MASAKINI.CO – Motif budaya tidak hanya menjadi hiasan pada sebuah benda, tetapi merekam perjalanan sejarah, kreativitas, dan identitas masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di Kota Sabang, kekayaan motif lokal mulai diarahkan menjadi produk kreatif yang memiliki nilai budaya sekaligus peluang ekonomi.
Beragam jejak kreativitas masyarakat masa lalu dapat ditemukan pada berbagai peninggalan budaya, mulai dari batu nisan, rumah dan masjid, naskah kuno, senjata tradisional hingga perhiasan. Ragam motif yang melekat pada benda-benda tersebut menjadi bukti bahwa kemampuan masyarakat dalam menciptakan karya visual telah berkembang sejak ratusan tahun lalu.
Kini, motif-motif tersebut kembali mendapat perhatian melalui upaya dokumentasi dan pengembangan agar tidak hanya menjadi bagian dari catatan sejarah, tetapi juga dapat diolah menjadi produk kreatif yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Salah satu pengembangan motif lokal tersebut dilakukan pelaku seni asal Kota Sabang, Surya Fitriadi, melalui karya yang dikenal dengan “Batik Sabang”. Karya tersebut telah mendapatkan perlindungan hak cipta sebagai bentuk pengakuan terhadap kreativitas dan kekayaan intelektual lokal.
Namun, perjalanan mengembangkan karya kreatif tidak selalu mudah. Surya menilai masih dibutuhkan dukungan lebih besar agar pelaku seni lokal memiliki ruang berkembang, baik melalui pembinaan, promosi, akses pasar, maupun kesempatan memperkenalkan karya di tingkat nasional dan internasional.
Menurutnya, penghargaan terhadap karya kreatif tidak seharusnya berhenti ketika sebuah inovasi berhasil meraih prestasi. Dukungan lanjutan diperlukan agar karya tersebut dapat berkembang menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi dan memberikan manfaat bagi penciptanya.
“Apresiasi bukan hanya ketika karya mendapatkan penghargaan, tetapi bagaimana setelah itu ada ruang bagi pelaku seni untuk berkembang, memperluas jaringan, dan membawa karya tersebut lebih jauh,” ujar Surya.
Potensi serupa juga terlihat dari karya Kudus Nazardi, maestro kerajinan kayu kelapa yang mengembangkan motif khas Bungong U. Tidak hanya menghasilkan karya bernilai seni, inovasi tersebut juga diarahkan menjadi bagian dari pengembangan ekonomi masyarakat.
Karya Kudus Nazardi yang telah memperoleh perlindungan paten pada 2022 dinilai memiliki peluang besar untuk berkembang lebih luas. Dengan dukungan produksi, peningkatan kualitas, penguatan desain, serta strategi pemasaran yang tepat, kerajinan kayu kelapa tersebut berpotensi memasuki pasar yang lebih besar.
Ketua Tim Peneliti, Prof. Inayatillah, mengatakan Sabang memiliki kekuatan yang tidak hanya berasal dari potensi alam, tetapi juga dari sumber daya manusia kreatif yang mampu menghasilkan inovasi bernilai tinggi.
Menurutnya, pemerintah perlu menghadirkan program yang mampu mempertemukan potensi alam dengan kreativitas masyarakat agar kekayaan intelektual lokal dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi.
“Ketika inovasi masyarakat mendapatkan ruang, perlindungan, pembinaan, dan akses pasar, maka kekayaan intelektual lokal tidak berhenti sebagai karya, tetapi dapat menjadi sumber ekonomi dan identitas daerah,” katanya.
Ia menjelaskan, pengembangan karya lokal membutuhkan ekosistem yang lengkap, mulai dari pendataan dan perlindungan kekayaan intelektual, pengembangan desain, peningkatan kualitas produk, promosi, hingga proses hilirisasi.
Dengan pendekatan tersebut, karya budaya tidak hanya disimpan sebagai warisan, tetapi mampu hadir dalam kehidupan masyarakat melalui produk yang memiliki nilai estetika dan ekonomi.
Sabang dinilai memiliki peluang besar untuk menjadikan karya kreatif lokal sebagai wajah baru ekonomi daerah. Kolaborasi antara pemerintah, pelaku seni, pengrajin, komunitas kreatif, dan masyarakat menjadi kunci agar karya lokal tidak berhenti sebagai simbol budaya, tetapi mampu menciptakan peluang usaha dan meningkatkan kesejahteraan.










Discussion about this post