MASAKINI.CO – Inovasi teknologi berbasis kepedulian sosial kembali lahir dari kampus. Tim Yareuu dari Universitas Syiah Kuala memperkenalkan BlindVision, tongkat pintar berbasis Arduino yang dirancang untuk membantu mobilitas siswa tunanetra di SLB Negeri Banda Aceh.
Peluncuran dan sosialisasi ini merupakan bagian dari implementasi Program The 6th Innovillage 2025. BlindVision dikembangkan sebagai solusi atas berbagai kendala mobilitas yang selama ini dihadapi siswa tunanetra, seperti sulitnya mendeteksi rintangan di depan, samping, maupun genangan air di sekitar mereka.
Dosen pembimbing Tim Yareuu, Ir. Febi Mutia, S.T., M.Sc, menjelaskan bahwa keterlibatan tim bermula dari Program Innovillage, sebuah program kolaborasi antara Telkom Indonesia dan Telkom University bersama sejumlah perguruan tinggi di Indonesia. Program ini mendorong lahirnya inovasi sosial berbasis teknologi digital.
“Dari ratusan tim yang mengikuti pitching, sebanyak 180 tim dinyatakan lolos pendanaan dan masuk tahap implementasi Innovillage 6th. Tim Yareuu menjadi salah satu yang terpilih,” ujar Febi, Minggu (1/3/2026).
Ia menjelaskan, setiap tahun Innovillage berfokus pada lima bidang utama, yakni lingkungan, kesehatan, pangan, UMKM dan perempuan, serta disabilitas. Tim Yareuu memilih tema inklusi disabilitas dan kemudian bermitra dengan SLB Negeri Banda Aceh.
Ketua Tim Yareuu, Frans Ryan Situmorang, mengatakan proses pengembangan BlindVision diawali dengan observasi dan wawancara sejak November 2025. Tim berdialog langsung dengan tujuh siswa tunanetra dan para guru untuk menggali kebutuhan nyata di lapangan.
“Hasil observasi menunjukkan banyak siswa kesulitan mendeteksi rintangan setinggi lutut, benda di samping, maupun genangan air. Dari situlah BlindVision kami rancang,” kata Frans.
BlindVision merupakan tongkat pintar berbasis Arduino yang dilengkapi sensor pada bagian utama. Alat ini mampu mendeteksi objek di depan dengan jarak 10–40 sentimeter, samping kanan 10–40 sentimeter, serta samping kiri 10–50 sentimeter. Saat mendeteksi rintangan, tongkat akan memberikan peringatan melalui getaran dan suara.
Selain itu, terdapat fitur alarm suara jika tongkat terjatuh. Sistem peringatan multi-indra berupa vibrasi dan audio dirancang agar pengguna memperoleh informasi lebih jelas dibandingkan tongkat konvensional yang hanya mengandalkan sentuhan fisik.
“Dengan deteksi lebih awal, pengguna memiliki waktu untuk merespons dengan lebih aman,” jelas Frans.
Dalam sesi praktik, tim mendemonstrasikan langsung cara kerja alat di hadapan siswa dan guru. Saat sensor mendeteksi kursi di depan, tongkat bergetar dan mengeluarkan suara peringatan. Sejumlah siswa tampak antusias mencoba alat tersebut dengan pendampingan guru.
Kepala SLB Negeri Banda Aceh, Nurlina, S.Pd, menyampaikan apresiasi atas inovasi tersebut. Menurutnya, BlindVision bukan hanya alat bantu mobilitas, tetapi juga media pembelajaran teknologi yang dapat meningkatkan rasa percaya diri siswa.
“Inovasi seperti ini membuka wawasan siswa bahwa teknologi dapat mendukung kemandirian mereka,” ujarnya.
Febi menegaskan bahwa BlindVision dirancang dengan teknologi yang terjangkau, mudah dirakit, serta bersifat open-source sehingga dapat dikembangkan lebih lanjut. Ia berharap inovasi ini dapat direplikasi dan dimanfaatkan lebih luas.
“Teknologi harus inklusif. Ia tidak hanya untuk mereka yang mampu melihat, tetapi juga untuk mereka yang ingin melangkah lebih jauh tanpa rasa takut,” katanya.










Discussion about this post