MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Kamis, Juni 11, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home Cerita

Menjaga Sejarah Melawan Stigma

Ichsan Maulana by Ichsan Maulana
5 November 2024
in Cerita
0

Sarah Ulfa menjelaskan informasi sejarah kepada pengunjung History Expo VI 2024 | foto: Ichsan Maulana

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Delapan banner berdiri saling mengapit membentuk bintang segi empat. Berdiri di kaki tangga Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala (USK).

Jika dilihat dari atas, berdekatan banner ini, seakan bersenyawa dengan lekuk tangga, yang lengkungannya umpama bunga ‘peulupok’ logo USK.

RelatedPosts

Dari Lahan Penggembalaan ke Destinasi Favorit, Savana Indrapuri Sedot Ribuan Pengunjung

Dari Dapur Rumahan ke Tanah Suci, Keumamah Aceh Diburu Jemaah Haji

Menabung dari Lumpur Sawah, Halimah Berangkat Haji di Usia 85 Tahun

Pada tiap bilah banner, tersaji informasi sejarah. Lengkap dengan foto pahlawan dan ilustrasi perang.

Sejumlah siswa dengan pakaian batik, memperhatikan banner tersebut. Mereka beruntung, dilayani penuh kerendahan hati oleh Sarah Ulfa. Penanggung jawab History Expo VI 2024.

“Yang ini tahu? Teuku Umar. Bergabung dengan Belanda untuk mendapatkan senjata,” jelas Sarah, Selasa (5/11/2024).

Dara dengan senyum bersahaja itu, mengarahkan tanganya ke bilah banner peristiwa 1893.

Ia menjelaskan taktik Hit and Run Teuku Umar, sebuah strategi agen ganda. Foto di banner adalah potongan film Cut Nyak Dien. Dimana sosok Teuku Umar diperankan aktor kawakan, Slamet Rahardjo Djarot.

Nuansa sejarah kian terasa, sebab di sekeliling banner, di atas beberapa meja berlapis kain batik. Terdapat sejumlah replika sejarah.

Suasana History Expo VI 2024 dipotret dari atas FKIP USK | foto: Ichsan Maulana

“Replika sejarah sengaja dihadirkan, membantu pengunjung expo terpantik visualnya,” ujarnya.

Di meja pertama. Ada tujuh rempah dalam ‘bruk’ (batok kelapa). Berdekatan dengan ‘jeu ee’, alat tradisional Aceh untuk menampi beras. Satu kapal dengan lima layar putihnya.

Komposisi tersebut disempurnakan dengan informasi peta yang dibuat dari ketumbar. Bertuliskan: peta jalur kedatangan bangsa-bangsa barat di Indonesia.

Menurut Sarah, hal tersebut penting. Untuk menjembatani kegundahan hatinya, yang kian kemari, banyak generasi terkini mulai asing dengan alat-alat tradisional Aceh. Seperti jeu ee.

“Sedangkan ini, surat-surat diplomasi Aceh dulu kala,” ucapnya.

Mahasiswa semester 7 Pendidikan Sejarah itu sudah berada di meja yang lain. Menunjukkan copy-an print surat beraksara Arab. Ada stempel ‘Sinar Atjeh 1907’ di bagian kanan atas. Surat bersejarah ini, berdampingan dengan replika Benteng Indrapatra.

Sejuruh kemudian, Sarah sudah bergeser ke meja berbeda. Ada tiga replika di sana: Lonceng Cakradonya, Masjid Tuha Indrapuri, dan Masjid Raya Baiturrahman. Ketiga replika bangunan bersejarah ini, dibuat dengan tiga bahan: kardus, kertas, styrofoam.

“Mengapa harus sejarah Aceh?” tanya masakini.co.

“Agar generasi sekarang lebih mengenal indentitasnya. Banyak anak-anak sekarang lebih mengetahui negara luar. Mereka harus tahu, bahwa Aceh pernah hebat, makmur,” tutur Sarah.

History Expo VI sudah berjalan dua hari, dari delapan hari yang direncanakan. Kehadiran expo ini, menjadi ikhtiar Himpunan Mahasiswa Sejarah (Himas) untuk terus merawat sejarah, berbagi edukasi. Merangsang minat terhadap sejarah. Di tengah wajah sejarah, yang kini relatif terstigma kuno.

