MASAKINI.CO – Upaya penanganan bencana di Aceh kini diarahkan lebih fokus pada pembenahan sistem sungai dan penguatan infrastruktur pengendali banjir. Strategi ini mengemuka dalam forum CIVIL INSIGHT yang digelar Universitas Syiah Kuala, Selasa (14/4/2026).
Wakil Menteri Pekerjaan Umum, Diana Kusumastuti, turut hadir dalam acara tersebut. Ia menjelaskan bahwa penanganan pascabencana harus berorientasi pada pengurangan risiko, bukan sekadar perbaikan kerusakan.
“Penguatan ketahanan nasional harus dimulai dari pembangunan infrastruktur yang tangguh dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menyebutkan, langkah utama yang kini diprioritaskan adalah penanganan muara untuk memastikan aliran air dari hulu ke hilir berjalan lancar. Selain itu, pembangunan sabo dam dinilai penting untuk menahan sedimen yang kerap menyebabkan pendangkalan sungai dan memicu banjir.
Menurut Diana, upaya tersebut harus dibarengi dengan pembangunan hunian layak bagi korban agar masyarakat terdampak dapat segera kembali memiliki tempat tinggal yang aman, layak dan berkelanjutan. Selain itu percepatan perbaikan jalan dan jembatan, serta pemulihan fasilitas publik agar aktivitas masyarakat dapat segera pulih.
“Maka pengalaman Aceh ini menegaskan bahwa masa depan pembangunan harus dibangun di atas mitigasi resiko, infrastruktur tangguh dan kolaborasi yang kuat,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas PU Bireuen, Fadhli Amir, menambahkan bahwa sektor infrastruktur menjadi kebutuhan terbesar dalam pemulihan pascabencana. Ia menekankan penerapan konsep Build Back Better melalui relokasi kawasan rawan, normalisasi sungai, serta penguatan desain infrastruktur tahan iklim.
“Tentu sinergi lintas kewenangan dengan penyatuan dana APBN, APBD Provinsi dan Kabupaten untuk eksekusi masterplan secara serentak,” sebutnya.
Sementara itu, Kepala Departemen Teknik Sipil USK, Yusria Darma, menyebut forum ini menjadi ruang penting untuk merumuskan solusi berbasis kolaborasi lintas sektor.
“Kami ingin mendorong pemahaman bahwa pembangunan pascabencana harus dirancang lebih adaptif dan berkelanjutan,” katanya.
Selain membahas kebijakan, forum ini juga menghadirkan inovasi teknis, termasuk pengembangan rumah layak huni berbahan baja hollow sebagai alternatif hunian ramah lingkungan bagi masyarakat terdampak bencana. Rumah Layak Huni Baja Hollow ini merupakan suatu ide dan terbosan baru diciptakan oleh Tim Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala.
Rumah ini dibangun dengan penggunaan kayu yang seminimal mungkin atau dengan tanpa kayu sama sekali. Bahan utama yang digunakan dalam membangun rumah ini adalah baja hollow dengan berbagai ukuran yang sesuai dengan elemen bangunan rumah tersebut.









Discussion about this post