MASAKINI.CO – Penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam kerja jurnalistik perlu dilakukan secara hati-hati, terutama ketika memasukkan data mentah atau naskah yang belum dipublikasikan ke dalam platform tersebut. Hal ini dikhawatirkan dapat menimbulkan risiko penyalahgunaan data hingga plagiarisme.
Wartawan senior, Adi Warsidi, mengatakan setiap media memiliki kebijakan berbeda dalam mengatur penggunaan AI di lingkungan redaksi. Sebagian redaksi bahkan melarang penggunaan AI secara menyeluruh, sementara media lainnya masih memberikan ruang dengan batasan tertentu.
“Ada sebagian redaksi yang melarang total penggunaan AI dan hanya boleh apabila kehilangan kemampuan berkosa kata. Sebagian media membenarkan untuk persentase kecil, sekitar 10 persen. Ada juga yang memakai untuk mengolah grafis dan memberikan keterangan terkait itu, dengan penulisan fakta dilakukan oleh jurnalis,” ujar Adi, Sabtu (7/11/2026).
Ia mengingatkan jurnalis agar tidak sembarangan memasukkan data mentah ke dalam platform AI, termasuk naskah yang belum dipublikasikan meskipun hanya untuk memperbaiki kesalahan pengetikan atau typo.
“Hati-hati melemparkan data mentah ke AI, data mentah yang tidak di-publish walaupun hanya untuk memperbaiki typo dalam naskah. Karena data itu akan dipakai oleh AI ke depannya. Dan kemungkinan terkena plagiasi itu ada karena data tersebut terlanjur diinput oleh AI,” katanya.
Menurut Adi, risiko tersebut perlu menjadi perhatian jurnalis karena informasi yang dimasukkan ke dalam platform AI berpotensi digunakan dalam pengembangan sistem, bergantung pada kebijakan dan pengaturan layanan yang digunakan.
Ia juga menyebutkan, perkembangan teknologi mendorong hadirnya layanan naskah berbayar yang dikembangkan untuk membatasi pengambilan atau penyalinan konten oleh sistem AI. Salah satunya melalui pembatasan akses terhadap data sehingga konten tidak dapat disalin secara langsung oleh teknologi tersebut.







Discussion about this post