MASAKINI.CO – Lima Sekolah Rakyat permanen yang dibangun Kementerian Pekerjaan Umum (PU) di Aceh telah beroperasi dan dimanfaatkan oleh 1.932 siswa dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.
Kelima sekolah tersebut tersebar di Kabupaten Bireuen, Aceh Besar, Nagan Raya, Kota Lhokseumawe, dan Kota Subulussalam. Pembangunannya dilaksanakan melalui Satuan Kerja Pelaksanaan Prasarana Strategis Aceh.
Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Prasarana Strategis Aceh, Syarifah Rahimah, mengatakan seluruh sekolah yang dibangun pada tahap kedua tersebut telah digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.
“Kelima lokasi yang dibangun pada tahap kedua ini sudah beroperasi dan telah dimanfaatkan oleh siswa,” kata Syarifah, Senin (2/11/2026).
Berdasarkan data yang disampaikan Syarifah, jumlah siswa di lima sekolah tersebut terdiri atas 434 orang di Bireuen, 426 orang di Aceh Besar, 341 orang di Lhokseumawe, 330 orang di Nagan Raya, dan 401 orang di Subulussalam.
Setiap kompleks Sekolah Rakyat dirancang dengan sistem berasrama yang mengintegrasikan jenjang pendidikan SD, SMP, dan SMA. Masing-masing sekolah memiliki kapasitas hingga 1.080 siswa. Dengan demikian, lima sekolah tersebut diproyeksikan mampu menampung total 5.400 siswa.
Program Sekolah Rakyat diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem, khususnya kelompok desil 1 dan 2. Dalam program ini, Kementerian PU bertanggung jawab membangun sarana dan prasarana, sedangkan pengelolaan serta operasional pendidikan berada di bawah Kementerian Sosial.
Fasilitas yang tersedia mencakup gedung pendidikan untuk jenjang SD, SMP, dan SMA, asrama putra dan putri, serta rumah susun guru. Kompleks sekolah juga dilengkapi gedung serbaguna, masjid, kantin, dapur, gudang, lapangan olahraga, dan berbagai fasilitas penunjang lainnya.
Salah satu sekolah yang telah beroperasi adalah Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Nagan Raya di Kecamatan Suka Makmue. Wakil Humas sekolah tersebut, M Rizki Asyifa, mengatakan kehadiran Sekolah Rakyat membuka kesempatan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk kembali mengakses pendidikan.
Menurut Rizki, sejumlah siswa sebelumnya belum memiliki kemampuan dasar membaca dan berhitung. Melalui pendampingan di sekolah, mereka mulai mendapatkan pembelajaran sesuai kebutuhan masing-masing.
“Dengan adanya sekolah ini, mereka bisa kembali merasakan bangku pendidikan. Ada siswa yang sebelumnya belum bisa membaca dan berhitung, tetapi sekarang sudah mulai kami ajarkan,” kata Rizki.
Selain pendidikan formal, siswa juga mendapatkan fasilitas asrama, pakaian sekolah, kebutuhan pribadi, serta makanan tiga kali sehari dan makanan ringan dua kali sehari.
Pihak sekolah turut memberikan pendampingan untuk membantu siswa beradaptasi dengan kehidupan asrama. Pada masa awal pendidikan, orang tua diberi kesempatan mengunjungi anak-anak mereka setiap Sabtu dan Ahad.
Pembinaan juga dilakukan melalui kegiatan keagamaan, pengajian setelah salat Subuh dan Magrib, serta pendampingan wali asuh dan wali asrama untuk membangun kedisiplinan dan kemandirian siswa.
“Alhamdulillah, beberapa di antaranya sudah bisa membaca. Jadi, kehadiran Sekolah Rakyat ini sangat membantu anak-anak yang sebelumnya tidak mendapatkan akses pendidikan,” ujar Rizki.









Discussion about this post