Bagi Sarah, sejarah adalah jalan takdir yang ia pilih. Cintanya untuk sejarah, telah terpatri sejak mengenyam bangku sekolah putih abu-abu. Waktu itu, G30S PKI merong-rong rasa penasarannya. Untuk tahu lebih tuntas.

Saat ini, ia sedang menggarap skripsi dengan judul: Dayat Hidayat Perantau dari Tanah Sunda ke Aceh, Hingga Membangun Sektor Pertanian di Indrapuri.

“Sebenarnya (materi) sejarah tidak membosankan. Tapi cara menyampaikan atau menyajikannya yang mungkin tidak menarik,” sebutnya.

Meski stigma tertinggal, dianggap sepi peminat.

Replika tiga bagunan sejarah Aceh | foto: Ichsan Maulana

Ia berbeda. Melihat dan meyakini sejarah punya masa depan yang cerah. Hadirnya ragam platform media sosial, dipandangnya menjadi medium berarti, untuk menyajikan sejarah dengan konten atau tampilan yang lebih menarik.

Optimisme Sarah, sejalan dengan pengakuan Ana. Siswi MAN 3 Banda Aceh yang sedari tadi menyimak penjelasan Sarah, atas setiap informasi dan benda-benda sejarah di Expo tersebut.

“Saya suka Sejarah. Buktinya saya hadir di sini,” aku Ana.

Siswi yang berdomisili di Ulee Kareng ini, mengikuti lomba cerdas cermat. Bagian dari rangkaian acara History Expo. Ada pula lomba bakiak, hingga bedah film Surat Kaleng.

Pilihan mata lomba Ana, sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan, bahwa siswi kelas X itu punya pengetahuan sejarah.

“Bagi saya yang tidak suka hitung-hitungan (eksakta). Sejarah lebih menarik. Lebih mudah saja. Karena saya suka menghafal. Meski banyak yang bilang (sejarah) membosankan,” bebernya.

Tags: Fakultas Keguruan Ilmu PendidikanHistory Expo VI 2024Universitas Syiah KualaUSK
Previous Post

Tiga Penyelundup Pengungsi Rohingya di Aceh Timur Ditangkap

Next Post

Main Judi Online, 10 Pemuda Nagan Raya Ditangkap Polisi

Related Posts

Polisi Periksa 15 Saksi Kasus Pembakaran Fakultas Pertanian USK, Kerugian Ditaksir Rp20 Miliar

by Redaksi
23 Mei 2026
0

MASAKINI.CO – Penyidik Satreskrim Polresta Banda Aceh telah memeriksa 15 saksi terkait kasus pembakaran Gedung Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala...

Mahasiswa USK Ikuti Seminar Editing Video Untuk Penguatan Dakwah Digital

by Riska Zulfira
3 Mei 2026
0

MASAKINI.CO – Sebanyak 50 mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK) dari berbagai jurusan mengikuti seminar dasar editing video. Kegiatan ini difokuskan...

Benahi Hulu–Hilir dan Bangun Sabo Dam, Strategi Baru Tekan Banjir di Aceh

by Riska Zulfira
15 April 2026
0

MASAKINI.CO – Upaya penanganan bencana di Aceh kini diarahkan lebih fokus pada pembenahan sistem sungai dan penguatan infrastruktur pengendali banjir....

Next Post
Main Judi Online, 10 Pemuda Nagan Raya Ditangkap Polisi

Main Judi Online, 10 Pemuda Nagan Raya Ditangkap Polisi

Lima Warga Banda Aceh Ditangkap Polisi Terkait Judi Online di Warnet

Discussion about this post

CERITA

Dari Lahan Penggembalaan ke Destinasi Favorit, Savana Indrapuri Sedot Ribuan Pengunjung

24 Mei 2026

Dari Dapur Rumahan ke Tanah Suci, Keumamah Aceh Diburu Jemaah Haji

19 Mei 2026

Menabung dari Lumpur Sawah, Halimah Berangkat Haji di Usia 85 Tahun

12 Mei 2026

Ranup yang Perlahan Asing di Tanahnya Sendiri

7 Mei 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co

 

Memuat Komentar...