MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Kamis, November 5, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home Cerita

Menakar Jaminan Kesehatan di Pulau Terluar

Riska Zulfira by Riska Zulfira
28 Agustus 2023
in Cerita, Headline
0

Warga Pulo Aceh, Aceh Besar sedang menjalani pemeriksaan kesehatan di Puskesmas setempat.(masakini.co/Riska Zulfira)

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Usai takbir berhenti berkumandang. Jumat malam. Jelang hari bersalin tanggal. Afifuddin menahan sakit di pahanya.

Pria 57 tahun itu butuh penanganan medis segera. Tapi sang anak, Mukhlis (28) tak berdaya membantu. Puskesmas tutup. Lagi pula saat itu, malam kedua Idul Adha 1444 H.

RelatedPosts

Yusril Sebut Dugaan Penyadapan Presiden Mengarah pada Indikasi Makar

Lima Tersangka Korupsi Proyek Jalan di Simeulue Ditahan, Kerugian Negara Rp851,9 Juta

Lima Sekolah Rakyat di Aceh Beroperasi, Sudah Tampung 1.932 Siswa

Maksud hati ringankan derita sang ayah, Mukhlis memberinya obat pereda nyeri yang didapatnya dari mantri. Tapi tensimeter menebar ketakutan, menunjuk angka hingga 200. Jelas sekeluarga panik.

“Setelah diberikan obat oleh mentri gampong, kondisi juga semakin drop, seperti tidak berefek obatnya,” kata Munir, pekan terakhir Agustus lalu.

Mendadak tubuhnya terbujur kaku. Hanya jari-jari tangan dan kaki, yang dapat digerakkan.

“Tetapi bicaranya sangat lancar saat itu,” ucap Mukhlis.

Pagi hari, Mukhlis mendatangi Puskesmas Pulo Aceh di Desa Lampuyang, Aceh Besar. Ia meminta agar bapaknya dirujuk ke rumah sakit di ibu kota provinsi, Banda Aceh.

Naas. Di pulau yang menghadap Samudera Hindia itu, listrik padam. Internet karam. Sementara surat rujukan harus dilayangkan Puskesmas secara online. Terpaksa petugas menyiapkannya manual.

“Kebetulan saat itu kondisi listrik tidak baik, kadang sehari sampai lima kali padam,” ujarnya.

Dengan ambulans laut yang langsung ditunggangi bapak mertuanya, Dailami. Mukhlis bersama ibu, abang kandungnya serta didampingi petugas medis Puskesmas bergerak menuju Rumah Sakit Kesdam, Banda Aceh.

“Kondisi bapak juga sudah tidak stabil, 95 persen sudah tak bisa gerak lagi,” imbuh Mukhlis.

Setelah menjalani perawatan selama empat hari, kini kondisi Afifuddin berangsur membaik. Dokter yang menangani minta agar Afifuddin melakukan kontrol ulang setiap hari Kamis.

“Maka kami seminggu sekali ke Banda Aceh untuk ambil obat,” tuturnya.

Afifuddin diagnosa menderita stroke. Butuh biaya besar mengobatinya. Beruntungnya, warga Desa Lampuyang, Kecamatan Pulo Aceh ini terdaftar sebagai penerima manfaat Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dari BPJS Kesehatan.

Mukhlis bersyukur pemerintah menjalankan program Kartu Indonesia Sehat (KIS). Program itu menyentuh masyarakat kecil hingga ke desanya, warga mendapatkan layanan kesehatan secara gratis.

“JKN sangat membantu masyarakat yang dari ekonomi lemah seperti kami, karena semua gratis,” ucapnya haru. “Kami sangat berterima kasih kepada BPJS Kesehatan, sekarang bapak sudah kembali sehat.”

Warga sedang mengurus administrasi di Puskesmas Pulo Aceh.(masakini.co/Riska Zulfira)

Menunggangi Lamuri Jalani Misi Emergensi

Pagi itu, Dailaimi sedang menyeruput secangkir kopi. Menikmati hari kedua Idul Adha. Tiba-tiba ponselnya berdering.

