MASAKINI.CO– Penurunan angka kelahiran di Indonesia semakin dipengaruhi perubahan pola usia perempuan saat melahirkan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, angka kelahiran pada perempuan usia muda, terutama 15–19 tahun dan 20–24 tahun, menurun signifikan.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, kondisi tersebut menjadi salah satu pendorong turunnya Total Fertility Rate (TFR) nasional. Perempuan Indonesia kini cenderung menunda kelahiran hingga memasuki usia yang lebih matang.
“Penurunan TFR ini didorong oleh angka kelahiran pada perempuan kelompok umur 15 sampai 19 tahun dan 20 sampai 24 tahun yang menurun secara signifikan. Sekarang kecenderungannya adalah perempuan melahirkan pada usia yang lebih matang,” kata Amalia, mengutip infopublik.id, (24/7/2026).
Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 menunjukkan, TFR perempuan usia 15–49 tahun tercatat 2,13 anak per perempuan. Angka ini menurun dibandingkan hasil Sensus Penduduk 2020, namun masih berada pada tingkat replacement level atau tingkat penggantian penduduk.
Di tengah penurunan kelahiran pada kelompok usia muda, BPS justru mencatat peningkatan angka kelahiran pada perempuan berusia 25–29 tahun. Data kelahiran periode Juli 2022 hingga Juni 2025 juga menunjukkan mayoritas bayi di Indonesia lahir dari ibu berusia 25–34 tahun.
“Artinya, usia produktif perempuan untuk melahirkan saat ini didominasi kelompok umur 25 sampai dengan 34 tahun,” ujar Amalia.
Menurut BPS, perubahan pola tersebut menunjukkan adanya pergeseran fertilitas di Indonesia. Perempuan semakin banyak menunda kehamilan dan kelahiran hingga memasuki usia dewasa yang lebih matang. Namun, jumlah kelahiran kembali menurun cukup tajam setelah perempuan memasuki usia 35 tahun.
SUPAS 2025 juga mencatat jumlah penduduk Indonesia telah mencapai 284,67 juta jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,08 persen. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan lima tahun sebelumnya.
Meski secara nasional angka kelahiran menurun, kondisi fertilitas di setiap daerah masih berbeda. Pulau Jawa umumnya memiliki TFR lebih rendah dibandingkan wilayah lainnya, sementara sejumlah provinsi di kawasan timur Indonesia masih mencatat tingkat fertilitas yang lebih tinggi.
Papua Pegunungan menjadi provinsi dengan TFR tertinggi, yakni 2,78 anak per perempuan. Sementara itu, DKI Jakarta mencatat TFR terendah sebesar 1,79.
Sejumlah provinsi lain, seperti Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Jawa Tengah, Jawa Barat, Bali, Banten, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta, juga telah mencatat TFR di bawah angka penggantian penduduk sebesar 2,1.
SUPAS 2025 dilaksanakan pada Juni–Juli 2025 di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota dengan melibatkan 664.640 rumah tangga sampel.
Amalia mengatakan, hasil survei tersebut menjadi dasar penting bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan kependudukan dan kesehatan. Data itu juga digunakan untuk menyesuaikan intervensi dalam Kerangka Kerja Nasional Penurunan Kematian Ibu dan Anak Tahun 2026–2030 dengan karakteristik demografi masing-masing daerah.










Discussion about this post