MASAKINI.CO – Serikat Teater Sapulidi Banda Aceh akan mementaskan sebuah lakon berjudul “Aroma Bumoe” hasil adaptasi dari cerita pendek berjudul “Hikayat Asam Pedas”, karya Azhari Aiyub di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Jakarta pada 14 Desember 2025.
Produksi pertunjukan teater akhir tahun tersebut merupakan rangkaian panjang Festival Teater Indonesia yang dihelat oleh Persatuan Nasional Teater Indonesia (Penastri) di empat kota; Jakarta, Medan, Palu dan Mataram dan telah berlangsung sejak 12 Desember silam.
Proses adaptasi cerita pendek menjadi naskah lakon drama merupakan tema besar festival dimana setiap kelompok terseleksi harus memilih salah satu karya sastra, baik novel atau cerita pendek, untuk dialih-wahana menjadi karya seni pertunjukan.
Serikat Teater Sapulidi terpilih mewakili Aceh diantara sejumlah besar kelompok teater legendaris di Indonesia semisal Teater Kubur dari Jakarta, untuk menampikan karya adatasi sastra ke atas panggung.
Sebagai satu sastrawan nasional dari Aceh, karya Azhari Aiyub yang dipilih untuk diolah menjadi cerita drama. Sutradara lakon ini, Ramdiana, melihat kemungkinan luas untuk memberi gaung besar bagi soal-soal kemanusiaan yang belum selesai dalam teks cerita pendek di atas.
Potensi dan peranan perempuan di tengah konflik, dalam peluruhan bencana alam besar di Aceh serta pengorbanan senyap yang tak pernah tercatat sejarah terpendam indah dan diungkap dalam jalinan adaptasi yang ditulis oleh Melia Yusfiza, yang juga merangkap sebagai pemain, dibantu oleh Fauzan Santa sebagai konsultan dramaturgi.
Proses latihan keras sudah dimulai sejak akhir September silam dengan melibatkan sejumlah pemain di Aceh, dan penata artistik nasional yang akan mewujudkan sebuah panggung estetik di gedung pertunjukan besar di Jakarta.
Para aktor yang masih berstatus mahasiswa Program Studi Sendratasik FKIP Universitas Syiah Kuala seperti Farhan Rizki Muttaqin, Ikram, Aulia Rahman dan Bakri Kismar Siagian bertekad untuk bermain kuat dalam lakon yang menguras emosi ini.
Selain mereka juga korban terdampak bencana banjir bandang Aceh-Sumatra, naskah lakon yang diproduseri oleh T. Zufajri ini juga memberi peluang untuk mengurai ihwal derita rakyat Aceh dalam bencana demi bencana.
Ini awal Serikat Taeter Sapulidi berpentas di sana sehingga tantangan berat untuk meramu konsep artistik pertunjukan yang sesuai dengan konteks penikmat seni ibu kota.
Konsep pentas sandiwara rakyat Aceh “Geulanggang Labu” dengan pola penyutrradaraan “Maruhoi Effect” adalah tawaran strategis untuk merumuskan dan mengucapkan perihal “Realisme Aceh” dalam kesenian kontemporer.
Pertunjukan yang berdasarkan cerpen “Hikayat Asam Pedas” dengan latar gebalau konflik Aceh yang diteruskan dengan kondisi-kondisi aktual terkini, mengisahkan seorang nenek yang sangat berhasrat untuk memasak kuah asam pedas tetapi ia tak punya apa-apa untuk diracik menjadi hidangan khas Aceh-Melayu itu.
Perjalanan mencari bahan rempah dan ikan menyeret dia dalam persoalan lain yang lebih berat dan mengancam hidup. Ia harus menentukan sikap di saat kuah asam pedas sudah mendidih, semendidih suasana hatinya.










Discussion about this post