MASAKINI.CO – Kaligrafi digital turut dilombakan dalam cabang Khattil Quran pada Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-35 Kabupaten Aceh Besar. Selain menguasai aplikasi desain, peserta harus memahami kaidah penulisan kaligrafi Arab dan menghasilkan karya yang orisinal.
Dewan juri cabang Khattil Quran, Tarmizi Rasyid (48), mengatakan kaligrafi digital berkembang seiring kemajuan teknologi. Berbeda dengan golongan dekorasi yang menggunakan media tripleks dan kontemporer yang dikerjakan di atas kanvas, kaligrafi digital dibuat menggunakan perangkat elektronik, seperti laptop dan iPad.
Peserta juga perlu menguasai aplikasi desain, seperti Adobe Photoshop dan Corel. Namun, kemampuan mengoperasikan perangkat lunak saja tidak cukup karena ketepatan penulisan kaligrafi tetap menjadi unsur penting dalam penilaian.
“Bukan cuma ilmu IT yang harus dikuasai, tetapi mereka juga harus mendalami ilmu kaligrafi dan penulisannya,” kata Tarmizi saat diwawancarai, Kamis (29/10/2026).
Menurutnya, penilaian kaligrafi digital memiliki sejumlah kesamaan dengan golongan kontemporer, terutama dalam aspek warna dan komposisi visual. Meski dikerjakan menggunakan teknologi, karya tetap harus mengikuti kaidah khat atau teknik penulisan kaligrafi Arab.
Tantangan lain muncul dari perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Tarmizi mengingatkan peserta agar tidak sekadar mengandalkan teknologi untuk menghasilkan karya secara instan, apalagi mengambil karya milik orang lain.
“Keaslian hasil karya itu sangat menentukan. Penggunaan AI maupun pengerjaan secara manual dapat diketahui oleh dewan hakim,” ujarnya.
Pada MTQ ke-35 Aceh Besar, cabang Khattil Quran diikuti 64 peserta yang terbagi dalam lima golongan, yakni naskah, hiasan mushaf, dekorasi, kontemporer, dan digital. Perlombaan berlangsung di Dayah Daruzzahidin, Lamceu, Kecamatan Kuta Baro.
Babak final yang berlangsung hari ini, diikuti 18 peserta dari tiga golongan, yaitu naskah, hiasan mushaf, dan kontemporer. Masing-masing golongan mengirimkan enam finalis. Sementara itu, golongan dekorasi dan digital tidak melalui babak final karena jumlah pesertanya relatif sedikit.
Dari delapan dewan juri cabang Khattil Quran, dua di antaranya merupakan juri muda. Tarmizi berharap regenerasi tersebut diikuti dengan meningkatnya minat generasi muda untuk mempelajari kaligrafi.
Ia juga menilai dukungan pemerintah dan penguatan pembelajaran kaligrafi di sekolah formal penting untuk menjaga keberlanjutan seni tersebut. Menurutnya, belajar kaligrafi bukan hanya untuk mengikuti perlombaan, tetapi juga sebagai upaya memperindah tulisan ayat-ayat Al-Quran.










Discussion about this post