MASAKINI.CO – Cakupan imunisasi dasar lengkap bayi di Aceh berada di titik kritis. Hingga 2026, angkanya baru mencapai 1,9 persen, menempatkan Aceh di peringkat ke-37 dari 38 provinsi di Indonesia.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Aceh, Iman Murahman, menegaskan rendahnya capaian ini bukan semata persoalan akses, tetapi lebih pada penolakan dari orang tua.
“Banyak orang tua menolak imunisasi karena takut efek samping dan tidak memahami manfaatnya. Ini yang menjadi hambatan utama,” ujarnya, Sabtu (18/4/2026).
Menurutnya, kondisi ini berisiko serius terhadap kesehatan anak, karena bayi yang tidak diimunisasi rentan terpapar penyakit menular yang seharusnya bisa dicegah sejak dini.
Data Dinkes Aceh menunjukkan kesenjangan antarwilayah masih tinggi. Beberapa daerah seperti Lhokseumawe, Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Bener Meriah, dan Aceh Singkil mencatat capaian relatif lebih baik. Namun, daerah seperti Pidie, Sabang, dan Bireuen masih tertinggal jauh.
Dinkes Aceh kini memperketat strategi dengan mendorong intervensi langsung ke daerah berisiko rendah cakupan imunisasi, termasuk melalui pendekatan pemerintah daerah dan penguatan edukasi masyarakat.
“Kalau penolakan ini tidak diatasi, target tidak akan tercapai. Padahal kita menargetkan minimal 50 persen bayi mendapat imunisasi lengkap tahun ini,” kata Iman.
Ia menekankan, tanpa perubahan pola pikir masyarakat, rendahnya imunisasi berpotensi memicu peningkatan kasus penyakit yang sebenarnya dapat dicegah.
Pemerintah pun didorong untuk tidak hanya fokus pada program, tetapi juga memperkuat komunikasi publik agar masyarakat memahami bahwa imunisasi adalah kebutuhan dasar, bukan pilihan.







Discussion about this post