Di balik seluler terdengar suara anaknya. Ia mengabari mertuanya diserang stroke. Butuh segera dirujuk ke Banda Aceh. Sebagai nahkoda ambulans laut KM Lamuri, siap siaga.

Usai menjalani standar prosedur rujukan, Dailami menjalani misi emergensi. Ia masih ingat, waktu itu, besannya sudah tak bisa bergerak.

“Kami menggotong pasien untuk dinaikkan dalam boat ambulans karena korban tidak bisa gerak sama sekali,” kata Dailami.

Pasien ditidurkan di atas ranjang berukuran 50 centimeter dengan panjang 170 centimeter di dalam Kapal yang dinakhodainya. Di sana hanya memuat delapan hingga 10 penumpang termasuk ABK.

Saat berlayar. Ombak setinggi 1,5 meter datang menyerang bergantian. Suasana dalam ambulans laut mencekam.

Normalnya perjalanan dari Pulo Aceh ke Banda Aceh butuh 30 menit, tapi saat itu habis waktu 1,5 jam.

Sebelum menjadi nahkoda ambulans laut, Dailami berprofesi sebagai nelayan. Sejak umur 27 tahun, ia telah menjadi pawang. Namun bencana tsunami telah menyebabkan dirinya kehilangan pekerjaan.

Berbekal boat kayu yang selamat, ia diminta membantu pasien mendesak untuk dirujuk. Namun setelah boat rusak, ia beralih profesi sebagai cleaning servis (CS) di Puskesmas Pulo Aceh.

“Saya jadi CS tahun 2012 dengan gaji hanya Rp800 ribu,” sebutnya.

Tahun 2021 Pemkab Aceh Besar menganggar ambulans laut untuk warga Pulo Aceh. Berbekal pengetahuan sebagai pawang laut selama 23 tahun, Dailami ditunjuk sebagai nahkoda, berstatus tenaga kontrak di Puskesmas Pulo Aceh.

Bertugas membawa pasien rujukan, Dailami tak punya jadwal kerja. Bisa jadi sehari sekali, tiga hari sekali bahkan pernah dalam sebulan hanya empat kali. Itu tergantung adanya pasien emergensi.

Pasien yang dirujuk hanya diantar hingga tiba di pelabuhan. “Ketika pasien yang dirujuk sampai maka selesai juga tugas,” ucapnya.

Dailami menegaskan, bagi pasien rujukan tidak dikenakan biaya transportasi sama sekali. Semua ditanggung Puskesmas. Namun apabila jenazah yang dibawa pulang ke Pulo Aceh, maka dikenakan biaya sebesar Rp2 juta.

“Karena ambulans laut khusus untuk emergensi, namun jika pasien sudah sembuh atau jenazah maka dikenakan biaya,” jelasnya.

Walau cuaca buruk sering melanda, dirinya mengaku akan tetap setia mengantar pasien siang atau malam. “Terkadang perjalanan sangat mulus seperti jalan tol,” kata Dailami sambil tertawa.

Warga Pulo Aceh saat berobat di Puskesmas setempat.(masakini.co/Riska Zulfira)

Anti Ribet Bersama Pandawa dan Chika

BPJS Kesehatan Cabang Kota Banda Aceh, terus berupaya keras memperluas jangkauan layanan di daerah Tertinggal, Terdepan dan Terluar (3T). Bahkan sempat upayakan “jemput bola” di Pulo Aceh.

Sebelumnya, sebanyak 700 jiwa warga di Pulau Breuh dan Pulau Nasi belum terdaftar JKN tahun 2019. Tapi di pulau berpenduduk 4.767 jiwa hingga Agustus 2023 itu, kini penerima manfaat JKN-KIS telah sebanyak 4.579 jiwa. Artinya, warga yang belum terdaftar hanya 188 jiwa.

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Kota Banda Aceh, dr.Neni Fajar berharap masyarakat Pulo Aceh yang belum menjadi peserta JKN segera mendaftar.

Ia memastikan layanan BPJS Kesehatan mudah bahkan untuk diakses di pulau 3T sekalipun. Saat ini, untuk urusan administrasi dapat mengakses kanal layanan tanpa tatap muka yang dinamai Pandawa. Warga dapat mengakses lewat whatsapp 0811-8165-165.

