MASAKINI.CO – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI, Abdul Mu’ti, menargetkan sebagian besar sekolah terdampak bencana di Kabupaten Pidie dapat kembali digunakan secara normal pada tahun ajaran baru 2026/2027.
Hal itu disampaikan Abdul Mu’ti saat meninjau progres pembangunan sekolah terdampak bencana sekaligus meresmikan secara simbolis sejumlah sekolah yang telah selesai direvitalisasi, Senin (22/6/2026).
Didampingi Kepala Dinas Pendidikan Aceh Murtalamuddin dan Wakil Bupati Pidie Alzaizi, rombongan mengunjungi SD Negeri Utue di Desa Seuriweuk, Kecamatan Pidie, dan SMK Negeri 3 Pidie yang menjadi lokasi peresmian simbolis hasil revitalisasi sekolah.
“Kami menargetkan pada tahun 2026 ini, saat tahun ajaran baru dimulai, sebagian besar sekolah sudah selesai dibangun sehingga kegiatan belajar mengajar dapat kembali berlangsung secara normal,” kata Abdul Mu’ti.
Abdul Mu’ti mengatakan revitalisasi sekolah merupakan bagian dari upaya pemerintah mempercepat pemulihan sarana pendidikan yang terdampak bencana di Aceh agar proses belajar mengajar dapat kembali berjalan optimal. Hari ini, Mendikdasmen meresmikan 21 sekolah di Pidie hasil revitalisasi anggaran 2025.
“Hari ini kita meresmikan secara simbolis sekolah yang telah selesai direvitalisasi dan meninjau sekolah yang sedang dibangun dengan anggaran revitalisasi tahun 2026,” kata Abdul Mu’ti.
Menurutnya, pemerintah menargetkan sebagian besar pembangunan sekolah terdampak bencana dapat diselesaikan pada tahun ini sehingga siswa dapat kembali belajar di fasilitas yang lebih aman dan layak.
Abdul Mu’ti menjelaskan, sekolah yang masih memungkinkan dibangun di lokasi lama sebagian besar telah selesai atau sedang dalam tahap akhir pengerjaan. Sementara untuk sekolah yang harus direlokasi ke lokasi baru, proses pembangunan masih berlangsung karena membutuhkan penyiapan lahan dan tahapan konstruksi tambahan.
Untuk menjamin proses belajar tetap berjalan, pemerintah telah mengganti tenda darurat dengan ruang kelas darurat yang dinilai lebih representatif dan nyaman digunakan siswa.
“Tenda-tenda darurat yang sebelumnya digunakan sudah kami tiadakan. Sebagai gantinya disediakan ruang kelas darurat yang lebih layak agar kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung dengan baik,” katanya.
Menurut Abdul Mu’ti, ruang kelas darurat tersebut hanya bersifat sementara dan direncanakan digunakan maksimal dua tahun hingga pembangunan sekolah permanen selesai dilakukan.
Ia berharap seluruh proses revitalisasi, rehabilitasi, dan rekonstruksi sekolah dapat diselesaikan secepat mungkin sehingga peserta didik di Aceh, khususnya di Pidie, dapat kembali belajar secara normal di sekolah masing-masing.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Aceh, Pemerintah Kabupaten Pidie, serta jajaran TNI yang terlibat dalam percepatan revitalisasi, rehabilitasi, dan rekonstruksi sekolah.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Aceh, pemerintah daerah, dan jajaran TNI yang telah bermitra dengan Kementerian dalam mempercepat pembangunan sekolah-sekolah terdampak bencana,” ujarnya.









Discussion about this post