MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Jumat, September 11, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home Nasional

IDRiM 2026: Dampak Bencana Tak Cukup Diukur Lewat Angka

Ahmad Mufti by Ahmad Mufti
11 September 2026
in Nasional
0

Salah satu sesi International Disaster and Risk Management Conference (IDRiM) 2026 di Aula Joop Ave, Politeknik Pariwisata Bali, Nusa Dua, Badung, Bali, Rabu (9/9/2026). | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Jumlah rumah yang rusak, nilai kerugian ekonomi, hingga kebutuhan biaya pemulihan selama ini menjadi ukuran utama dalam melihat dampak sebuah bencana. Namun, angka ternyata belum mampu sepenuhnya menggambarkan pengalaman manusia yang kehilangan, beradaptasi, dan berjuang setelah bencana terjadi.

Persoalan tersebut menjadi pembahasan pada salah satu sesi yang diadakan oleh Flood Impacts, Carbon Pricing, and Ecosystem Sustainability (FINCAPES) di International Disaster and Risk Management Conference (IDRiM) 2026 yang berlangsung di Aula Joop Ave, Politeknik Pariwisata Bali, Nusa Dua, Badung, Bali, Rabu (9/9/2026).

RelatedPosts

Pertamina Patra Niaga Operasikan 350 Kapal Tanker untuk Jaga Pasokan Energi Nasional

11 Kapal Dikerahkan untuk Cari Lima Jurnalis Hilang Kontak Saat Liput Gunung Anak Krakatau

BSI Siapkan Tabungan Bebas Biaya Admin untuk Perluas Akses Keuangan Masyarakat

Hadir sebagai pembicara, Dr. Danang Teguh Qoyyimi dari Departemen Matematika Universitas Gadjah Mada yang membahas pengukuran risiko melalui pendekatan data dan pemodelan, fotografer dokumenter Yo Fauzan yang menghadirkan perspektif pengalaman penyintas bencana, serta Arif Budi Darmawan dari Resilience Development Initiative (RDI) yang mengulas peran pendekatan kualitatif dalam membaca persoalan sosial akibat bencana.

Danang mengatakan, data dan pemodelan tetap menjadi bagian penting dalam memahami risiko bencana. Melalui pendekatan tersebut, pemerintah dapat memperkirakan potensi kerugian dan menyusun kebijakan, termasuk dalam menentukan strategi pendanaan risiko bencana.

Fauzan menjelaskan karyanya yang dipajang di stand pameran FINCAPES kepada pengunjung IDRiM 2026 di Aula Joop Ave, Politeknik Pariwisata Bali, Nusa Dua, Badung, Bali, Rabu (9/9/2026). | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Namun, ia mengakui model berbasis angka memiliki keterbatasan karena dibangun dari sejumlah asumsi yang belum tentu sepenuhnya menggambarkan kondisi nyata di lapangan.

“Perhitungan kita selalu memasukkan asumsi, dan terkadang asumsi tersebut meninggalkan banyak detail atau kesenjangan antara apa yang kita modelkan dan apa yang ingin kita temukan,” ujarnya.

Menurut Danang, pendekatan kuantitatif tidak dapat berdiri sendiri. Data akan menjadi lebih kuat apabila dipadukan dengan informasi yang menggambarkan kondisi sosial masyarakat terdampak.

“Perspektif kuantitatif sebenarnya tidak terlalu jauh dari perspektif kualitatif. Jika keduanya digabungkan, estimasi yang dihasilkan mungkin akan lebih baik,” katanya.

Sementara itu, fotografer dokumenter Fauzan menyoroti sisi kemanusiaan yang sering kali tidak terlihat dalam angka statistik. Melalui proyek fotografi And Yet, Here, ia berusaha menghadirkan cerita para penyintas bencana, termasuk masyarakat yang terdampak banjir di Aceh.

Menurut Fauzan, dokumentasi bencana tidak hanya bertujuan menunjukkan besarnya kerusakan, tetapi juga merekam perubahan kehidupan manusia setelah bencana.

“Saya tidak mencoba menunjukkan skala besar bencana itu sendiri. Saya ingin merepresentasikan manusia,” ujarnya.

