MASAKINI.CO – Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Aceh meluncurkan film dokudrama berjudul “NOEH” sebagai bagian dari kampanye penghapusan praktik pasung terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Film ini diproduksi langsung oleh RSJ Aceh dan melibatkan puluhan pasien dalam proses pembuatannya.
Peluncuran film berlangsung di Ruang Rapat Tata Usaha RSJ Aceh, Kamis (12/2/2026). Film tersebut dijadwalkan tayang perdana pada Jumat, 13 Februari 2026 pukul 20.30 WIB di halaman RSJ Aceh dan terbuka untuk masyarakat.
Sutradara film, Davi Abdullah, menjelaskan bahwa NOEH diangkat dari berbagai kisah nyata yang ditemukan melalui riset dan observasi lapangan. Cerita dalam film dirangkai dari pengalaman ODGJ dan keluarga mereka, yang kemudian disusun menjadi skenario melalui proses pengumpulan data, penyusunan kerangka cerita, hingga penulisan naskah.
“Film ini lahir dari fakta di lapangan. Kami melakukan riset dan observasi, lalu merangkainya menjadi satu alur cerita yang utuh,” kata Davi.
Ia menyebut, pemilihan judul NOEH memiliki makna khusus. Dalam bahasa Aceh, kata tersebut merujuk pada pasung berbahan kayu yang masih digunakan di sejumlah tempat. Menurut Davi, praktik tersebut tidak lagi dapat dibenarkan karena bertentangan dengan nilai kemanusiaan dan hak asasi manusia.
Melalui film ini, tim produksi ingin menyampaikan dua pesan utama, yakni mendorong penghapusan pasung serta mengurangi stigma terhadap ODGJ yang masih kuat di tengah masyarakat.
“Masih ada anggapan bahwa ODGJ harus diasingkan atau dipasung. Itu kenyataan yang kami temukan. Film ini ingin menunjukkan bahwa mereka adalah manusia yang berhak mendapatkan perawatan, bukan pengucilan,” ujarnya.
Dalam proses produksi, puluhan pasien ODGJ dilibatkan sebagai talent. Selain itu, film ini juga didukung aktor lokal serta jajaran manajemen dan tenaga medis RSJ Aceh. Proses pengerjaan berlangsung selama beberapa bulan, mulai dari tahap riset hingga pascaproduksi.
Davi mengakui, produksi film tersebut menghadapi sejumlah kendala, seperti keterbatasan peralatan, pengaturan jadwal, faktor cuaca, hingga pendampingan pasien saat menjalani proses pengambilan gambar. Namun, seluruh tahapan dapat dilalui dengan dukungan tim dan pendampingan tenaga medis.
“Pendampingan menjadi bagian penting agar pasien merasa nyaman selama proses produksi,” tambahnya.
Sementara itu, Direktur RSJ Aceh, dr. Hanif, menyampaikan bahwa film NOEH bukan sekadar karya dokudrama, tetapi juga bagian dari upaya edukasi publik. Menurutnya, penghapusan pasung tidak hanya berdampak pada pasien, tetapi juga pada lingkungan sosial.
“Melepaskan pasung bukan hanya untuk pasien, tetapi juga untuk menjaga ketenangan masyarakat. ODGJ yang tidak ditangani dengan baik bisa berdampak pada lingkungan sekitar,” kata dr. Hanif.
Ia menegaskan, pendekatan medis dan perlakuan yang manusiawi menjadi solusi utama dalam penanganan ODGJ. Dengan penanganan yang tepat, pasien dapat memperoleh kesempatan untuk pulih dan kembali menjalani kehidupan secara lebih baik.
RSJ Aceh berharap film ini dapat menjadi sarana refleksi bersama, sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat bahwa praktik pasung masih terjadi dan perlu diakhiri.










Discussion about this post