MASAKINI.CO – Setelah berbulan-bulan mengikuti pembelajaran di bawah tenda akibat bencana, siswa SD Negeri 10 Linge, Kabupaten Aceh Tengah, mulai mendapatkan ruang belajar yang lebih layak. Empat unit Ruang Kelas Darurat (RKD) di Desa Jamat kini telah digunakan untuk mendukung proses belajar mengajar.
Fasilitas tersebut menjadi langkah awal pemulihan pendidikan bagi siswa yang terdampak banjir di Kecamatan Linge pada akhir 2025. Sebelumnya, kegiatan belajar terpaksa dilakukan di dua lokasi tenda, yakni Tenda 01 di Desa Reje Payung dan Tenda 02 di Desa Jamat.
Kepala SDN 10 Linge, Nurdin, mengatakan keberadaan RKD menjadi perubahan besar bagi siswa yang sebelumnya harus belajar dengan keterbatasan di bawah tenda.
“Anak-anak yang sebelumnya belajar di Tenda 01 sekarang bisa mengikuti pelajaran dengan kondisi yang lebih nyaman,” kata Nurdin.
Ia menyebut pihak sekolah sebelumnya mengajukan kebutuhan 11 ruang kelas darurat, yakni tujuh unit untuk siswa di Tenda 01 dan empat unit untuk siswa di Tenda 02. Namun, hingga saat ini baru empat unit yang terealisasi dan telah dimanfaatkan.
“Siswa di Tenda 02 masih menunggu pembangunan ruang kelas darurat agar seluruh peserta didik dapat belajar di tempat yang lebih aman,” ujarnya.
Pemenuhan ruang kelas darurat menjadi bagian dari percepatan pemulihan pendidikan pascabencana di wilayah Sumatra. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Sekretariat Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) sebelumnya melakukan pemetaan kebutuhan RKD di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Dari total kebutuhan 343 ruang kelas darurat pada 106 satuan pendidikan, sebanyak 313 RKD di 89 satuan pendidikan telah terpenuhi. Sementara 30 RKD pada 17 satuan pendidikan masih dalam proses pemenuhan.
Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto, menegaskan pemulihan fasilitas pendidikan menjadi prioritas agar anak-anak terdampak bencana tidak kehilangan hak belajar.
“Perbaikan sarana dan prasarana bukan hanya soal bangunan, tetapi juga bagaimana membangkitkan semangat belajar peserta didik,” ujar Gogot.
Sementara itu, Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatra terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan berbagai pihak untuk mempercepat pembangunan ruang kelas darurat yang masih dibutuhkan.
Pemerintah menargetkan seluruh sekolah terdampak bencana di Sumatra dapat kembali menjalankan pembelajaran dalam lingkungan yang aman dan layak, sehingga tidak ada lagi siswa yang harus belajar di bawah tenda.










Discussion about this post