Fauzan menjelaskan karyanya yang dipajang di stand pameran FINCAPES kepada pengunjung IDRiM 2026 di Aula Joop Ave, Politeknik Pariwisata Bali, Nusa Dua, Badung, Bali, Senin (7/9/2026). | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Ia mengatakan, kehilangan akibat bencana tidak selalu dapat dihitung melalui kerusakan fisik maupun nilai ekonomi. Ada pengalaman, trauma, dan perubahan kehidupan yang hanya dapat dipahami melalui cerita langsung masyarakat.

“Apa yang ingin saya tunjukkan dalam foto adalah kehilangan mereka, mungkin bukan dalam angka dan mungkin bukan dalam bentuk fisik. Tetapi mereka merasakan kehilangan itu,” kata Fauzan.

Pandangan serupa disampaikan Arif Budi Darmawan. Menurutnya, analisis berbasis angka dan perhitungan kerugian memang diperlukan untuk menggambarkan dampak bencana, tetapi memiliki keterbatasan dalam memahami pengalaman masyarakat secara mendalam.

“Metodologi atau metode hanyalah alat untuk menangkap realitas,” ujarnya.

Arif menjelaskan, pendekatan kualitatif melalui wawancara, observasi, dan keterlibatan langsung dengan masyarakat dapat mengungkap berbagai persoalan yang sulit diterjemahkan dalam angka, seperti kondisi kelompok rentan, perubahan hubungan sosial, hingga hambatan pemulihan.

Ia mencontohkan kerusakan sekolah akibat bencana. Data dapat menunjukkan jumlah bangunan yang terdampak, tetapi belum tentu menjelaskan bagaimana anak-anak kehilangan akses belajar dan bagaimana keluarga menghadapi kondisi tersebut.

“Tidak semua hal dapat dikuantifikasi. Ada beberapa aspek yang hanya dapat ditangkap melalui foto, observasi, dan metode kualitatif atau deskriptif,” katanya.

Diskusi tersebut menegaskan bahwa pendekatan kuantitatif dan kualitatif bukan dua hal yang saling bertentangan, melainkan dapat saling melengkapi dalam memahami bencana.

Data dan model membantu melihat besarnya risiko serta kerugian, sementara pendekatan sosial dan pengalaman manusia memberikan gambaran mengenai dampak yang dirasakan masyarakat.

Tags: Dampak BencanaData dan KemanusiaanIDRiM 2026Pemulihan Pascabencanarisiko bencana
Previous Post

Reza Idria Dilantik Jadi Wakil Rektor III UIN Ar-Raniry

Next Post

Pertamina Patra Niaga Operasikan 350 Kapal Tanker untuk Jaga Pasokan Energi Nasional

Related Posts

Pakar Soroti Pengetahuan soal Bencana Belum Berubah Menjadi Aksi

by Ahmad Mufti
7 September 2026
0

MASAKINI.CO – Pengetahuan untuk menghadapi perubahan iklim, risiko bencana, dan ancaman kesehatan sebenarnya sudah banyak tersedia. Namun, pengetahuan tersebut belum...

Koalisi Sipil Soroti Pemulihan Pascabencana Aceh, Sebut Dampak Ekologis Masih Berlangsung

by Aininadhirah
14 Agustus 2026
0

MASAKINI.CO – Koalisi Masyarakat Sipil Peduli Bencana menilai penanganan dampak bencana ekologis di Aceh belum sepenuhnya tuntas. Sejumlah persoalan seperti...

KKP Targetkan 15 Ribu Hektare Tambak Aceh Kembali Produktif Pasca Bencana

by Ahlul Fikar
31 Juli 2026
0

MASAKINI.CO – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan 15 ribu hektare tambak terdampak bencana di Aceh kembali berproduksi hingga akhir...

Next Post

Pertamina Patra Niaga Operasikan 350 Kapal Tanker untuk Jaga Pasokan Energi Nasional

Banda Aceh Usulkan Pembangunan Sekolah Nasional Terintegrasi

Discussion about this post

CERITA

Jumadin Bawa Kupiah Meukeutop Aceh Menatap Pasar Dunia

25 Agustus 2026

Dari Banda Aceh ke Pelosok Papua, Reza Mencari Potensi yang Tersembunyi di Teluk Wondama

12 Agustus 2026

Sepuluh Tahun Menjaga Tradisi Merah Putih, Kisah Safura Merawat Rezeki dari Lapak Bendera

4 Agustus 2026

Liberika Tangse, Kopi Langka Beraroma Nangka

20 Juli 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co

 

Memuat Komentar...