MASAKINI.CO – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan 15 ribu hektare tambak terdampak bencana di Aceh kembali berproduksi hingga akhir 2026. Pemulihan tambak ini menjadi salah satu langkah pemerintah untuk menggerakkan kembali ekonomi masyarakat pesisir yang bergantung pada sektor perikanan.
Program tersebut merupakan bagian dari upaya percepatan pemulihan ekonomi melalui Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera.
Pada tahap awal, KKP menargetkan 5.200 hektare tambak dapat kembali beroperasi paling lambat September 2026. Hingga akhir Juli, sebanyak 694 hektare tambak di Aceh telah mulai difungsikan kembali melalui penebaran benih udang, bandeng, kakap, dan nila salin.
Sekretaris Jenderal KKP, Andy Artha Donny Oktopura, mengatakan pemulihan tambak tidak hanya berfokus pada perbaikan infrastruktur, tetapi juga memastikan masyarakat dapat kembali memperoleh penghasilan dari usaha perikanan.
“Tujuan kami bukan sekadar memperbaiki tambak, tetapi memastikan masyarakat kembali berproduksi. Setelah rehabilitasi selesai, kami juga menyiapkan bantuan benih dan pakan agar petambak bisa langsung memulai budidaya,” ujar Andy, mengutip infopublik.id, Jumat (31/7/2026).
Untuk mempercepat proses rehabilitasi, KKP mengerahkan 12 unit ekskavator ke wilayah terdampak di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Dari jumlah tersebut, delapan unit difokuskan untuk memperbaiki tambak di sejumlah kabupaten di Aceh.
Selain pemulihan tambak, KKP juga menyalurkan bantuan sarana produksi perikanan berupa mesin kapal dan 100 unit kotak pendingin berkapasitas 300 liter kepada nelayan di Kabupaten Bireuen dan Aceh Utara.
Bantuan tersebut diharapkan dapat meningkatkan produktivitas nelayan sekaligus menjaga kualitas hasil tangkapan sebelum dipasarkan.
Pengaktifan kembali tambak diperkirakan memiliki dampak ekonomi besar bagi masyarakat. Dengan teknologi budidaya tradisional plus, satu hektare tambak diproyeksikan mampu menghasilkan sekitar 600 kilogram udang dalam satu siklus budidaya selama tiga bulan. Dengan harga rata-rata Rp50 ribu per kilogram, potensi omzet dapat mencapai sekitar Rp30 juta per hektare dalam satu siklus panen.
Seluruh bantuan benih, pakan, dan sarana produksi diberikan tanpa biaya kepada petambak. Pemerintah juga menyiapkan pendampingan melalui penyuluh perikanan bersama pemerintah daerah agar proses budidaya berjalan hingga masa panen.
Petambak asal Pidie Jaya, Fazil, mengaku bantuan tersebut menjadi modal penting untuk kembali menjalankan usaha setelah tambaknya terdampak bencana.
“Bantuan benih dan pakan ini sangat membantu kami untuk kembali beroperasi. Saya yakin tiga bulan ke depan sudah bisa panen,” katanya.
Selain sektor perikanan, pemulihan ekonomi Aceh juga dilakukan melalui sektor perkebunan. Kementerian Pertanian menyiapkan empat juta bibit kopi untuk rehabilitasi kebun di kawasan Gayo sebagai upaya mengembalikan produktivitas petani komoditas unggulan tersebut.
Kepala Posko Satgas PRR Wilayah Aceh, Safrizal ZA, mengatakan bantuan produktif akan terus diperluas untuk mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat terdampak bencana.
“Untuk kawasan Gayo, sebanyak empat juta bibit kopi sudah siap disalurkan. Ini bagian dari upaya menstimulasi, mempercepat, dan memulihkan kembali perekonomian Aceh yang sempat terdampak,” ujar Safrizal.










Discussion about this post