sepi dan penuh kerusakan.

Warga bersama menyiapkan dapur umum di halaman meunasah, Selasa (2/12/2025). | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Rumah-rumah banyak yang dipenuhi lumpur hingga ke lantai dasar, ruangan seperti dapur, ruang tamu, bahkan kamar tidur tak luput dari kerusakan. Banyak keluarga belum bisa kembali, karena kondisi rumah yang sama sekali tidak bisa ditinggali.

Tim Ditpolairud bersama relawan mengevakuasi seorang warga lanjut usia di Desa Kubu, Peusangan Siblah Krueng, Bireuen, Selasa (2/12/2025). | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Sebagai respons darurat, warga bersama relawan mendirikan dapur umum di meunasah desa, pusat penyediaan makanan dan kebutuhan dasar bagi pengungsi sementara.

Petugas dan relawan menyiapkan bantuan di tepi sungai untuk dikirim ke lokasi yang terisolir, Selasa (2/12/2025). | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Upaya evakuasi dan distribusi bantuan tetap dilakukan secara intensif oleh Ditpolairud, relawan hingga Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) dan masyarakat lokal. Kerja sama antara lembaga, relawan dan warga menjadi harapan penting bagi pemulihan akhir bagi desa-desa terdampak di Bireuen.

Tags: Banjir AcehBencana AcehDaerah terisolir
Previous Post

80 Ton Bantuan di Bener Meriah Diduga Hilang

Next Post

Tokoh Masyarakat Bireuen Bantah Isu Pungutan Rp75 Ribu di Penyeberangan Darurat Teupin Mane

Related Posts

Koalisi Sipil Soroti Pemulihan Pascabencana Aceh, Sebut Dampak Ekologis Masih Berlangsung

by Aininadhirah
14 Agustus 2026
0

MASAKINI.CO – Koalisi Masyarakat Sipil Peduli Bencana menilai penanganan dampak bencana ekologis di Aceh belum sepenuhnya tuntas. Sejumlah persoalan seperti...

PFI Luncurkan Buku Prahara Pulau Emas, Rekam Jejak Bencana dalam 130 Foto Jurnalistik

by Aininadhirah
3 Agustus 2026
0

MASAKINI.CO – Pewarta Foto Indonesia (PFI) meluncurkan buku Prahara Pulau Emas sebagai bagian dari rangkaian pameran foto jurnalistik bertajuk sama...

Delapan Bulan Pascabencana, Tambang dan Perambahan Hutan Masih Terjadi di Nagan Raya

by Riska Zulfira
27 Juli 2026
0

MASAKINI.CO – Delapan bulan setelah bencana hidrometeorologi melanda sejumlah wilayah Aceh, Yayasan APEL Green Aceh menyoroti masih berlangsungnya aktivitas yang...

Next Post

Tokoh Masyarakat Bireuen Bantah Isu Pungutan Rp75 Ribu di Penyeberangan Darurat Teupin Mane

Aceh Perpanjang Status Tanggap Darurat Bencana hingga 25 Desember

Discussion about this post

CERITA

Dari Banda Aceh ke Pelosok Papua, Reza Mencari Potensi yang Tersembunyi di Teluk Wondama

12 Agustus 2026

Sepuluh Tahun Menjaga Tradisi Merah Putih, Kisah Safura Merawat Rezeki dari Lapak Bendera

4 Agustus 2026

Liberika Tangse, Kopi Langka Beraroma Nangka

20 Juli 2026

Dari Lhoknga, Anyaman Bambu Menganyam Jalan ke Pasar Dunia

19 Juli 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co

 

Memuat Komentar...