MASAKINI.CO – Jumlah rumah yang rusak, nilai kerugian ekonomi, hingga kebutuhan biaya pemulihan selama ini menjadi ukuran utama dalam melihat dampak sebuah bencana. Namun, angka ternyata belum mampu sepenuhnya menggambarkan pengalaman manusia yang kehilangan, beradaptasi, dan berjuang setelah bencana terjadi.
Persoalan tersebut menjadi pembahasan pada salah satu sesi yang diadakan oleh Flood Impacts, Carbon Pricing, and Ecosystem Sustainability (FINCAPES) di International Disaster and Risk Management Conference (IDRiM) 2026 yang berlangsung di Aula Joop Ave, Politeknik Pariwisata Bali, Nusa Dua, Badung, Bali, Rabu (9/9/2026).
Hadir sebagai pembicara, Dr. Danang Teguh Qoyyimi dari Departemen Matematika Universitas Gadjah Mada yang membahas pengukuran risiko melalui pendekatan data dan pemodelan, fotografer dokumenter Yo Fauzan yang menghadirkan perspektif pengalaman penyintas bencana, serta Arif Budi Darmawan dari Resilience Development Initiative (RDI) yang mengulas peran pendekatan kualitatif dalam membaca persoalan sosial akibat bencana.
Danang mengatakan, data dan pemodelan tetap menjadi bagian penting dalam memahami risiko bencana. Melalui pendekatan tersebut, pemerintah dapat memperkirakan potensi kerugian dan menyusun kebijakan, termasuk dalam menentukan strategi pendanaan risiko bencana.

Namun, ia mengakui model berbasis angka memiliki keterbatasan karena dibangun dari sejumlah asumsi yang belum tentu sepenuhnya menggambarkan kondisi nyata di lapangan.
“Perhitungan kita selalu memasukkan asumsi, dan terkadang asumsi tersebut meninggalkan banyak detail atau kesenjangan antara apa yang kita modelkan dan apa yang ingin kita temukan,” ujarnya.
Menurut Danang, pendekatan kuantitatif tidak dapat berdiri sendiri. Data akan menjadi lebih kuat apabila dipadukan dengan informasi yang menggambarkan kondisi sosial masyarakat terdampak.
“Perspektif kuantitatif sebenarnya tidak terlalu jauh dari perspektif kualitatif. Jika keduanya digabungkan, estimasi yang dihasilkan mungkin akan lebih baik,” katanya.
Sementara itu, fotografer dokumenter Fauzan menyoroti sisi kemanusiaan yang sering kali tidak terlihat dalam angka statistik. Melalui proyek fotografi And Yet, Here, ia berusaha menghadirkan cerita para penyintas bencana, termasuk masyarakat yang terdampak banjir di Aceh.
Menurut Fauzan, dokumentasi bencana tidak hanya bertujuan menunjukkan besarnya kerusakan, tetapi juga merekam perubahan kehidupan manusia setelah bencana.
“Saya tidak mencoba menunjukkan skala besar bencana itu sendiri. Saya ingin merepresentasikan manusia,” ujarnya.

Ia mengatakan, kehilangan akibat bencana tidak selalu dapat dihitung melalui kerusakan fisik maupun nilai ekonomi. Ada pengalaman, trauma, dan perubahan kehidupan yang hanya dapat dipahami melalui cerita langsung masyarakat.
“Apa yang ingin saya tunjukkan dalam foto adalah kehilangan mereka, mungkin bukan dalam angka dan mungkin bukan dalam bentuk fisik. Tetapi mereka merasakan kehilangan itu,” kata Fauzan.
Pandangan serupa disampaikan Arif Budi Darmawan. Menurutnya, analisis berbasis angka dan perhitungan kerugian memang diperlukan untuk menggambarkan dampak bencana, tetapi memiliki keterbatasan dalam memahami pengalaman masyarakat secara mendalam.
“Metodologi atau metode hanyalah alat untuk menangkap realitas,” ujarnya.
Arif menjelaskan, pendekatan kualitatif melalui wawancara, observasi, dan keterlibatan langsung dengan masyarakat dapat mengungkap berbagai persoalan yang sulit diterjemahkan dalam angka, seperti kondisi kelompok rentan, perubahan hubungan sosial, hingga hambatan pemulihan.
Ia mencontohkan kerusakan sekolah akibat bencana. Data dapat menunjukkan jumlah bangunan yang terdampak, tetapi belum tentu menjelaskan bagaimana anak-anak kehilangan akses belajar dan bagaimana keluarga menghadapi kondisi tersebut.
“Tidak semua hal dapat dikuantifikasi. Ada beberapa aspek yang hanya dapat ditangkap melalui foto, observasi, dan metode kualitatif atau deskriptif,” katanya.
Diskusi tersebut menegaskan bahwa pendekatan kuantitatif dan kualitatif bukan dua hal yang saling bertentangan, melainkan dapat saling melengkapi dalam memahami bencana.
Data dan model membantu melihat besarnya risiko serta kerugian, sementara pendekatan sosial dan pengalaman manusia memberikan gambaran mengenai dampak yang dirasakan masyarakat.










Discussion about this post