“Untuk melakukan pengecekan keaktifan kepesertaannya tidak perlu datang ke kantor BPJS Kesehatan, pengecekan dapat dilakukan dengan memanfaatkan layanan berbasis digital seperti aplikasi JKN, Chat Assistant JKN (Chika),” katanya.

Ia menambahkan, kehadiran Kartu Indonesia Sehat (KIS) sangat bermanfaat bagi masyarakat kurang mampu. Apalagi masyarakat yang membutuhkan dana pengobatan dalam jumlah besar. Maka biaya pengobatan tetap ditanggung penuh BPJS Kesehatan.

“Diagnosa penyakit sampai penyakit yang membutuhkan biaya besar atau katastropik yang sesuai dengan indikasi medis ditanggung BPJS Kesehatan, dan itu sesuai dengan Pasal 46-51 Perpres 82/2018 tentang Jaminan Kesehatan,” jelasnya.

Sebagai daerah terpencil, dan memerlukan transportasi laut, keberadaan jasa pengangkutan pasien emergensi di Kecamatan Pulo Aceh sangat dibutuhkan.

dr Neni menerangkan, bagi masyarakat penggunaan jasa ambulans laut bagi pasien rujukan Pulo Aceh tak dikenakan biaya kepada masyarakat. Akan tetapi dapat digunakan acara gratis apabila pasien terdaftar sebagai penerima JKN.

“Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dalam hal ini Puskesmas Pulo Aceh melakukan pengklaiman ke BPJS Kesehatan untuk penjaminan layanan ambulans laut, jadi tidak dikenakan biaya,” pungkasnya.

Tags: BPJS KesehatanCHIKA BPJS KesehatanJaminan Kesehatan NasionalKartu Indonesia SehatKM LamuriPANDAWA BPJS KesehatanPulo AcehRujukan BPJS
Previous Post

Apa Motif Paspamres Praka Riswandi Manik Tega Membunuh Imam Masykur?

Next Post

14 Siswa Digunduli Guru Di Lamongan, Illiza: Itu Tindakan Tidak Terpuji

Related Posts

Program REHAB Bantu Peserta Atasi Tunggakan Iuran JKN

by Ahmad Mufti
30 Oktober 2026
0

MASAKINI.CO – Tunggakan iuran yang membuat kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) nonaktif tidak harus diselesaikan sekaligus. Melalui Program Rencana Pembayaran Bertahap...

JKN Lindungi Pasien dari Biaya Pengobatan Mahal, DPR RI Ajak Warga Banda Aceh Jadi Peserta

by Ahmad Mufti
17 Oktober 2026
0

MASAKINI.CO – Biaya pengobatan yang tinggi dapat menjadi beban berat bagi keluarga, terutama pasien yang membutuhkan perawatan rutin seperti cuci...

Pascabanjir, BPJS Kesehatan Permudah Akses Layanan JKN di Pidie

by Ahmad Mufti
14 Oktober 2026
0

MASAKINI.CO - BPJS Kesehatan Kabupaten Pidie hadir dalam Mal Pelayanan Publik (MPP) Peduli yang digelar Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan...

Next Post

14 Siswa Digunduli Guru Di Lamongan, Illiza: Itu Tindakan Tidak Terpuji

Wali Nanggroe Kecam Pembunuhan Warga Aceh Oleh TNI di Jakarta

Wali Nanggroe Kecam Pembunuhan Warga Aceh Oleh TNI di Jakarta

Discussion about this post

CERITA

Di Sudut Punti, Rindu yang Panjang Menemukan Tempat untuk Pulang

2 November 2026

Menyusuri Kisah di Balik Nama Pulau Rubiah

28 Oktober 2026

Dari Lumpur Banjir, Kebun Edukasi MIN 42 Bireuen Tumbuhkan Semangat Baru

27 Oktober 2026

Gampong Nusa, Merawat Tradisi Aceh Lewat Wisata Budaya dan Permainan Masa Kecil

26 Oktober 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co

 

Memuat Komentar...