MASAKINI.CO – Bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh belakangan ini mengungkap kelemahan kesiapan infrastruktur daerah dalam menghadapi kejadian ekstrem.
Guru Besar Ilmu Hidroteknik Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala (USK), Prof. Dr. Syamsidik, menilai sistem pengendalian banjir yang ada saat ini belum dirancang untuk menahan bencana dengan skala sebesar yang baru terjadi.
Menurut Syamsidik, selama ini perencanaan infrastruktur di Aceh masih berpatokan pada banjir tahunan yang relatif rutin. Padahal, karakter bencana yang terjadi kali ini jauh melampaui asumsi desain awal.
“Infrastruktur kita tidak didesain untuk kejadian sebesar ini. Karena itu, saat proses rehabilitasi dan rekonstruksi, desain harus dievaluasi dan direvisi,” ujar Syamsidik, Sabtu (27/12/2025).
Syamsidik menjelaskan, jika dibandingkan dengan tsunami, bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang dan badai memiliki frekuensi kejadian yang jauh lebih sering. Karena itu, kewaspadaan dan kesiapan mitigasi perlu ditingkatkan.
Ia mengungkapkan, berdasarkan data lintasan badai selama 150 tahun yang direkam NASA, wilayah Aceh sebelumnya tidak memiliki catatan jalur badai siklon.
Bahkan pada peristiwa serupa tahun 2001, badai yang terbentuk di sekitar Selat Malaka tidak berkembang dan tidak menghantam Aceh. Berbeda dengan kondisi saat ini, di mana dampaknya dirasakan secara luas.
“Ini kejadian pertama badai besar terbentuk dan berdampak langsung di wilayah selat yang relatif sempit seperti ini. Artinya, ada perubahan pola yang perlu kita waspadai,” katanya.
Menghadapi potensi kejadian serupa di masa depan, Syamsidik menekankan pentingnya kajian teknis mendalam untuk menetapkan standar baru mitigasi bencana. Kajian tersebut diperlukan agar pembangunan infrastruktur ke depan mampu menahan bencana ekstrem dan melindungi masyarakat.
“Tantangan kita ke depan cukup kompleks. Mitigasi harus berbasis kajian ilmiah agar ketika bencana ini berulang, dampaknya tidak separah sekarang,” pungkasnya.










Discussion about this post