MASAKINI.CO – Potensi kekeringan mulai mengintai Indonesia seiring prediksi kemunculan fenomena El Nino pada Mei 2026. Kondisi ini diperkirakan akan menurunkan curah hujan dan memperpanjang musim kemarau di sejumlah wilayah.
El Nino merupakan fenomena iklim global yang menyebabkan pergeseran massa udara pembawa hujan ke wilayah Pasifik tengah hingga timur. Dampaknya, wilayah Indonesia cenderung mengalami penurunan intensitas hujan hingga berisiko kekurangan air.
Staf data dan informasi klimatologi, BMKG Stasiun Klimatologi, Nur Irfan Wicaksono, menyebutkan saat ini kondisi ENSO masih berada pada fase netral. Namun, dalam waktu dekat diprediksi akan beralih menjadi El Nino dengan kategori lemah.
“Perubahannya diperkirakan mulai terjadi pada Mei dan berkembang secara bertahap hingga pertengahan tahun,” ujarnya, Kamis (16/4/2026).
Ia menjelaskan, El Nino terbagi dalam tiga kategori, yakni lemah, moderat, dan kuat. Pada kategori lemah, dampak penurunan curah hujan biasanya masih terbatas. Namun, jika meningkat menjadi moderat atau kuat, dampaknya bisa lebih luas, termasuk kemarau panjang dan kekeringan di berbagai daerah.
Meski diperkirakan masih dalam kategori lemah, potensi penurunan curah hujan tetap perlu diantisipasi sejak dini, terutama di wilayah yang selama ini rentan kekeringan.
Sejumlah langkah mitigasi dinilai perlu segera dilakukan, mulai dari penghematan penggunaan air, menjaga ketersediaan sumber air bersih, hingga meningkatkan pemantauan kondisi cuaca secara berkala.
Selain itu, pemerintah juga didorong untuk menyiapkan langkah antisipatif guna meminimalkan dampak yang mungkin terjadi, khususnya di sektor pertanian dan kebutuhan air masyarakat.
Dengan potensi El Nino yang mulai terbentuk, kewaspadaan dini menjadi kunci agar dampak kekeringan tidak meluas dan dapat ditekan sejak awal.










Discussion about this post