MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Selasa, Juli 28, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home News

SPI Sebut Bencana di Aceh Hancurkan Hampir Seluruh Lahan Pertanian

Redaksi by Redaksi
17 Desember 2025
in News
0

Kondisi lahan pertanian warga setelah terjadi bencana banjir di Aceh beberapa waktu lalu. | Foto : Ist

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Bencana banjir yang melanda berbagai wilayah di Sumatra pada akhir November lalu telah mengakibatkan kerusakan yang sangat parah terhadap perumahan, permukiman masyarakat, infrastruktur, serta kehidupan pertanian rakyat.

Dampak bencana ini dirasakan luas dan berkelanjutan, terutama oleh petani dan masyarakat desa yang bergantung langsung pada lahan pertanian dan lingkungan sekitarnya.

RelatedPosts

Setelah Capai 35,4 Derajat Celsius, Suhu Banda Aceh Diprakirakan Turun Besok

Sawah Aceh Besar Mulai Mengering Akibat Debit Air Irigasi Menurun 

Pameran Prahara Pulau Emas Tampilkan Jejak Bencana Sumatra Lewat Foto Jurnalistik di Tanah Datar

Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI), Henry Saragih, yang saat ini berada langsung di wilayah terdampak di Aceh, menyampaikan bahwa kondisi di lapangan menunjukkan kerusakan yang hampir menyeluruh.

Sawah-sawah petani rusak berat dan dipenuhi lumpur, termasuk area persawahan di Kawasan Daulat Pangan SPI, Pusdiklat Bingkai Alam Raya, sebuah pusat pendidikan dan pelatihan petani yang dibangun pada 2006 pascatsunami.

“Semua area persawahan di sini rusak. Seharusnya saat ini sudah memasuki masa tanam, tetapi kondisi lahan tidak memungkinkan karena lumpur dan kerusakan yang sangat parah,” ujarnya.

Kerusakan tersebut juga dialami oleh sawah-sawah petani di sekitar Pusdiklat. Petani menjadi kelompok yang paling terdampak karena umumnya bermukim di wilayah pinggiran sungai.

Banjir yang terjadi di Aceh Tamiang, khususnya di kawasan yang bermuara ke Kuala Simpang, menunjukkan kerusakan serius pada Daerah Aliran Sungai (DAS).

Menurut SPI, kondisi ini tidak cukup ditangani hanya dengan pembersihan lumpur dan sampah kayu di kawasan permukiman dan pertanian warga.

Hingga saat ini hujan masih terus berlangsung, sehingga pemerintah perlu memberikan peringatan dini, arahan yang jelas, serta langkah mitigasi untuk menghadapi potensi banjir susulan yang masih mengancam keselamatan rakyat.

Henry menegaskan bahwa pemerintah juga harus memikirkan secara serius kehidupan petani dan masyarakat desa pascabencana. Banyak rumah warga hancur, tanaman pangan rusak, dan perkebunan rakyat tidak dapat dipanen.

Menurutnya, tanpa intervensi negara yang kuat, petani tidak akan mampu memulihkan kehidupan dan produksi pertaniannya secara mandiri.

Lebih jauh, SPI menilai bahwa bencana ini merupakan dampak dari tidak dijalankannya reforma agraria. Tidak ada penataan kawasan pertanian pangan yang harus dilindungi, tidak ada pengelolaan kawasan perkebunan, kehutanan, dan permukiman rakyat yang adil dan berkelanjutan.

Bahkan penataan desa dan kota pun diabaikan, sehingga kerentanan terhadap bencana terus berulang. Oleh karena itu, SPI menegaskan bahwa momentum bencana ini harus menjadi titik balik pelaksanaan reforma agraria.

Ia mengatakan ini adalah momentum untuk melaksanakan reforma agraria. Pemerintah harus mencabut izin-izin eksploitasi hutan di hulu sungai, menindak perkebunan kelapa sawit, terutama yang tidak memiliki izin, serta mencabut HGU (Hak Guna Usaha) perkebunan sawit di wilayah hulu sungai.

