MASAKINI.CO – Fenomena El Nino dapat menjadi ancaman bagi industri biodiesel berbasis kelapa sawit. Dampaknya terhadap produksi crude palm oil (CPO) disebut baru terasa sekitar tujuh hingga delapan bulan setelah fenomena tersebut terjadi, ketika penurunan pasokan berpotensi mendorong harga sawit hingga 30–35 persen.
Dikutip dari website Majalah Sawit Indonesia, Analis Senior dan Advisor Glenauk Economics Malaysia, Mrs. Leow Huey Chuen, menyampaikan hal tersebut dalam 6th Palm Biodiesel Conference 2026 di Nusa Dua, Bali, Jumat (18/9/2026).
Dalam sesi “Global Palm Bioenergy Outlook: Yields, Innovation, and B50 Mandate Execution”, Leow menjelaskan dampak El Nino terhadap produksi sawit tidak berlangsung secara langsung. Terdapat jeda waktu sebelum gangguan cuaca tersebut memengaruhi produksi dan pasokan CPO.
Menurut Leow, penurunan pasokan akibat El Nino secara historis dapat memicu kenaikan harga kelapa sawit hingga 30–35 persen. Kondisi tersebut kemudian berpotensi menekan margin keekonomian industri biodiesel karena harga bahan baku ikut meningkat.
“Secara historis sejak 2019, hanya ada empat periode singkat di mana kelapa sawit secara alami memiliki keekonomian yang sangat kompetitif untuk biodiesel. Saat ini kita menikmati harga yang relatif kompetitif akibat dinamika geopolitik dan harga minyak mentah di Timur Tengah, tetapi situasi ini tidak berada di zona aman dan bisa berubah sewaktu-waktu,” ujar Leow, dikutip dari Majalah Sawit Indonesia.
Risiko tersebut menjadi perhatian karena harga CPO merupakan salah satu faktor utama dalam keekonomian biodiesel berbasis sawit. Ketika produksi terganggu dan pasokan berkurang, kenaikan harga bahan baku dapat membuat biaya produksi biodiesel ikut meningkat.
Leow juga menilai kondisi pasar saat ini belum sepenuhnya aman dari perubahan harga. Dinamika geopolitik dan harga minyak mentah memang membuat sawit relatif kompetitif sebagai bahan baku biodiesel, tetapi kondisi tersebut dapat berubah sewaktu-waktu.
Di tengah risiko tersebut, penyerapan CPO melalui pasar domestik dinilai penting bagi keberlangsungan industri biodiesel Indonesia. Kebijakan mandatori biodiesel, termasuk pelaksanaan B50, menjadi salah satu penopang permintaan ketika pasar global menghadapi berbagai ketidakpastian.
Selain menjaga permintaan, peningkatan produktivitas kebun sawit juga dinilai menjadi langkah penting untuk menghadapi risiko penurunan produksi. Indonesia, Malaysia, dan Thailand sebagai negara produsen utama didorong meningkatkan yield lahan agar produksi dapat lebih efisien dan mampu menjaga daya saing industri.










Discussion about this post