MASAKINI.CO – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memantau sebanyak 26 titik panas (hotspot) yang tersebar di sejumlah wilayah di Provinsi Aceh. Pantauan tersebut berdasarkan data satelit pada 1 Februari 2026 periode pukul 00.00 hingga 23.00 WIB.
Forecaster on duty Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda (SIM) Aceh, Fitriana Nur, menjelaskan bahwa titik panas terdeteksi melalui pemantauan sensor satelit MODIS (Terra, Aqua, dan Suomi NPP) serta NOAA20/VIIRS. Dari hasil pantauan tersebut, sebagian besar hotspot berada pada tingkat kepercayaan sedang, sementara satu titik tercatat pada tingkat kepercayaan rendah.
Sebaran titik panas paling banyak terpantau di Kabupaten Aceh Selatan, khususnya di Kecamatan Trumon, dengan belasan titik terdeteksi di wilayah tersebut.
Selain itu, titik panas juga ditemukan di Aceh Barat (Kecamatan Meureubo), Aceh Besar (Kota Jantho), Aceh Jaya (Setia Bakti), Aceh Tengah (Bintang, Celala, Ketol, dan Pegasing), Aceh Timur (Julok), Aceh Utara (Sawang), Bener Meriah (Mesidah), serta Pidie (Padang Tiji).
BMKG menjelaskan bahwa keberadaan titik panas menunjukkan adanya indikasi peningkatan suhu permukaan yang dapat berkaitan dengan aktivitas pembakaran lahan atau kondisi lahan yang relatif kering. Namun demikian, titik panas tidak serta-merta dapat disimpulkan sebagai kebakaran, dan tetap memerlukan verifikasi lapangan oleh pihak terkait.
Masyarakat, khususnya di wilayah yang terpantau memiliki titik panas, diimbau untuk tidak melakukan pembakaran lahan serta tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan. Pemerintah daerah dan instansi terkait juga diharapkan dapat melakukan langkah antisipasi dini guna mencegah meluasnya dampak kebakaran.
BMKG akan terus memantau perkembangan titik panas di wilayah Aceh dan menyampaikan pembaruan informasi secara berkala kepada masyarakat.










Discussion about this post