“Tanah-tanah yang layak harus dibagikan kepada petani untuk pertanian pangan rakyat. Inilah inti dari pentingnya reforma agraria dilaksanakan. Reforma agraria membawa keadilan, tanah bagi petani, kelestarian bagi masyarakat,” tegas Ketua Umum SPI tersebut.

Secara khusus, SPI meminta Presiden Prabowo Subianto untuk menetapkan bencana banjir di Sumatra sebagai bencana nasional. Penetapan ini sangat penting untuk menggerakkan seluruh instrumen pemerintahan agar bekerja cepat dan terpadu dalam memulihkan kondisi rakyat.

“Rakyat sudah tidak sanggup jika hanya mengandalkan kekuatannya sendiri untuk membersihkan rumah, membangun kembali pertanian, dan memperbaiki infrastruktur,” tegasnya.

Kondisi serupa juga terlihat di Kota Kuala Simpang, di mana aktivitas pertokoan belum berjalan normal, lumpur masih menggenangi jalanan, dan warga berjuang membersihkan rumah mereka tanpa ketersediaan air bersih. Kantor-kantor pemerintahan pun masih terdampak, dan situasi serupa terjadi di kampung-kampung sekitar.

Hingga Rabu (17/12/2025), di wilayah perbatasan Langkat dan Aceh Tamiang, petani dan masyarakat desa masih berupaya membersihkan lumpur dari rumah mereka, sementara air bersih belum tersedia dan listrik belum menyala.

Lanjutnya, hujan kembali turun dengan deras sejak dini hari, memperparah situasi. Ketiadaan listrik menjadi hambatan serius dalam penanganan darurat di lokasi terdampak.

Serikat Petani Indonesia menegaskan akan terus berada bersama rakyat terdampak bencana, mengkonsolidasikan solidaritas, serta mendorong negara untuk hadir secara penuh dalam melindungi kehidupan petani dan masyarakat desa dari dampak krisis ekologis yang terus berulang.

Tags: Banjir AcehBanjir LongsorBencana AcehLahan PertanianSerikat Petani Indonesia (SPI)
Previous Post

Forum PRB Minta Presiden Tetapkan Komando Nasional untuk Percepat Pemulihan Bencana Aceh

Next Post

22 Hari Pascabencana Aceh-Sumatra, Warga Masih Terjebak Krisis Layanan Dasar

Related Posts

Delapan Bulan Pascabencana, Tambang dan Perambahan Hutan Masih Terjadi di Nagan Raya

by Riska Zulfira
27 Juli 2026
0

MASAKINI.CO – Delapan bulan setelah bencana hidrometeorologi melanda sejumlah wilayah Aceh, Yayasan APEL Green Aceh menyoroti masih berlangsungnya aktivitas yang...

Aceh Tamiang Mulai Tanam Padi Perdana Pascabencana

by Ahmad Mufti
6 Juli 2026
0

MASAKINI.CO – Pemerintah Aceh memulai gerakan tanam padi perdana pascabencana hidrometeorologi di Desa Bukit Panjang, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh...

Enam Bulan Pascabencana, Gubernur Minta Prioritas Pemulihan Sawah dan Irigasi Terdampak

by Redaksi
10 Juni 2026
0

MASAKINI.CO - Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, menegaskan masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dalam pemulihan dampak banjir dan longsor...

Next Post

22 Hari Pascabencana Aceh-Sumatra, Warga Masih Terjebak Krisis Layanan Dasar

Pasca Gempa Tektonik, Status Gunung Burni Telong Kembali ke Level II Waspada

Gunung Burni Telong Dikabarkan Berpotensi Erupsi, Warga Diimbau Tidak Termakan Isu

Discussion about this post

CERITA

Liberika Tangse, Kopi Langka Beraroma Nangka

20 Juli 2026

Dari Lhoknga, Anyaman Bambu Menganyam Jalan ke Pasar Dunia

19 Juli 2026

Kehilangan Kaki dan Suami, Asmiati Menyimpan Harapan untuk Kembali Berdiri

17 Juli 2026

Gigi Ngilu Jangan Diabaikan, Kenali 5 Varian Sensodyne Sesuai Keluhan Sebelum Membeli

16 Juli 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co